Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI

PERANG siber ialah perang terbuka. Dalam arti luas, siapa pun yang bergelar hacker tanpa peduli negara asal paspornya bisa menjadi aktor yang menjahili, menjebol, bahkan menghancurkan sistem pertahanan siber suatu negara.
Itulah kelakuan hacker sebagai 'tamu tidak diundang'.
Kementerian Pertahanan Singapura membalikkan jalan pikiran di atas. Mereka tidak menunggu diserang tamu tidak dikenal.
Mereka malah resmi mengundang para hacker dari dunia putih untuk 'menjebol' sistem internet mereka, 'sejebol-jebolnya'.
Tidak tanggung-tanggung, Kementerian Pertahanan Singapura mengundang sebanyak 300 hacker terpilih lokal dan internasional untuk melakukan 'kejahatan' siber itu secara terhormat mulai 15 Januari hingga 4 Februari 2018.
Dari 300 hacker itu diharapkan ada 200 hacker internasional dan sisanya 100 hacker Singapura.
Kementerian itu menyediakan hadiah uang tunai, besarnya terentang mulai S$150 (Rp1,5 juta) hingga S$20 ribu (Rp200 juta).
Besarnya hadiah sesuai kinerja, yakni seberapa banyak dan seberapa bermutu kerawanan yang ditemukan hacker.
Apakah Kementerian Pertahanan Singapura tidak khawatir para hacker itu memublikasikan terbuka temuan mereka?
Untuk urusan hacker ini, Kementerian Pertahanan Singapura bekerja sama dengan Hacker One, perusahaan bereputasi putih dalam dunia hacker.
Kalaupun terjadi penyimpangan ada hacker putih menjadi hitam, mereka telah siap memitigasi.
Di Hacker One berhimpun periset-periset tepercaya dan hacker beretika dari seluruh dunia.
Mereka merancang solusi untuk perusahaan ataupun pemerintah, menemukan kerawanan keamanan yang kritis sebelum mereka dihajar hacker kriminal.
Starbuks Coffee dan Lufthansa dua contoh perusahaan, serta European Commission, Kementerian Pertahanan AS, dan kini Kementerian Pertahanan Singapura merupakan tiga contoh badan pemerintah, yang memakai jasa mereka.
Menurut Kepala Pertahanan Siber Singapura David Koh, menyewa perusahaan cybersecurity untuk menguji postur pertahanan siber jauh lebih murah ketimbang membayar tim yang didedikasikan untuk itu.
Sebagai gambaran, program menguji siber Pentagon Kementerian Pertahanan AS hanya menghabiskan US$70 ribu (Rp9 miliar lebih).
AS perlu menguji dirinya karena mereka rawan diserang secara digital. Rusia, misalnya, terbukti lebih unggul.
Kemenangan Donald Trump menjadi Presiden AS antara lain berkat campur tangan Rusia membobol Democratic National Committee serta dokumen kampanye Hillary Clinton, saingannya.
Perang siber merupakan medan pertempuran baru.
Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) tentu menyadari benar kerawanan pertahanan siber di abad digital yang cepat berubah.
Kerawanan itu perlu diuji, bukan ditutupi atau disembunyikan kelemahannya, sampai kemudian kecolongan dibobol orang.
Di abad digital, sebuah negara bagaikan sebuah web yang terbuka.
Para aktor hitam atau putih terhubungkan (connected).
Orang hidup dalam networking. Sesungguhnya dan senyatanya tidak ada lagi tempat bersembunyi seperti dalam perang konvensional.
Asas yang bekerja ialah masyarakat terbuka, pemerintahan terbuka, sistem pertahanan yang terbuka untuk diserang.
Dalam pandangan determinisme digital, persoalan bukan lagi komunisme versus kapitalisme, autokrasi versus demokrasi, melainkan tertutup versus terbuka.
Asas lainnya tentu saja kecepatan.
Di abad digital, merupakan urusan besar mentalitas lelet, lemot.
Presiden Jokowi membahasakannya sekarang bukan lagi negara besar melawan negara kecil, melainkan negara cepat melawan negara lambat.
Tertutup, lambat pula, mampus!
Setelah membereskan organisasi dan sumber daya serta mengoptimalkan kecanggihan dirinya, Badan Siber dan Sandi Negara kiranya perlu juga berprogram mengundang hacker putih yang beretika itu untuk menguji dirinya sehingga semua kerawanan gamblang diketahui.
Semua itu ada rasionalitasnya ketimbang merasa diri baik dan baru sadar diri jelek setelah mampus diserang.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved