Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Leisure Economy

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
23/12/2017 05:31
Leisure Economy
(ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)

DI tengah ekonomi yang tertekan, selalu ada yang bisa bertumbuh. Tahun ini kita melihat pariwisata menjadi salah satu sektor yang pertumbuhannya mencengangkan. Masyarakat yang sudah lelah dengan kondisi yang menekan memilih untuk menikmati hidup yang lebih menyenangkan.

Hampir semua sektor yang berhubungan dengan pariwisata menikmati dampak meningkatnya perjalanan. Sektor transportasi kita lihat tumbuh paling tinggi. Yang kurang bagus ialah industri perhotelan. Di era digital seperti sekarang, orang cenderung memilih untuk tidak menginap di hotel, tetapi nonhotel yang lebih murah.

Aplikasi perjalanan dan pariwisata seperti Airbnb dan Traveloka memberikan pilihan perjalanan wisata yang lebih efisien. Orang bisa memilih perjalanan sesuai dengan kebutuhan dan anggaran yang dimiliki. Namun, semua mengacu kepada apa yang disebut leisure economy.

Tidak usah heran apabila pariwisata kini menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar. Kalau kita lebih pandai mengelolanya, tidak mustahil pariwisata menjadi penyumbang devisa terbesar. Potensi pariwisata yang kita miliki memungkinkan kita menjualnya bukan hanya kepada wisatawan Nusantara, melainkan juga mancanegara.

Kunci utama untuk mencapai itu ialah pelayanan. Orang akan suka dan bahkan mau datang kembali untuk menikmati pariwisata Indonesia apabila pelayanannya luar biasa. Bali merupakan salah satu contohnya. Orang tidak bosan-bosan datang ke Bali karena pelayanan yang menyenangkan.

Kultur masyarakat Bali memang melayani. Mereka begitu terbuka kepada pendatang. Mereka tidak pernah 'iseng' dan mengganggu orang yang hendak berlibur. Masyarakat Bali bisa bertahan dengan tradisinya tanpa banyak terpengaruh oleh apa yang dibawa turis. Kita perlu menularkan kultur pariwisata yang melekat pada masyarakat Bali ke daerah-daerah lain.

Apalagi pemerintah sudah menetapkan 10 destinasi pariwisata baru. Kita berharap daerah-daerah bisa berkembang dengan pariwisata yang ada di daerah masing-masing. Tidak boleh kita lupakan, kita harus juga mendorong faktor penunjang pariwisata seperti industri transportasi.

Mulai perusahaan penerbangan, kereta, bus, hingga angkutan air, semua harus lebih profesional. Kunci utamanya lagi-lagi ialah pelayanan yang prima, service of excellence. Di sinilah sering kali kita menghadapi permasalahan. Kualitas pelayanan perusahaan penerbangan kita, misalnya, tidak konsisten.

Sering terjadi hal-hal yang membuat para penumpang mendapatkan pengalaman buruk. Ketika itu terjadi, tidak ada pejabat perusahaan yang bisa memberikan penjelasan memuaskan. Itu terjadi mulai penerbangan berbiaya murah sampai yang premium. Semua sering tergagap-gagap ketika menghadapi krisis.

Tidak ada orang yang tampil untuk menjelaskan dan memberikan kompensasi kepada penumpang agar kekecewaannya sedikit terobati. Kita lihat sekarang ini ketika banyak orang hendak pergi berlibur akhir tahun. Di tengah lonjakan jumlah penumpang, perusahaan penerbangan kita tidak siap untuk mengantisipasi.

Bahkan Kamis lalu, Garuda Indonesia melakukan pergantian sistem yang membuat pelayanan benar-benar amburadul. Penumpang yang seharusnya terbang Kamis malam baru bisa diterbangkan Jumat pagi. Semua penumpang dibiarkan menunggu sepanjang malam di bandar udara tanpa kejelasan.

Mereka tidak disediakan penginapan yang memadai, padahal jelas-jelas tidak mungkin lagi diterbangkan dini hari. Tidak dipikirkan bahwa saat hendak liburan seperti sekarang ini, banyak anak di bawah umur yang ikut dengan orangtuanya. Kita angkat kasus ini untuk menjadi pembelajaran agar kita lebih serius apabila ingin memanfaatkan leisure economy sebagai pendorong pertumbuhan.

Kita harus membangun ekosistem yang baik apabila kita ingin mengoptimalkan potensi pariwisata yang dimiliki. Tidak bisa kita menangani dengan asal-asalan. Kalau hanya mengandalkan kekayaan alam yang ada, kita tidak pernah akan memiliki keunggulan yang benar-benar bisa diandalkan.

Thailand, Malaysia, Vietnam, dan banyak negara lain juga memiliki alam seperti kita. Kekayaan alam itu harus diikuti dengan pelayanan yang prima. Kita perlu belajar dari Singapura. Negara kota ini sebenarnya tidak memiliki kekayaan alam yang bisa ditawarkan. Namun, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke negeri itu jauh di atas kita.

Mereka mengutamakan soal pelayanan serta pengelolaan event yang terjadwal dengan baik. Kalau kita bisa memperbaiki kelemahan yang ada, pariwisata kita pasti akan terbang tinggi.



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.