Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Dirjen Pajak

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
02/12/2017 05:31
Dirjen Pajak
(ANTARA FOTO/Reno Esnir)

PRESIDEN Joko Widodo menunjuk Robert Pakpahan sebagai Direktur Jenderal Pajak yang baru menggantikan Ken Dwijugiasteadi yang memasuki masa pensiun. Tugas berat langsung mengadang mantan Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko itu karena persoalan terbesar yang kita hadapi ialah jauhnya penerimaan negara dari target yang ditetapkan.

Dalam beberapa tahun terakhir, penerimaan negara berada pada kisaran 85%-90% dari target. Amnesti pajak yang diterapkan tahun lalu pun tidak mampu mendongkrak penerimaan pajak. Tahun lalu penerimaan pajak hanya mencapai 85% dari target dan sepertinya sama dicapai pada tahun ini.

Masalah dari rendahnya penerimaan pajak bukan hanya terletak pada rendahnya kepatuhan. Hal lain yang menjadi penyebab ialah terlalu dijadikannya target penerimaan sebagai tujuan. Padahal, penerimaan pajak seharusnya hasil dari kegiatan ekonomi yang terjadi di negara kita.

Oleh karena hanya berkutat pada target penerimaan dan melupakan keharusan untuk menggerakkan kegiatan ekonominya, kita seperti menggantang asap. Tidaklah mungkin kita bisa mencapai target penerimaan pajak ketika perekonomian dibiarkan melesu. Indikasi melesunya perekonomian sangat terasa tahun ini.

Barang konsumsi cepat habis (fast moving consumers good) yang biasanya tumbuh 15% per tahun hingga September lalu hanya tumbuh 2,7%. Penjualan mobil dan properti yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi tahun ini tumbuh negatif atau stagnan. Kredit perbankan pun maksimal hanya tumbuh 9%.

Presiden berulang kali meminta kalangan dunia usaha untuk tidak wait and see. Berbagai indikator ekonomi menunjukkan sekarang justru saatnya untuk berinvestasi. Akan tetapi, bagi kalangan dunia usaha, ketidakpastian yang dihadapi membuat jalan ke depan justru tidak jelas. Salah satu yang menakutkan itu ialah aturan pajak.

Seorang direktur utama bank pernah bercerita bagaimana ia didatangi petugas pajak. Sebagai industri yang diikat aturan yang sangat ketat, laporan keuangan bank diawasi Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia, termasuk dalam kewajiban membayar pajak. Tiba-tiba petugas pajak bisa mengatakan bank yang ia pimpin kurang bayar pajak sebesar Rp1 triliun.

Ketika ditanya, apa dasar penghitungannya, petugas pajak mengatakan laporan pajaknya terlalu bagus. Petugas pajak itu khawatir kalau kemudian tidak menemukan kesalahan, ia dituduh menerima sesuatu dari pihak bank. Banyak pengusaha lain yang sekarang merasa dikejar-kejar pajak.

Bahkan sering kali dasar pengenaan pajaknya tidak masuk akal. Tidak terkecuali perusahaan asing. Chevron, misalnya, pernah dikenai branch profit tax sebesar US$130 juta atas sesuatu yang oleh Ditjen Pajak sendiri pernah dikeluarkan surat bahwa Chevron tidak harus membayar itu.

Chevron sampai harus meminta bantuan Wakil Presiden AS Mike Pence menyampaikan keberatan kepada Presiden Jokowi karena jawaban pihak Ditjen Pajak selalu mempersilakan menyelesaikan keberatan melalui pengadilan pajak, padahal di sana pun dasar amar keputusannya sering tidak jelas.

Apabila kita mengharapkan penerimaan pajak bisa ditingkatkan, yang pertama harus diperhatikan ialah bagaimana menggerakkan kegiatan ekonomi. Geliat ekonomi akan terjadi kalau pengusaha dibuat nyaman dalam berusaha. Istilah yang dipakai mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan, kalau kita ingin mendapatkan telur, janganlah dipotong ayamnya.

Kedua, bagaimana membuat aturan pajak yang sesuai dengan keadaan zaman. Presiden Jokowi pernah meminta masukan para menteri tentang bagaimana cara meningkatkan penerimaan pajak. Salah satu yang diusulkan ialah mengubah pajak pertambahan nilai menjadi pajak penjualan.

Dengan menerapkan pajak penjualan, aparat pajak lebih mudah mengawasi. Bahkan lebih dari itu, tertutup kemungkinan terjadinya permainan oleh aparat pajak yang sekadar memperkaya diri mereka sendiri. Penerimaan negara diyakini akan jauh lebih besar daripada sekarang ini.

Sekarang kita cenderung menggunakan pendekatan yang ortodoks untuk meningkatkan penerimaan negara. Barang bawaan orang yang bepergian ke luar negeri diperiksa dan kemudian dikenai bea masuk tambahan. Dalam jangka panjang cara seperti ini hanya membuka peluang terjadinya moral hazard dari aparat untuk mendapatkan pendapatan tambahan, sedangkan penerimaan kepada negara tidak signifikan.

Kehadiran Dirjen Pajak yang baru sangat diharapkan mengubah cara pendekatan untuk meningkatkan penerimaan negara. Kita berharap ada pendekatan out of the box yang dilakukan Robert Pakpahan. Kalau tidak, kita akan terus berkutat pada penerimaan negara yang di bawah target.

Kita percaya, sebagai salah seorang pejabat Kementerian Keuangan yang senior, Robert Pakpahan tahu kondisi yang dihadapi dalam urusan penerimaan pajak maupun Ditjen Pajak. Memang, bukan pekerjaan yang mudah karena banyak kepentingan juga yang bermain di sana.

Akan tetapi, kita tidak boleh gagal karena terlalu berbahaya kalau kita tidak bisa menjadikan pajak sebagai modal untuk membangun negara ini.



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.