Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Jerusalem

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
12/12/2017 05:05
Jerusalem
(AFP)

JERUSALEM kini seperti tengah menjalankan takdir abadinya sebagai kota yang terus diperebutkan.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ialah pemantik utamanya yang kini menghidupkan kembali perebutan itu.

Perintah Trump memindahkan kedutaan besarnya di Israel dari Tel Aviv ke Jerusalem jelas dan terang akan menyumbat proses perdamaian Palestina dan Israel.

Trump memasuki medan berbahaya serupa membuka kotak Pandora.

Lihat saja sepanjang sejarahnya, Jerusalem sedikitnya pernah dua kali dihancurkan, 52 kali diserang, dan 44 kali direbut kembali.

Karena itu, dibuatlah Resolusi Majelis Umum PBB No 181/1947, yang menyatakan Jerusalem di bawah kewenangan internasional dengan posisi status quo.

Resolusi itu juga memberikan mandat berdirinya negara merdeka Palestina dan Israel.

Kini baru Israel yang merdeka, sementara Palestina terus dalam pendudukan Israel. Dengan perintah Trump, kian jauh dari layak AS sebagai mediator perdamaian kedua negara.

Sulit untuk tak mengatakan lobi Yahudi, yakni AIPAC (American Israel Public Affairs Committee/Panitia Urusan Publik Israel Amerika), berada di balik itu.

Itulah lobi yang paling tak terbantahkan kegigihannya dan juga hasilnya.

Segala cara mereka lakukan. AIPAC lahir dari rahim warga negara keturunan Yahudi di 'Negeri Paman Sam'.

Jumlahnya hanya 2% dari penduduk AS, tapi posisi tawarnya tak tertandingi. Bahkan, bisa memaksa setiap calon presiden untuk berjanji mendukung negeri Yahudi itu.

AIPAC berdiri pada 1951, beberapa tahun setelah gerakan Zionis menyatakan kemerdekaan Israel. Presiden AS, Harry Truman, pendukung utamanya.

Namun, AIPAC mulai aktif di masa Gerald Ford (1974-1977) dan Jimmy Carter (1977-1981).

Setiap ada pembicaraan yang seimbang tentang posisi Palestina dan Israel, AIPAC selalu tak bersetuju dan melawan.

Sulit bagi Kongres AS, baik dari Partai Demokrat maupun Republik, untuk berkelit jika AIPAC punya mau.

Karya paling gemilang AIPAC, salah satunya, Undang-Undang Kedutaan Besar Jerusalem 1995 (Jerusalem Embassy Act of 1995) yang disahkan Kongres AS pada 23 Oktober 1995.

Inilah dasar hukum dimulainya proses dan alokasi dana pemindahan Kedubes AS di Israel dari Tel Aviv ke Jerusalem selambat-lambatnya pada 31 Mei 1999. Di sini Resolusi PBB 181 diinjak-injak.

Baik Presiden Bill Clinton, Bush Junior, maupun Barack Obama, selalu menunda pelaksanaan UU 1995 itu. Trump tak sudi mengikuti jejak pendahulunya.

Namun, inilah UU yang cacat sejarah, tentu cacat pula pelaksanaannya. Trump memang pemimpin AS yang disebut-sebut amat buruk pemahaman sejarah dan sensitivitas internasionalnya. AS akan menambah musuh baru dan membangkitkan musuh lama.

Wajar jika baru sepekan sejak Trump mengumumkan 'warta duka' itu, aksi protes di berbagai negara datang bagai gelombang, tak berhenti.

Tentulah pula Indonesia, negeri yang paling konsisten mendukung perjuangan Palestina sejak era Soekarno, tak terkecuali.

Kini Presiden Jokowi pun tengah menggalang dukungan agar dunia internal ikut menekan agar Trump menarik kembali kehendaknya itu.

Ini baru perintah, bagaimana kalau benar-benar terlaksana?

Yang paling berani tentu meminta UU Kedutaan Besar Israel dibatalkan.

Beberapa negara, antara lain Iran, Vatikan, Jerman, Inggris, Prancis, Arab Saudi, Turki, Qatar, dan Inggris, memprotes keras rencana Trump.

Juga Uni Eropa, PBB, dan pasti OKI (Organisasi Konferensi Islam) yang berjumlah 57 negara dan akan bersidang pada 13 Desember di Turki mestinya akan bersuara lebih keras dan melakukan langkah konkret.

Namun, dengan hak veto di PBB, apa artinya semua upaya negara yang tak punya hak itu?

Kini kita mengingat kembali Jerusalem.

Kota panggung kenangan dunia baik yang muram maupun yang bercahaya.

Agaknya tak ada kota di dunia dengan beban masa silam yang kian memberat seperti Jerusalem.

Ia kota arkais Al-Quds, yang tak pernah henti disebut hingga kini dan (mungkin) di masa mendatang.

Sejarah telah menahbiskan begitu rupa, terpenting dunia, sehingga menjadi 'rebutan' negeri mana saja, bahkan lebih penting daripada negeri sendiri.

Jerusalem, seperti ditulis jurnalis Media Indonesia, Taufiqulhadi (kini anggota DPR), dalam buku Satu Kota Tiga Tuhan, memang kota dengan jejak sejarah tiga agama samawi yang tak pernah sepi para umat untuk beribadah atau ziarah.

Dinding Ratapan (Yahudi), Gereja Suci Sepulchre (Kristen), dan Masjid Al-Aqsa (Islam) ialah saksi betapa Jerusalem lokus penting yang mestinya bisa menyatukan ketiga umat dari tiga agama keluarga besar Ibrahim itu.

Jerusalem yang diduduki Israel sejak Perang 1967 kini berpenduduk 850 ribu jiwa.

Pemeluk Yahudi 64%, Islam 34%, dan Kristen 2% menunggu dengan segala kecemasan.

Sementara Simon Sebag Montefiore, penulis buku Jerusalem the Biography (2012), menyebutkan Jerusalem satu-satunya kota yang tetap eksis dua kali (di langit dan di bumi): kehormatan di bumi (terrestrial yang tiada tara dibandingkan kemegahan langitnya celestial).

"Fakta bahwa Jerusalem terrestrial dan celestial berarti kota itu bisa ada di mana-mana.... setiap orang punya Jerusalem imajiner sendiri-sendiri."

Kini Trump mungkin tak mudah ditaklukkan. Artinya akan jalan dengan apa pun risikonya. Kekerasan bisa jadi kian tak terkendali.

Trump, kata ahli linguistik Noam Chomsky, ialah sejenis manusia liar yang siap menghancurkan dunia.

Suara dunia menunggu 'manusia liar' itu mengurungkan kehendaknya.

Namun, mungkinkah? Dunia memang tengah menunggu sesuatu yang muskil. Termasuk kehendak agar dunia mengucilkan Amerika Serikat.



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.