Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Menjaga Optimisme

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
16/12/2017 05:31
Menjaga Optimisme
(ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

DI depan peserta Sarasehan 100 Ekonom, Presiden Joko Widodo menegaskan ada tiga langkah yang akan dilakukan pemerintah ke depan. Pertama, menggeser ekonomi berbasis konsumsi menjadi ekonomi berbasis investasi. Kedua, mendorong pengembangan industri yang memberikan nilai tambah tinggi.

Ketiga, mendorong pembangunan yang lebih inklusif agar bisa mengurangi kemiskinan, ketimpangan, dan membuka lapangan pekerjaan. Tiga hal itulah yang memang kita butuhkan. Hanya, transformasi itu tidak pernah kunjung terjadi. Investasi yang ditunggu-tunggu tidak pernah optimal bisa kita dapatkan.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Lembong mengakui kenaikan investasi 2017 memang tinggi, tetapi tetap jauh di bawah potensi yang seharusnya bisa kita dapatkan. Tidak usah heran apabila penurunan angka pengangguran dan kemiskinan tidak cukup signifikan.

Baik Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution maupun Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro merasakan angka penurunan kemiskinan sulit dipercepat karena mengenai inti yang paling sulit ditembus. Upaya untuk mendorong pembangunan industri yang bisa memberikan nilai tambah terbentur pada kebijakan yang masih terpisah-pisah, bahan baku yang masih banyak harus diimpor, serta barang modal yang belum bisa diproduksi sendiri.

Penguatan kualitas manusia bukan hanya pada tenaga kerja kasar yang perlu memiliki keterampilan khusus, melainkan juga tenaga terdidik yang bisa menguasai teknologi dan mampu menghasilkan barang modal yang kita butuhkan untuk membangun industri yang canggih.

Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Gati Wibawaningsih memberikan contoh keinginan Kementerian Perindustrian untuk memberikan insentif fiskal pada industri yang menyerap tenaga kerja besar dan mau mengembangkan inovasi. Namun, kebijakan itu masih tertahan di Kementerian Keuangan yang khawatir kebijakan itu mengganggu penerimaan negara.

Ibarat ayam dan telur, itulah persoalan yang sejak dulu kita hadapi. Kita menyadari Indonesia tidak pernah akan bisa bertransformasi kalau tidak menjadi negara industri. Untuk itulah kita perlu mendorong tumbuhnya industri manufaktur. Akan tetapi, kita selalu setengah hati, apalagi ketika setiap kementerian lebih mencoba mengamankan kepentingan sendiri.

Kalau Presiden mengharapkan transformasi besar, perlu ketetapan tentang grand design pembangunan ekonomi, khususnya industri, yang memang kita ingin lakukan. Semua kementerian harus mendukung arah besar itu dan melepaskan ego masing-masing. Kalau tidak seperti diakui Presiden sendiri kita tidak hanya akan tertinggal oleh Singapura, Malaysia, dan Thailand, tetapi juga Vietnam.

Kita selalu berdalih, kita sudah memiliki grand design pembangunan ekonomi yang hendak dituju. Akan tetapi, ketika diminta mendetailkan, setiap orang datang dengan persepsi sendiri-sendiri. Tidak pernah ada satu desain yang diterima dan dipahami semua kita.
Sekarang saatnya untuk merumuskan grand design itu agar persepsinya tidak berbeda-beda lagi.

Dengan itulah kita kemudian melangkah untuk menarik investasi dan menyiapkan semua peraturan yang mendukung pengembangan industri yang hendak kita tuju itu. Hanya dengan itulah akan bisa disiapkan tenaga kerja yang diperlukan. Baru dari sanalah kita akan bisa mengurangi kemiskinan dan ketimpangan antarmasyarakat.

Satu catatan yang disampaikan ekonom senior Prof Emil Salim perlu menjadi perhatian kita bersama. Dalam pembangunan yang kita lakukan, jangan hanya hasil yang dilihat. Pelibatan masyarakat dalam pembangunan penting diperhatikan agar ada pembelajaran yang bisa dipetik sebagai bangsa.

Kritik Prof Emil Salim masuk akal karena sekarang ini kita memang lebih mementingkan hasil. Pembangunan pembangkit listrik, misalnya, banyak yang dilakukan secara turnkey karena ingin cepat selesai. Demikian pula dengan pembangunan infrastruktur dasar seperti kereta cepat, dilakukan dengan banyak menggunakan tenaga dari luar negeri.

Pembangunan infrastruktur yang gencar dilakukan pemerintah sebenarnya bisa dipakai untuk membuka lapangan pekerjaan, khususnya untuk kelompok bawah. Ketika Amerika Serikat membangun Trans-Amerika pada 1930-an, momentum itu sengaja dipakai Presiden Franklin Delano Roosevelt untuk membawa bangsanya keluar dari krisis ekonomi besar.

Sayang momentum pembangunan infrastruktur yang dilakukan Jokowi sekarang ini tidak banyak menetes ke bawah. Padahal, seharusnya bisa digunakan pendekatan, sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui. Proyek infrastruktur dipakai juga untuk meningkatkan daya beli kelompok masyarakat di bawah.

Sekarang ini pemerintah hanya mengandalkan dana desa sebagai alat untuk mendistribusikan pekerjaan dan pendapatan. Itu tentu tidak salah, tetapi daya pukulnya kurang kuat untuk mengangkat 40% warga yang masuk kelompok miskin. Pasti akan lebih besar dampaknya apabila pembangunan infrastruktur dan dana desa dilakukan bersamaan untuk mengangkat kelompok masyarakat di bawah.

Kesempatan bagi kita untuk bisa mendorong pertumbuhan yang lebih baik masih terbuka. Yang perlu dilakukan tinggal bagaimana membuat gerak pembangunan ini berada pada irama dan tujuan yang sama. Kalau itu bisa kita lakukan, kita memiliki modal besar untuk menjaga optimisme pembangunan ekonomi di tahun politik.



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.