Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Nasib Biodiesel

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
22/11/2017 05:31
Nasib Biodiesel
(AFP PHOTO / EITAN ABRAMOVICH)

EKSPOR biodiesel Indonesia ke Amerika Serikat terancam terhenti akibat bea masukan tambahan yang dikenakan Departemen Perdagangan AS. Pemerintah Indonesia dinilai memberikan subsidi sehingga produk bio­diesel Indonesia dianggap melakukan dumping terhadap produk biodiesel industri di AS.

Tidak tanggung-tanggung, Departemen Perdagangan AS mengenakan bea masuk tambahan 34,45%-64,73% terhadap produk biodiesel Indonesia. Selain Indonesia, produk biodiesel Argentina dituduh melakukan persaingan tidak sehat, bahkan dijatuhi bea masuk tambahan yang lebih tinggi lagi.

Dampak dari kebijakan tersebut sudah dirasakan tahun ini di saat ekspor biodiesel Indonesia ke AS tidak bisa lagi dilakukan. Padahal, setiap tahun nilai ekspor biodiesel Indonesia ke ‘Negeri Paman Sam’ lebih dari US$250 juta. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita sudah menyampaikan protes atas kebijakan Washington.

Indonesia akan membawa kasus ini ke Organisasi Perdagangan Dunia karena dianggap melanggar peraturan perdagangan bebas. Isu ini sebenarnya bukan baru terjadi. Setelah Uni Eropa melakukan tuduhan dumping ke produk biodiesel Indonesia, pemerintah AS melakukan hal yang sama.

Terhadap tuduhan Uni Eropa, pemerintah Indonesia sudah melakukan langkah hukum dan hasilnya masih kita akan tunggu. Akan tetapi, dengan tuntutan hukum yang kita lakukan, Uni Eropa tidak bisa menerapkan bea masuk tambahan secara sepihak. Tuduhan dumping terhadap produk biodiesel Indonesia muncul dari sesuatu yang sederhana.

Baik Uni Eropa maupun AS sangat peduli dengan kehidupan para petani mereka. Ketika produktivitas tanaman petani mereka seperti kedelai, jagung, dan bunga matahari kalah dari kelapa sawit, jalan untuk menyelamatkan kehidupan petani mereka harus dicarikan. Sebaliknya di Indonesia, kita tidak terlalu peduli kepada kehidupan petani.

Perkebunan kelapa sawit hanya dilihat sebagai kepentingan pengusaha besar saja. Kita lupa bahwa ada 42% dari sekitar 12 juta hektare kebun kelapa sawit yang dimiliki perkebunan rakyat. Ada sekitar 12 juta orang yang hidup dari tanaman kelapa sawit. Para pejabat Indonesia sering kali mudah mengeluarkan pernyataan yang dasarnya tidak kuat.

Salah satunya pernyataan tentang subsidi yang diberikan negara kepada pengusaha kelapa sawit. Pernyataan itu kemudian dikutip media massa dan menjadi konsumsi masyarakat global. Tuduhan dumping yang dilakukan Uni Eropa dan AS dasarnya ialah pemberitaan di media massa Indonesia.

Harga biodiesel dan minyak kelapa sawit Indonesia bisa lebih kompetitif karena dianggap ada subsidi yang diberikan negara. Atas persaingan yang dianggap tidak adil itu, produk kelapa sawit Indonesia dikenakan bea masuk tambahan. Padahal, tidak ada subsidi yang diberikan negara dan keluar dari anggaran pendapatan dan belanja negara untuk petani kelapa sawit.

Yang ada pemerintah memang membentuk Badan Pengelola Dana Perkebunan. Pemerintah mengutip pajak ekspor dan hasilnya dikelola BPDP. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution sudah menggariskan 10 prinsip tugas BPDP. Badan ini dibentuk dan dipimpin orang-orang industri untuk kepentingan industri.

BPDP harus bisa menjamin perkebunan kelapa sawit dikelola dengan memperhatikan kaidah lingkungan yang baik dan berkelanjutan, serta manfaatnya optimal termasuk untuk pengembangan energi terbarukan. Kesalahan persepsi dan komunikasi itu akhirnya menjadi bumerang bagi kita sendiri.

Sekarang pemerintah harus berjuang meyakinkan Uni Eropa dan AS bahwa istilah ‘subsidi’ yang disampaikan beberapa pejabat bukan subsidi seperti yang umumnya berlaku. Pemerintah Indonesia tidak pernah memberikan alokasi APBN untuk subsidi perkebunan kelapa sawit.

Sebetulnya ada jalan lain yang bisa kita tempuh, yakni dengan menyerap 12 juta ton produk biodiesel untuk konsumsi dalam negeri. Sekarang ini baru 3 juta ton produk biodiesel Indonesia yang dipakai sendiri. Kendalanya ialah pada kesepakatan harga. Atas nama efisiensi, harga biodiesel dianggap lebih mahal daripada harga diesel yang berasal dari fosil.

Dengan harga minyak mentah dunia yang rendah seperti sekarang, memang diesel dari fosil terlihat lebih murah. Akan tetapi, pengembangan biodiesel masih baru dan masih terus dicarikan teknologinya untuk mencapai harga yang lebih efisien. Seperti pengalaman Brasil, ketika pemerintah mendukung pengembangan etanol, akhirnya akan tercapai harga yang kompetitif.

Kita tidak boleh lupa energi fosil suatu saat akan habis dan tidak bisa diperbarui. Sebelum malapetaka itu datang, kita harus mencari energi yang bisa terbarukan. Biodiesel merupakan salah satu yang akan menjadi kekuatan kita. Sekarang yang dibutuhkan sinergi dan melepaskan ego untuk mencari benar sendiri.



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.