Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Enaknya Golkar

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
21/12/2017 05:31
Enaknya Golkar
(MI/MOHAMAD IRFAN)

PARTAI Golkar punya ketua umum baru. Dia ialah Airlangga Hartarto. Berakhirlah kehebatan Setya Novanto membikin pingsan partai besar itu. Munaslub yang mengukuhkan Airlangga itu kiranya bukti tersendiri bahwa Golkar bukan partai yang rawan pecah belah akibat kontroversi ketua umumnya.

Sekalipun tidak ada lagi superpower di dalam tubuh dewan pembina seberkuasa Pak Harto, Golkar partai yang mampu 'mengurus' gesekan elite serta 'mengelola' pertarungan pemilihan ketua umum dalam damai. Sejak reformasi Golkar punya lima ketua umum, termasuk Airlangga yang naik ke kursi itu dalam keadaan darurat karena Setya Novanto turun dengan tidak enak.

Padahal, Golkar merupakan partai yang puluhan tahun hidup enak, tapi mampu melewati yang tidak enak dengan cukup enak. Yang paling tidak enak tentu saja ketika Golkar dihujat seiring dengan jatuhnya Pak Harto. Namun, rakyat tidak punya urusan dengan hujatan itu. Hasil Pemilu 1999 Golkar merosot, tetapi masih berada di tempat enak dengan meraih suara terbanyak kedua setelah PDIP.

Dalam keadaan tidak enak, Ketua Umum Akbar Tandjung menjadi terdakwa, Golkar tetap enak karena Akbar tetap enak dalam kedudukannya sebagai Ketua DPR. Rakyat pun lagi-lagi tidak punya urusan dengan perkara hukum Ketua Umum Golkar itu. Hal itu dibuktikan dengan perolehan suara Golkar yang bahkan kembali berjaya meraih suara terbanyak dalam Pemilu 2004.

Dalam Pilpres 2004 Golkar mengusung Wiranto, capres hasil konvensi. Kalah. Dari lima pasangan calon, tidak ada yang memperoleh suara lebih dari 50% sehingga diselenggarakan pemilihan putaran kedua. Megawati-Hasyim Muzadi berhadapan dengan SBY-JK.
Akbar Tandjung membawa Golkar mendukung Megawati-Muzadi dan kalah.

Yang menang SBY-JK. Sekalipun di pihak yang kalah, Golkar lagi-lagi ikut enak duduk di pemerintahan SBY-JK. Bahkan JK yang tidak ikut konvensi Golkar dan bukan wapres dari Golkar malah terpilih menjadi Ketua Umum Golkar. Kalah dalam pilpres, tapi Golkar punya wapres dan sejumlah kursi di kabinet.

Enak banget nasib partai ini. Pada Pilpres 2009 Golkar memberlakukan ketentuan bahwa yang diusung menjadi capres Ketua Umum Golkar. JK berpasangan dengan Wiranto dan lagi-lagi kalah. Yang menang SBY-Boediono. Kendati kalah, Golkar kembali ikut berkuasa, duduk enak di kabinet.

Golkar turut mengusung Prabowo dalam Pilpres 2014. Lagi dan lagi dan lagi kalah. Itu terjadi di zaman Aburizal Bakrie sebagai Ketua Umum Golkar. Kendati tidak meraih suara terbanyak dalam pileg, Golkar kembali enak menjadi Ketua DPR yang diisi Setya Novanto. Pengisian kursi pimpinan DPR itu dibuat sedemikian rupa sehingga PDIP sebagai pemenang pemilu gigit jari.

Akan tetapi, berada di luar kekuasaan eksekutif tidak enak bagi Golkar. Partai ini tidak punya darah daging oposisi. Setya Novanto sebagai Ketua Umum Golkar mengubah haluan bergabung dengan Jokowi. Golkar kembali enak mendapat kursi menteri. Itulah Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto yang kini terpilih menjadi Ketua Umum Golkar.

Keenakan Golkar lebih dari itu. Sesungguhnya dan senyatanya Golkar punya dua kursi di kabinet Jokowi. Menko Maritim Luhut B Pandjaitan tidak pernah meninggalkan Golkar dan pula tidak pernah dipecat gara-gara menjadi orangnya Jokowi. Umur Kabinet Kerja tinggal 22 bulan.

Sedikit hari lagi tersisa untuk bekerja. Kiranya lebih baik Presiden Jokowi tidak melakukan perombakan kabinet, menggunakan momentum dan alasan karena Airlangga merangkap jabatan sebagai menteri dan ketua umum partai. Alasan itu bagus diterapkan di awal pemerintahan, tetapi merupakan kemewahan diterapkan di ujung pemerintahan.

Benarkah? Saya pikir semua itu alasan pragmatis. Dari sudut pandang prinsip dan idealisme, tidak ada yang mewah untuk menegakkan komitmen dan konsistensi. Waktu 22 bulan masih panjang untuk bekerja. Karena itu Airlangga sebaiknya diganti. Maka Golkar punya urusan enak untuk dua jabatan, mengisi Ketua DPR dan menghormati hak prerogatif presiden mengangkat menteri perindustrian yang baru.

Kiranya Presiden serentak juga perlu mengganti Menteri Sosial Khofifah yang mencalonkan diri menjadi Gubernur Jawa Timur. Mungkinkah posisinya di kabinet dinonaktifkan saja dan ia kembali aktif bila kalah dalam pilgub? Hemat saya, enak yang macam itu tidak ada dalam kamus kepemimpinan Jokowi.

Kabinet Kerja menjadi kabinet cacat bila ada menteri nonaktif alias tidak bekerja. Begitu resmi mendaftar menjadi cagub, Khofifah segera saja diganti.



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.