Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMACETAN Bangkok jauh lebih parah daripada Jakarta. Transportasi umum massal, baik mass rapid transit maupun light rail transit, tidak mampu mengurangi kemacetan. Rupanya siklus kemacetan itu kembali terjadi di Ibu Kota Thailand, itu setelah kemacetan sempat terurai saat transportasi umum massal selesai dibangun.
Satu yang menarik, di tengah kemacetan yang luar biasa, semua orang bisa sabar untuk mengantre. Nyaris tidak ada orang yang mencoba untuk menyerobot. Semua menerima keadaan untuk menunggu kesempatan keluar dari kemacetan. Itulah yang membedakan kemacetan di Bangkok dan Jakarta.
Kita di sini cenderung tidak sabar menghadapi kemacetan. Sedikit ada celah, orang mencoba untuk menyerobot. Bahkan tidak jarang orang menutup jalan orang lain hanya untuk bisa lebih cepat keluar dari kemacetan. Sikap yang tidak sabar akhirnya menyebabkan kemacetan justru lebih parah.
Apalagi ketika orang yang diserobot tidak menerima, kemudian ia membunyikan klason. Akibatnya, jalan yang macet bertambah ramai oleh bunyi klakson yang bersahut-sahutan. Di Bangkok kesabaran berkendara ditandai juga dengan sikap untuk tidak membunyikan klakson.
Nyaris tidak ada bunyi klakson di jalanan meski orang harus berada dalam kemacetan berjam-jam. Semua begitu tertib untuk menunggu giliran bisa berjalan. Mengapa itu bisa terjadi? Jawabnya ialah karena disiplin. Setiap orang di Bangkok tahu bagaimana mendisiplinkan diri. Bukan hanya dalam berkendara, melainkan juga dalam membuang sampah.
Tidak ada orang yang sembarangan membuang sampah sehingga kota terasa bersih. Kita angkat pelajaran dari Bangkok karena Presiden Joko Widodo berulang kali mengatakan perlunya kita sebagai bangsa melakukan transformasi. Kita tidak pernah akan menjadi bangsa yang maju apabila tidak mampu membangun etos kerja, menegakkan disiplin, dan meningkatkan produktivitas.
Kita garis bawahi persoalan disiplin. Inilah kelemahan yang terbesar pada kita sebagai bangsa. Begitu seringnya kita menggampangkan persoalan. Kita begitu sulit untuk menjalankan apa yang menjadi kesepakatan kita bersama. Jelas-jelas ditulis dilarang berhenti, kita seenaknya saja berhenti di mana kita mau.
Lampu merah jelas menyala, kita seenaknya saja untuk menerobosnya. Dilarang membuang sampah di tempat umum, kita seenaknya membuang sampah di mana-mana. Diminta hadir pukul 08.00, seenaknya saja kita datang terlambat. Disiplin memang tidak bisa hanya diimbau.
Harus ada tindakan keras yang memaksa kita untuk bisa disiplin. Kalau setengah-setengah seperti sekarang, jangan harap kita bisa bertransformasi dan jangan harap kita bisa menjadi negara maju. Singapura ketika awal merdeka sama seperti kita, tidak disiplin. Namun, pendiri bangsa itu, Lee Kuan Yew, mulai membangun bangsanya dengan menegakkan disiplin keras. \
Semua yang melanggar aturan bersama dikenai hukuman keras. Lee Kuan Yew tidak peduli meski di-bully dengan sebutan ‘Singapore The Fine Country’. Penegakan disiplin yang keras dan konsisten membuat bangsa Singapura akhirnya berubah. Mereka menjadi negara di ASEAN dengan kepatuhan kepada aturan dan disiplin sama dengan bangsa-bangsa di Eropa.
Singapura bukan hanya begitu tertib, masyarakatnya pun paham mana yang pantas dan tidak pantas mereka lakukan. Hal yang sama sedang terjadi di Tiongkok. Masyarakat Tiongkok yang sampai 2000-an masih meludah di mana-mana, kini tahu sopan santun. Dengan disiplin diri yang tinggi, mereka beranjak menjadi negara yang maju dan beradab.
Kalau Presiden Jokowi menginginkan disiplin dari bangsa ini, caranya harus dilakukan dengan keras. Tidak bisa kita bersikap permisif seperti sekarang ini. Dengan 250 juta orang, negara ini akan menjadi chaos kalau tidak dimulai dengan menegakkan disiplin.
Kita tidak perlu melompat seperti Singapura.
Bisa disiplin seperti masyarakat di Bangkok saja akan membuat Indonesia jauh berbeda. Kota-kota tidak hanya akan menjadi tertib, tetapi juga bersih. Kita pun pasti akan menikmati kehidupan yang lebih baik. Dengan itulah baru kita bisa membangun peradaban bangsa yang lebih tinggi.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved