Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
DERAP langkah pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah luar biasa.
Presiden Joko Widodo terus mendorong berbagai proyek untuk bisa diselesaikan.
Beberapa proyek yang sempat tersendat bahkan bisa dituntaskan.
Namun, semua usaha keras itu ternyata tidak cukup membuat perekonomian menggeliat kuat.
Laporan yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik menunjukkan pertumbuhan ekonomi kuartal III sangat moderat, 5,06%. Semakin jauhlah harapan pemerintah, kita akan bisa tumbuh 5,2% pada tahun ini.
Apa yang menjadi penyebab kita masuk 'jebakan' pertumbuhan stagnan 5% dalam tiga tahun terakhir?
Berulang kali kita sampaikan di podium ini, belanja pemerintah bukan pendorong utama dari pertumbuhan ekonomi.
Kontribusi belanja pemerintah kepada pertumbuhan maksimal hanya 15%. Yang bisa lebih kuat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi ialah konsumsi rumah tangga.
Berulang kali juga kita sampaikan adanya persoalan pada konsumsi rumah tangga.
Namun, kita bukan mencari akar persoalan dan memberikan jalan keluar, melainkan lebih banyak mencari dalih.
Kita berdalih bahwa yang terjadi shifting economy-lah, disruption-lah.
Padahal, ada persoalan yang lebih mendasar dari itu semua.
Laporan tentang kondisi pasar di Indonesia yang dikeluarkan AC Nielsen menyebutkan daya beli masyarakat khususnya kelompok menengah bawah melemah.
Naiknya biaya hidup akibat naiknya pengeluaran biaya listrik, makanan, dan sekolah membuat kemampuan membeli barang konsumen yang cepat habis menurun tajam.
Apabila biasanya penjualan seperti tisu, pampers, dan minuman bisa tumbuh rata-rata 15%, tahun ini baru tumbuh 2,7%.
Bila ada alasan bahwa masyarakat berbelanja melalui daring, ternyata datanya tidak menunjukkan seperti itu.
Angka penjualan barang konsumsi di toko-toko ritel turun sampai Rp37 triliun, sedangkan penjualan melalui daring hanya naik Rp1,7 triliun.
Persoalan terbesar yang harus menjadi perhatian memang kelompok yang nyaris miskin.
Mereka tidak masuk ke Program Keluarga Harapan yang berhak mendapat bantuan nontunai Rp1,89 juta per tahun dan bantuan pangan nontunai Rp110 ribu per bulan.
Mereka mudah tergelincir masuk kelompok miskin kalau biaya hidup meningkat.
Turunnya daya beli terkonfirmasi oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang dikeluarkan BPS. Kita melihat adanya perlambatan pertumbuhan konsumsi rumah tangga menjadi 4,93%.
Kita tidak pernah akan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi melewati 5% kalau konsumsi rumah tangga tidak bisa didorong sampai 6%.
Tantangan yang harus dijawab pemerintah ialah bagaimana meningkatkan daya beli kelompok nyaris miskin.
Ini tidak mudah karena karakteristik dari kelompok tersebut, keterampilan yang dimiliki, juga terbatas. Dibutuhkan program padat karya agar daya beli kelompok nyaris miskin ini bisa ditingkatkan.
Presiden sudah menekankan untuk memberi perhatian pada kegiatan padat karya.
Salah satunya mendorong dana desa sebagai alat untuk menyediakan lapangan kerja sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.
Namun, dana Rp60 triliun yang tersedia tahun ini tidak cukup memadai untuk menyelesaikan semua persoalan.
Suka tidak suka kita masih membutuhkan industri manufaktur yang bisa menyerap tenaga besar seperti tekstil dan sepatu.
Sayang kita sering ingin melompat terlalu cepat. Kita menganggap industri itu sudah sunset, padahal kita belum pernah mempersiapkan angkatan kerja untuk naik kelas agar bisa terlibat dalam kegiatan industri yang lebih tinggi.
Baru sekarang kita ingin membenahi pendidikan vokasi agar keterampilan angkatan kerja bisa lebih tinggi.
Namun, semua itu membutuhkan proses dan tidak bisa tiba-tiba angkatan kerja lalu lebih terampil.
Pada masa transisi seperti sekarang, harus ada langkah antara yang bisa menyelesaikan persoalan penurunan daya beli karena kebutuhan konsumsi tidak bisa ditunda.
Sepanjang kita tidak mencoba memahami akar persoalan dan mencarikan langkah terobosan yang out of the box, kita tidak mungkin keluar dari perangkap pertumbuhan yang mendatar.
Kurva pertumbuhan ekonomi kita akan menyerupai huruf 'U' dan kita sedang berada dalam fase di dasarnya.
Langkah seperti sekarang yang sekadar mengejar penerimaan pajak jelas bukan langkah yang diharapkan.
Benar kita butuh penerimaan untuk mencegah pembengkakan defisit anggaran, tetapi dalam situasi seperti sekarang langkah itu justru akan semakin menekan angka pertumbuhan.
Apalagi, upaya peningkatan penerimaan pajak masih menggunakan cara 'berburu di kebun binatang'.
Yang ada pengusaha makin takut berinvestasi dan kelompok menengah atas menahan belanja mereka.
Aneh kalau para pengelola bidang ekonomi kita kalah kreatif ketimbang pejabat di India, Tiongkok, Singapura, atau Vietnam yang mampu mendorong pertumbuhan tinggi di tengah kondisi global yang masih belum menentu.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved