Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Abbott yang Abot

Djadjat Sudradjat/Dewan Redaksi Media Group
24/2/2015 00:00
Abbott yang Abot
(GRAFIS/SENO)
LAIN pemimpin lain rakyat. Itulah yang terjadi di Australia dalam merespons eksekusi mati yang diputus hukum Indonesia terhadap Andrew Chan dan Myuran Sukumaran. Perdana Menteri Australia Tony Abbott berang bukan kepalang. Ia mengungkit bantuan US$17 juta (sekitar Rp13 triliun) untuk tsunami Aceh pada 2004. Namun, hasil survei menunjukkan mayo ritas (52%) rakyat Australia setuju hukuman mati.

Survei SMS Morgan Poll itu melibatkan 2.123 warga Australia, 23-27 Januari 2015, sebagaimana dikutip laman Roy Morgan Research. Sikap setuju hukuman mati terhadap dua penyelundup heroin 8,2 kg itu menyeluruh di enam negara bagian, kecuali Victoria. Beverly Neal, seorang ibu di Melbourne, mengatakan, ''Mereka (Chan dan Sukumaran) ialah penjahat yang seolah-olah dijadikan pahlawan,'' ujarnya seperti dilansir News.com.au, Sabtu (21/2).

Neal punya pengalaman getir. Sang putri tercinta, Jeniffer Neal, 17, mahasiswi jurusan bisnis, pada 1987 tewas akibat overdosis heroin. Ia yakin, jika penjahat duo Bali Nine tak tertangkap, akan banyak nyawa terenggut. Neal minta orangtua kedua penjahat itu ikhlas. ''Mereka masih bisa mengucapkan selamat tinggal, sedangkan aku tidak,'' ujarnya.

Abbott telah minta maaf atas ucapannya, tapi ketersinggungan kita telanjur naik ke ubun-ubun. Para mahasiswa, aktivis, anggota DPR, dan akademisi satu suara: Abbott merendahkan Indonesia. Bantuan tsunami soal kemanusiaan, sedangkan hukuman mati kejahatan besar yang menghancurkan kemanusiaan. Jokowi pun kukuh, tak akan memberi grasi.

Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Aceh memelopori pengumpulan koin untuk membayar bantuan itu. Aksi itu merebak hingga Jakarta. ''Kita siap kembalikan dana itu dan kami meminta hukuman mati tetap dilanjutkan untuk menyelematkan generasi muda Aceh dan Indonesia,'' kata Ketua KAMMI Aceh Darlis Aziz.

'Gerakan koin' lewat media sosial dengan tagar #KoinUntukAustralia dan #KoinforAustralia plus gambar mulut Tonny Abbott diberi tanda silang merah menyulut pro-kontra di Australia. ''Anda akan mengumpulkan uang dan pejabat korup Anda akan menyimpannya,'' kicau Peter Johnson, pemilik akun @cree999.

Saya 'menikmati' kepanikan Tonny Abbott.Juga reaksi keras Presiden Brasil Dilma Rousseff yang menarik dubesnya dari Jakarta dan menolak surat kepercayaan Dubes RI untuk Brasil Toto Riyanto. Warga Brasil, Marco Archer, dihukum mati, Minggu (18/1), dan Rodrigo Gularte akan menyusul karena kejahatan narkotika.

Brasil, meski lebih keterlaluan, karena tak punya problem historis-psikologis seperti Australia yang bertetangga, tak menyulut kemarahan tinggi. Sejak dulu Indonesia-Australia kerap panas-dingin. Kala Orde Baru ada jenderal yang dengan santai bilang, ''Australia itu seperti usus buntu. Baru terasa sakit kalau masuk benda berbahaya.'' Mantan Wakil Presiden Adam Malik memperkuatnya, ''Kita baru tahu di sebelah selatan kita ada orang berkulit putih.''

Kini Australia mengusik lagi. Rakyat menjawab lewat berbagai aksi, termasuk aksi koin. Pemerintah cukup menjawab normatif. Ketika negara lain bereaksi keras karena kita menjalankan amanah konstitusi dengan teguh, artinya wibawa negara tengah ditegakkan. Para tetangga, termasuk Australia, sesungguhnya 'para penguji wibawa negara yang ampuh'. Asal kita tepat mengelolanya. Dengan hukuman mati ini, misalnya, PM Abbott terlihat sangat 'abot' (berat) menyikapinya.


Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.