Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Kota Cerdas

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
13/12/2017 05:31
Kota Cerdas
(Thinkstock)

KETIKA menyerahkan anugerah Kota Cerdas Indonesia, Wakil Presiden Jusuf mengingatkan para kepala daerah yang menerima penghargaan untuk tidak terlena oleh piala yang diterima. Rakyat tidak membutuhkan piala karena yang lebih mereka perlukan ialah manfaat dari penghargaan Kota Cerdas yang bisa mereka rasakan.

Untuk itu, Wapres menambahkan, kecerdasan itu jangan hanya mengandalkan teknologi semata. Yang lebih penting ialah kecerdasan untuk memutuskan kebijakan yang memang bermanfaat bagi kepentingan rakyat sehingga hasilnya bisa dirasakan banyak warga.
Misalnya, menggerakkan masyarakat Jakarta untuk secara rutin membersihkan selokan di depan rumah dan tidak hanya mengandalkan pasukan oranye agar ketika hujan turun, air bisa mengalir ke sungai. Teknologi memang sekadar alat bantu untuk mempermudah kita. Itu bukanlah penentu untuk menyelesaikan segala macam persoalan.

Pada akhirnya orang yang berada di belakang teknologi itulah yang lebih menentukan. Albert Einstein sejak awal sudah mengingatkan hal tersebut. Informasi merupakan level paling rendah dari kebutuhan manusia. Yang lebih tinggi dari informasi ialah pengetahuan. Namun, yang paling tinggi lagi yang perlu dimiliki manusia ialah imajinasi.

Mengapa? Karena pengetahuan, menurut Einstein, hanya bisa menjawab apa yang telah terjadi dan sedang terjadi sekarang. Sementara itu, imajinasi bisa menjawab apa yang belum terjadi dan akan terjadi. Kota cerdas atau smart city perlu dibangun bukan sekadar untuk membuat kota itu terlihat keren, modern, dan maju.

Tujuan paling penting dari pembangunan kota cerdas ialah bagaimana rakyatnya mendapatkan fasilitas dasar yang memadai sehingga mereka bisa hidup lebih aman, nyaman, dan akhirnya sejahtera secara bersama-sama. Tanggung jawab pembentukan kota cerdas tidak hanya berada di pundak pemerintah.

Yang tidak kalah penting ialah peran serta dari kalangan dunia usaha dan masyarakat madani untuk ikut membangun kota cerdas. Belajar dari negara-negara yang lebih maju, kota cerdas dimulai dari pembangunan fasilitas dasar bagi warganya. Bukan hanya jalan, lampu penerangan, dan transportasi, melainkan juga fasilitas sanitasi, kesehatan, dan pendidikan.

Setelah rata-rata pendidikan yang lebih baik, barulah teknologi diterapkan dalam kehidupan rakyat. Di Jepang, misalnya, kota cerdas dibentuk karena level kehidupan masyarakat yang sudah tinggi. Pemerintah kota sudah sampai pada tingkatan memasang sensor-sensor dan kamera di seluruh penjuru kota untuk memudahkan polisi bisa mendeteksi berbagai tindakan yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban.

Aparat bisa cepat bertindak ketika ada orang yang tidak patuh kepada aturan. Karena keamanan dan ketertiban dianggap sesuatu yang berharga, dunia usaha di Jepang pun kemudian terpanggil mengembangkan produk yang juga cerdas. Industri di Jepang membuat televisi yang multifungsi, lemari es yang komunikatif, rumah yang menggunakan energi terbarukan, hingga mobil yang secara cerdas bisa otomatis mengurangi potensi terjadinya tabrakan fatal.

Di mana posisi kita sekarang berada? Prof Suhono Supangkat yang menjadi pemrakarsa Kota Cerdas Indonesia dengan jujur mengatakan, belum ada satu pun kota di Indonesia yang dikatakan sebagai kota cerdas. Kita masih dalam proses menuju kota cerdas seperti didambakan.

Kita tentu tidak perlu berkecil hati karena memang dibutuhkan perjalanan panjang untuk bisa menyamai negara-negara yang lebih maju. Yang tidak boleh bosan kita lakukan ialah bagaimana menyiapkan manusia-manusia Indonesia untuk menghadapi era baru. Kota cerdas hanya bisa dicapai kalau manusia yang tinggal di kota itu juga cerdas-cerdas.

Tidaklah mungkin kita akan mencapai level kota cerdas apabila masyarakatnya tidak patuh pada aturan. Kita lihat saja di jalan-jalan masih banyak orang dengan seenaknya berkendara melawan arus. Ketidaktertiban yang terjadi tidak hanya membuat kondisi terasa chaos, tetapi juga menimbulkan banyak korban yang sia-sia.

Penyediaan fasilitas kebutuhan warga kota merupakan pekerjaan yang perlu segera dikerjakan. Rumah-rumah warga bukan hanya harus teraliri listrik, melainkan juga harus dilengkapi sanitasi yang memadai dan ketersediaan air bersih agar kualitas kesehatan bisa dijaga.
Semua itu membutuhkan perencanaan baik.

Tidak bisa kota cerdas dicapai dengan pembangunan yang sepotong-sepotong seperti sekarang ini. Apalagi di era demokrasi, pemimpin daerah selalu berganti setiap lima tahun, paling lama 10 tahun. Kesadaran bersama untuk menyejahterakan kehidupan rakyat merupakan kunci bagi terciptanya pembangunan yang berkelanjutan.



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.