Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Selamat Tinggal Berita Dusta

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
29/12/2017 05:31
Selamat Tinggal Berita Dusta
(Thinkstock)

DENGAN rasa gundah, saya sebut 2017 sebagai tahun hoaks. Tahun penuh berita dusta. Tahun ketika kuasa jemari bersimaharajalela memproduksi hoaks hingga beranak pinak. Berita dusta telah menjadi jalan dan pilihan sebagian elite politik untuk menghantam lawan. Kita merasa ada yang 'meramu aneka bahan baku', dan agama kerap dipakai sebagai bungkusnya.

Namun, nilai-nilai ajarannya yang luhur kerap ditanggalkan.Agama pun jadi kehilangan tugas sucinya, sementara politik menjadi banal. Terasa terbelahan masyarakat yang panjang ini seperti menjadi targetnya. Bisnis berita dusta pun ditaksir bernilai tinggi. Entitas politik pun menjadi konsumennya yang utama. Penyebar berita dusta dan kebencian, semisal Saracen, yang diungkap polisi, katanya, memiliki ratusan ribu akun yang menjadi 'kaki tangan' menebar hoaks.

Terungkap pula ada 2.000 akun yang bertugas khusus untuk memojokkan agama Islam dan 2.000 akun pula untuk memojokkan agama Kristen, serta puluhan ribu akun dipakai untuk menyerang pemerintah, tokoh politik, dan lain-lain. Hoaks menjadi kecemasan. Sebab, berita dusta punya potensi menjadi fitnah, alat pembunuhan karakter.

Itu sebabnya banyak pihak mengkhawatirkan hoaks bisa menghancurkan peradaban. Dewan Pers Indonesia pun berkesimpulan berita dusta di negeri ini telah amat serius. Kini ada sedikitnya 40.000 media online. Namun, yang sudah terverifikasi oleh Dewan Pers sebagai media yang sebenarnya tak lebih dari 300.

Media online abal-abal inilah bisa menjadi ladang subur mengembangbiakkan berita dusta. Begitu suburnya hoaks di negeri ini, menjelang tutup tahun pun masih ada yang terus memproduksinya. Kali ini nama Sultan Hassanal Bolkiah dari Brunei Darussalam kena catut. Diberitakan Sultan memprotes pendeportasian Ustaz Abdul Somad oleh petugas Imigrasi Hong Kong.

Diberitakan, Sultan mengajak umat Islam Indonesia memboikot produk-produk Hong Kong. Ia diberitakan pula menyesalkan pemerintah Indonesia yang terkesan tak melindungi ulamanya. Berita ini telah menyebar ke mana-mana. Namun, menurut Rocky Gerung, "Hoaks terbaik ialah penguasa karena mereka memiliki seluruh peralatan untuk berbohong. Data statistik dia punya. Intelijen dia punya. Media dia punya," katanya.

Dari sisi peralatan yang dimiliki penguasa, Rocky betul. Terlebih di Masa Orde Baru, menggunakan seluruh peralatan untuk memproduksi berita dusta memang dilakukan, terutama setiap pemilu dengan manipulasi suara yang tak terbantahkan itu. Di era kini bukankah Presiden Joko Widodo sendiri menjadi salah satu korban hoaks juga?

Sejak maju sebagai calon presiden, Jokowi diberitakan sebagai anak anggota Partai Komunis Indonesia. Tahun 2017 berita itu pun viral di media sosial. Penulis buku Jokowi Undercover, Bambang Tri Mulyono, pendukung Prabowo Subianto, yang gencar memberitakan Jokowi anak PKI, telah masuk bui.

Hoaks mengepung kita, justru di tengah aktivitas keagamaan bangsa ini yang dinilai tengah meningkat. Kebohongan meruah justru ketika kejujuran (salah satu nilai utama dalam agama) tengah terus didakwahkan. Ada rumpang yang lebar antara yang diceramahkan para pendakwah dan yang dilakukan para penggemar hoaks.

Tak salah jika ada yang tak habis mafhum, betapa agama menjadi fondasi bernegara (Pancasila), tapi dalam politik berita bohong dipelihara. Di sini cara Nazi dibenci. Namun, ajarannya yakni mengulangi dusta, terus-menerus diikuti. Dalam propaganda sebagai senjata, kebenaran fakta memang sebagai musuhnya yang utama.

Saya tahu, 2018 pada pilkada serentak, hoaks tak akan berhenti diproduksi. Terlebih pada Pemilu 2019, bisa kian merajalela. Namun, optimisme tak boleh ditanggalkan. Karena itu, di akhir tahun ini saya ingin mengucapkan, 'Selamat tinggal hoaks'. Itu saja.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.