Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Ironi Venezuela

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
18/11/2017 05:05
Ironi Venezuela
(AFP)

BELUM sebulan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengangkat Venezuela sebagai cerita negara yang perjalanannya begitu ironis. Negeri yang kaya akan minyak dan menjadi salah satu negara yang makmur di Amerika Latin itu tiba-tiba jatuh bangkrut.

Saat berbicara pada acara breakfast meeting yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia, Jusuf Kalla menceritakan pengalamannya bertemu Presiden Venezuela Hugo Chavez. Ketika harga minyak melambung tinggi dan Indonesia menghadapi tekanan pada anggaran negara, Wapres berharap bisa membeli minyak mentah dari Venezuela. Chavez dengan cepat merespons dan memberikan potongan harga 25% apabila Indonesia mau membeli minyak dari Venezuela.

Kejayaan Venezuela ternyata tidak berlangsung lama. Apalagi setelah Chavez wafat dan kepemimpinan dipegang Presiden Nicolas Maduro. Harga minyak dunia yang anjlok tajam membuat penerimaan negara menurun curam. Akibatnya, bukan hanya kewajiban pembayaran utang luar negeri yang tidak bisa dipenuhi. Untuk memenuhi kebutuhan pokok rakyat saja pemerintah Venezuela kini kesulitan.

Setiap hari rakyat Venezuela harus mengantre panjang sejak pagi untuk bisa membeli bahan pangan. Bahkan banyak warga mereka yang pergi ke perbatasan negara lain hanya untuk bisa membeli roti.

Sekarang ini persoalan menjadi bertambah pelik karena surat utang negara Venezuela tidak laku di pasar. Apalagi Standard & Poor's Global kemudian menetapkan gagal bayar terhadap utang negara Venezuela yang jatuh tempo. Orang pun berlomba-lomba melepas surat obligasi sehingga membuat negara itu bangkrut karena cadangan devisa mereka tinggal tersisa US$9,6 miliar saja.

Pelajaran berharga yang bisa kita petik dari kasus Venezuela, pertama, ialah sumber daya alam bukan faktor utama bagi kemajuan sebuah negara. Yang jauh lebih menentukan ialah banyaknya kualitas manusia yang dimiliki negara itu.

Kedua, tidak ada perjalanan bangsa yang linear. Karena itu, harus ada kehati-hatian dalam menjalankan kebijakan. Diperlukan pengelolaan keuangan negara yang cermat dan jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang.

Ketiga, janganlah perubahan dilakukan secara tiba-tiba. Meski terjadi pergantian kepemimpinan nasional, tidak boleh kebijakannya berubah 180 derajat. Apalagi kita hidup di era yang terbuka dan hidup saling ketergantungan.

Sikap revolusioner yang dilakukan Chavez pada awalnya disambut dengan gegap gempita. Nasionalisasi terhadap investasi asing dipuji sebagai sebuah keberanian. Akan tetapi, nasionalisasi tanpa diikuti dengan kemampuan pengelolaan yang profesional akhirnya hanya menjadi bumerang.

Kinerja perusahaan minyak dan gas milik asing justru menurun ketika dinasionalisasi pemerintah Venezuela. Tindakan sepihak yang dilakukan menciptakan ketidakpercayaan dari pasar. Sekarang ketika pemerintah Venezuela membutuhkan dana segar dan mengeluarkan surat utang negara, pasar telanjur tidak percaya dan tidak mau terlibat dalam kegiatan bisnis dengan pemerintah Caracas.

Kita tidak bosan-bosan untuk mengingatkan agar kita tidak terjebak dalam semangat nasionalisme seperti itu. Kita setuju bahwa negara ini harus bisa mandiri dan berdikari. Akan tetapi, kita juga harus sadar bahwa kita sudah memilih untuk menjadi bagian masyarakat global.

Untuk itulah kita harus memperkuat kemampuan kita agar bisa berdikari secara terhormat. Seperti dikatakan Presiden Joko Widodo saat menghadiri HUT Partai NasDem, kita harus terlebih dahulu memperbaiki etos kerja, produktivitas, dan kedisiplinan nasional.

Presiden berani untuk mengatakan kita sudah tertinggal dari negara-negara di sekitar kita. Indonesia tidak hanya kalah dari Singapura dan Malaysia, tetapi juga sudah tertinggal dari Vietnam.

Untuk mengatasi ketertinggalan itu, kita jangan terjebak kepada nostalgia semata. Bukan saatnya kita menggaungkan kebesaran dengan kekuatan yang kosong. Kalau kita ingin membangun peradaban dan meraih kemajuan, yang harus kita perbaiki kultur kita sebagai bangsa. Kultur untuk mau bekerja keras, membangun etos kerja yang tinggi, memiliki produktivitas yang tinggi, serta kedisiplinan diri yang kuat.

Bangsa Jepang, Korea, Tiongkok, dan Singapura bisa bergerak cepat dan menjadi bangsa yang maju karena memulainya dengan membangun kultur yang kuat. Baru dari sanalah nasionalisme akan membawa mereka menjadi bangsa yang tidak mudah menyerah dan tidak mudah kalah. Kita pun harus seperti itu kalau ingin menjadi bangsa yang maju dan sejahtera.



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.