Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Uncen

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
25/11/2017 05:03
Uncen
(Ist)

LUAR biasa visi yang disampaikan Rektor Universitas Cenderawasih Dr Ir Apolo Safanpo. Pada dies natalis ke-55, Uncen mengukuhkan komitmennya untuk menjadi center of knowledge.

Uncen ingin menjadi kawah candradimuka bagi anak-anak muda Papua agar mereka menjadi agen pembangunan yang mampu menciptakan kesejahteraan umum bagi seluruh warga.

Rektor Uncen merasa prihatin, dengan potensi yang begitu besar, pertumbuhan ekonomi Papua hanya mencapai 3,5%.

Ini jauh di bawah pertumbuhan ekonomi nasional yang 5%.

Apalagi jika dilihat kontribusi pertumbuhan itu lebih dari setengahnya berasal dari tambang.

Menurut Rektor Uncen, sebuah malapetaka besar apabila ketika sumber daya alam itu habis kelak, warga Papua belum meningkat kualitas ilmu pengetahuannya.

Mumpung eksploitasi itu baru sebagian kecil, Papua harus fokus pada investasi manusia.

Uncen akan berada di garda terdepan untuk mempersiapkan manusia Papua yang berilmu pengetahuan dan menguasai teknologi.

Akan tetapi, visi ini tidak bisa hanya menjadi visi Uncen apalagi visi Rektor Uncen.

Visi ini harus menjadi visi seluruh masyarakat Papua, pimpinan daerah Papua, dan bahkan pimpinan nasional.

Kita harus bersama-sama membangun Papua demi kesejahteraan seluruh warga.

Kita harus mau belajar dari pengalaman bangsa Afrika.

Kekayaan alam yang mereka miliki lebih banyak menjadi kutukan daripada menjadi berkah.

Sumber daya alam hanya menjadi rebutan segelintir orang, sementara rakyat kebanyakan tetap hidup dalam keterbelakangan dan kemiskinan.

Persoalan terberat yang dihadapi ialah adanya orang yang ingin menikmati keuntungan bagi dirinya sendiri.

Apalagi ketika orang itu bersikap greedy.

Akibatnya, kekayaan alam yang seharusnya menyejahterakan banyak orang, hanya dinikmati mereka sendiri.

Mahatma Gandhi sejak lama memang mengingatkan hal itu.

Dunia ini diciptakan Tuhan cukup untuk menghidupi semua yang ada di muka bumi.

Tatanan itu menjadi rusak ketika ada salah satu di antara kita yang bersikap greedy.

Kita sering merasa prihatin dengan apa yang terjadi di Papua karena ada yang bersikap selfish.

Mereka bersuara keras bukan karena peduli kepada sesama.

Mereka hanya berupaya peduli, tetapi sebenarnya memiliki agenda pribadi.

Tidak sedikit tokoh yang besar di luar Papua sering berkata miring tentang tanah kelahirannya.

Mereka hanya berteriak tentang ketidakadilan, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh berupaya membangun Papua.

Akibatnya, teriakan itu bukan membuat Papua menjadi lebih baik, tetapi justru semakin dipersepsikan tidak baik.

Padahal tidak mungkin ada percepatan pembangunan tanpa ada suasana yang kondusif.

Sepanjang Papua terus dipersepsikan sebagai hotspot, semakin panjang perjalanan warga Papua untuk mencapai kesejahteraan seperti yang mereka dambakan.

Oleh karena itu, tugas kita pertama ialah mengakhiri Papua sebagai wilayah yang panas.

Papua tinggal satu-satunya wilayah di Indonesia yang masih ada potensi bergejolak.

Terakhir gejolak itu terjadi di wilayah Tembagapura yang mengharuskan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Republik Indonesia mengambil tindakan keras.

Kondisi di wilayah itu sampai sekarang ternyata masih belum sepenuhnya kondusif.

Sekitar 600 anggota keluarga yang bekerja di PT Freeport Indonesia Tembagapura harus diliburkan karena mereka tidak mungkin bekerja dengan kecemasan.

Bunyi tembakan yang masih sesekali terjadi membuat warga menjadi hidup tercekam.

Tugas untuk membangun ketenangan dan kedamaian tentunya juga menjadi kewajiban media massa.

Pers harus ikut menyuarakan dan mengampanyekan terbangunnya Papua yang tenang dan damai.

Media massa jangan hanya ikut asyik menikmati ketegangan, tetapi harus menjadi bagian yang ikut membangunkan harapan.

Pembangunan infrastruktur yang sedang digalakkan Presiden Joko Widodo bisa dijadikan momentum untuk bersama-sama membangun Papua yang aman dan damai.

Kalau kita bisa mengakhiri kekerasan panjang di Provinsi Aceh, pasti kita bisa juga melakukan hal yang sama untuk Papua.

Kita sambut ajakan Rektor Uncen untuk membuat Papua yang lebih baik.

Mulai sekarang kita buang jauh pandangan kekerasan dan fokus untuk menyiapkan anak-anak Papua agar memiliki pikiran yang maju.

Dengan sumber daya alam yang masih melimpah, Papua akan menjadi sumber kemakmuran dan kesejahteraan apabila dikelola orang-orang yang cerdas.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.