Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Tafsir Jokowi Mantu

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
10/11/2017 05:31
Tafsir Jokowi Mantu
(ANTARA FOTO/Maulana Surya)

SAYA menonton Jokowi mantu pada Rabu (8/11) lewat televisi, juga media sosial. Hampir seluruh televisi nasional hari itu menyiarkan secara langsung pernikahan putri Presiden Jokowi, Kahiyang Ayu, dengan Mohammad Bobby Afif Nasution di Gedung Graha Saba Buana, Solo, Jawa Tengah.

Konsep tradisional memang lekat dalam perhelatan ini, dari prosesi kirab, siraman, midodareni, akad nikah, hingga resepsi. Untuk mendapatkan suasana khas Jawa-Solo, banyak penyiar televisi mengenakan busana serupa itu. Ini bukan kali pertama Jokowi mantu di Graha Saba.

Pada Juni 2015 anak sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, juga pesta nikah di gedung milik keluarga sang ayah ini. Namun, dari sisi kekentalaan tradisi dan adat, kemeriahan sebuah pesta, tontonan aneka hiburan, serta 'nuansa persatuan', memperteguh kebinekaan, pernikahan Kahiyang-Bobby memang melampaui perhelatan yang pertama.

Kali ini hampir seluruh menteri hadir sebagai penerima tamu. Jokowi seperti ingin menunjukkan yang tradisional tak harus disingkirkan meski ini abad milenial sekaligus menunjukkan loyalitas dan kekompakan anggota kabinetnya. Kita bisa melihat dengan jelas, ada kesakralan akad nikah dalam bingkai syariah yang kuat, tapi ada nuansa budaya Nusantara yang kental.

Ada banyak elite politik dari banyak partai hadir, ada mantan presiden dan wakil presiden (kecuali BJ Habibie dan Hamzah Haz). Terlebih dengan hadirnya Ketua Umum PB NU Said Agil Siradj (membawakan khotbah nikah), Ketua Umum PP Muhammadiyah Haidar Nashir (membaca doa 'Islam berkemajuan'), Buya Syafii Maarif, dan Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin di seputar meja pernihakan, jelas pesan yang hendak disampaikan Jokowi.

Dengan hadirnya Din Syamsuddin (yang membaca doa resepsi malam hari) kian jelas pula pesan rangkulan mantan Wali Kota Solo itu. Makna lain lagi Jokowi mantu ialah Jokowi pulang kampung, dengan 8.000 undangan atau sekitar 16 ribu tamu hadir di acara akad nikah dan resepsi.

Kamar-kamar hotel penuh, penerbangan padat, juga kereta api. Jasa penyewaan mobil, tukang becak yang sengaja disewa untuk para tamu, para pedagang makanan, pakaian, suvenir, pastilah menangguk berkah. Berapa uang berputar di Solo karena Jokowi mantu? Berapa pula Jokowi harus keluar fulus untuk pernikahan itu?

Dari apa yang dilihat di panggung di Graha Saba, kita seperti disadarkan betapa kaya kita akan tradisi dan budaya yang secara serius harus selalu dirawat. Terlebih kita baru-baru ini mendapat pengakuan dari Organisasi Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan (UNESCO) bahwa Indonesia ialah negara superpower di bidang budaya.

Lembaga itu mengakui tidak ada negara yang punya warisan budaya sekaya Indonesia. Dalam konteks meneguhkan kebinekaan, Jokowi selalu mengingat pesan Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani Ahmadzai, saat keduanya bertemu, bahwa Indonesia tak boleh lengah dalam menjaga keberagaman.

Ashraf menceritakan, Afghanistan yang hanya memiliki tujuh etnik bisa dilanda konflik tak berkesudahan. Indonesia dengan 714 suku dan lebih dari 1.100 bahasa harus terus meneguhkan pluralitas itu. Tentu saja panggung Jokowi mantu, jika dilihat dari semiotika (ilmu tentang tanda), ia sebuah tanda yang terbuka.

Siapa saja boleh menasfirkannya. Sebagai tanda, ia bisa mengandung banyak makna. Kita bisa mengambil tafsir sesuai sudut pandang kita. Termasuk sudut pandang dari duo wakil Ketua DPR Fadli Zon dan Fahri Hamzah yang mengkritiknya. Namun, baik Fadli maupun Fahri keduanya mengirim karangan bunga ucapan selamat atas pernikahan Kahiyang-Bobby.

Menurut Fahri, Jokowi mantu tak mencerminkan revolusi mental yang ia canangkan. Jokowi dinilai tak patuh dengan Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 13 Tahun 2014 tentang Gerakan Hidup Sederhana yang diterbitkan ketika Yuddy Chrisnandi menjadi menteri.

Surat edaran itu membatasi jumlah undangan resepsi nikah para pejabat negara tidak lebih dari 400 undangan. Saya bisa memahami kritik itu sebab surat edaran itu masih berlaku, dan mestinya para pembesar negara mafhum. Tujuan surat edaran itu baik, meski kurang mempertimbangkan dari aspek sosiokultural masyarakat kita yang masih belum sepenuhnya lepas dari masyarakat paguyuban (gemeinschaft).

Jokowi seorang presiden, pemimpin yang menjadi kebanggaan rakyat Solo, punya banyak relawan, mantu tentu menjadi ruang untuk berbagi kebahagiaan. Tentu jika Jokowi mantu dengan bersahaja itu yang utama. Namun, makna publiknya dari sisi pers, saya kira, ialah adanya pesan jelas soal menjaga tradisi dan adat, meneguhkan kebinekaan, dan pemimpin yang tak lupa akan daerahnya.

Bahwa surat edaran menteri tak akan lagi efektif dipatuhi, itu pasti. Karena itu, agar tak mengganjal, surat edaran itu sebaiknya dicabut dan diganti dengan aturan yang lebih realistis tapi tetap menekankan hidup sederhana bagi para pejabat negara.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.