Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Setya Novanto

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
17/11/2017 05:31
Setya Novanto
(Antara/M Agung Rajasa)

KETIKA Setya Novanto menang gugatan praperadilan akhir September lalu, orang pun ramai berkomentar. Dengan tagar #The Power of Setnov, publik meyakini Ketua Umum Golkar itu manusia ‘setengah dewa’. Tak tersentuh hukum. Banyak tamsil dan alegori yang menggambarkan kehebatan politikus kawakan itu, yang selalu lepas dari jerat hukum.

Simak beberapa di antaranya, “Setya Novanto nendang tembok, tembok yang minta maaf.“ Atau yang lain lagi, “Setnov dipatuk ular, ularnya yang keracunan.” Ada lagi, “Setya Novanto ikut uji nyali, yang kesurupan setannya.” Saya kira Setya Novanto politikus yang paling banyak ‘dihadiahi’ meme lucu-lucu.

Ada puluhan lebih sindirian, bahkan mungkin ratusan, dengan alegori serupa itu, yang intinya betapa superioritasnya Setya Novanto. Ada paradoks, ada ironi, ada tawa, meski Setya dipersepsikan ‘tokoh kuat’, tak tersentuh. Sejak kasus ia dan beberapa politikus Senayan pergi ke AS bertemu Donald Trump yang tengah kampanye dan kasus ‘Papa minta saham’ yang menghebohkan, Setya memang selalu bebas ancaman sanksi.

Bahkan, kursi Ketua DPR yang semula lepas bisa kembali lagi. Namun, hingga KPK menetapkan sebagai tersangka lagi pada 10 November lalu, Setya telah dipanggil KPK berkali-kali, baik sebagai saksi maupun tersangka dalam kasus korupsi KTP elektronik yang berpotensi merugikan negara Rp2,3 triliun.

Setya belum pernah hadir sekali pun. Maka, Rabu (15/11) malam, penyidik KPK pun mendatangi rumah sang Ketua DPR itu dengan membawa surat penangkapan. Setya tak di rumah. Ia menghilang. Namun, Kamis malam, mobil Setya menabrak tiang listrik di Permata Hijau, ia pun dirawat.

Adakah The Power of Setnov masih bertuah? Jawabnya jelas. Ayat 1 Pasal 28D Undang-Undang Dasar 1945, “Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.” Sebagai Ketua DPR, ia memang punya hak imunitas.

Ayat 1 Pasal 224 UU No 17/2014 atau UU MD3 berbunyi, “(1) Anggota DPR tidak dapat dituntut di depan pengadilan karena pernyataan, pertanyaan, dan/atau pendapat yang dikemukakannya, baik secara lisan maupun tertulis di dalam rapat DPR ataupun di luar rapat DPR yang berkaitan dengan fungsi serta wewenang dan tugas DPR.”

Namun, ketika diduga melakukan tindak kriminal apalagi korupsi, lesaplah hak itu. Publik juga mengambil sikap yang berbeda. Tak keras dalam mengkritik hakim tunggal Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Cepi Iskandar, yang memenangkan Setya Novanto dan mengalahkan KPK dalam gugatan praperadilan, 29 September lalu.

Beda ketika hakim tunggal Sarpin Rizaldi, memenangkan gugatan praperadilan Budi Gunawan pada 2015. Ia dikritik amat pedas, bahkan dilaporkan ke Komisi Yudisial. Saya tak pernah gembira setiap ada yang dicokok KPK, juga Novanto. Selalu ada debar pertanyaan akan divonis berapa lama?

Siapa saja nama-nama lain yang akan terseret? Namun, citra politik yang haus akan fulus memang fakta kita hari ini. Jika Setya Novanto nanti divonis bersalah, kian lengkap dan panjang politikus yang diterungku karena korupsi. Kian banyak pula daftar ketua umum partai yang masuk bui.

Luffi Hasan Ishak (PKS), Suryadarma Ali (PPP), Anas Urbaningrum (Partai Demokrat), dan jika bersalah nanti Setya Novanto (Partai Golkar). Maka, tak menjauhlah tentang berbagai survei yang menempatkan partai politik bagian yang paling korup. Benarlah seperti diramalkan Naisbitt bahwa partai poltik pada akhirnya akan mati menelan dustanya sendiri.

Machiavelli benar, politik tak ada kaitannya dengan moral. Linierlah dengan hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) telah melakukan survei nasional tentang “Korupsi, Religiositas, dan Intoleransi,” September lalu, bahwa tingkat religiositas seseorang tidak menjamin bebas korupsi.

“Semakin religius hanya semakin bersikap antikorupsi. Perilaku korup tetap berjalan dan tidak ada hubungannya dengan masalah agama," kata Direktur Eksekutif LSI Kuskridho. Jalan hidup manusia bisa direncanakan, tapi tak bisa ditentukan. Kini Setya Novanto, yang lahir 12 November 1955, yang sejak Pemilu 1999 tanpa jeda terus menjadi anggota DPR, dan puncaknya pada 2014, ia menjadi Ketua DPR.

Di bulan kelahirannya, bisa jadi ia akan mulai menjalani hari-hari panjang yang tak nyaman. Namun, jika yakin tak bersalah, ketakutan seharusnya dilempar jauh-jauh. Kita memang masih jauh dari kesadaran akan kehormatan seperti masyarakat Jepang yang memegang teguh nilai-nilai bushido yang telah menjadi tradisi Jepang sejak berabad-abad silam; ini yang menjadi karakter orang Jepang, terutama di kalangan politikus dan pebisnis.

Kejujuran menjadi hal utama. Bushido mengajarkan standar moral bahwa yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Ada perbedaan yang jelas antara baik dan buruk. Setya Novanto mestinya, seperti umumnya harapan kita, harus menjadi pelajaran terakhir. Tak boleh ada lagi ketua umum partai, terlebih Ketua DPR, berurusan dengan KPK karena korupsi.

Politik kotor harus lekas disudahi. Politik transaksional harus dikubur digantikan politik pelayanan. Jika tidak, demokrasi akan mati, dan politik hanya akan menjadi tontonan orang-orang yang berompi jingga di gedung KPK. Jika ini yang terjadi, janji-janji ketika kampanye pun bualan belaka.



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.