Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Jenderal-jenderalan

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
22/6/2015 00:00
Jenderal-jenderalan
(Grafis/SENO)
PERASAAN saya campur aduk tiap kali melihat menteri berpakaian dinas berderetan bintang di bahu bak seorang jenderal. Suatu kali saya merasa geli sendiri karena pemakainya kelihatan wagu, alias kaku dan 'beku'. Gagah artifisial, membuat saya tertawa kecil, dalam hati. Kali lain, kembali melihat 'jenderal-jenderalan' itu di layar televisi membuat saya terusik berat.

Maaf, sejuta maaf, tidakkah sang menteri tengah mematut-matut diri berwibawa sebagai petinggi negeri, dalam identitas baru? Lebih dulu saya harus memeriksa ulang diri sendiri, siapa tahu saya kehilangan kewajaran dalam memandang. Tidakkah saya rada 'eror' sehingga melihat menteri berseragam dinas dengan bintang-bintang di bahu terlihat seperti orang-orangan di sawah menakut-nakuti burung?

Suatu hari di masa Jokowi baru menjadi Gubernur Jakarta, saya juga geli melihatnya berpakaian dinas dengan tiga bintang di bahu, membalut tubuh kerempeng. Namun, kayaknya Jokowi punya cermin autokritik. Gubernur nyaris tak terlihat lagi mengenakannya. Ia lebih kerap berkemeja putih dan tampak pas hingga kini sebagai presiden. Gubernur ialah kepala daerah.

Ia pemimpin teritorium. Di wilayahnya setidaknya ada pangdam dan kapolda yang di bahunya bertengger paling banyak dua bintang. Jadi, ada logikanya bila gubernur berbaju dinas berbintang tiga, lebih tinggi daripada pangdam dan kapolda. Pertanyaannya, apa logikanya menteri mengenakan banyak bintang di bahunya? Bintang empat milik kepala staf angkatan, Kapolri, juga Panglima TNI, sekalipun Panglima TNI di atas kepala staf.

Dari sudut tingginya pangkat, berpikir linear, presiden sebagai Panglima Tertinggi TNI kiranya berbintang lima. Namun, perwira tinggi bintang lima sebaiknya dipertahankan hanya sebagai predikat kehormatan untuk sangat sedikit prajurit hebat, sangat hebat. Jangan diobral, misalnya otomatis presiden ialah jenderal berbintang lima.

Demikianlah sebanyak-banyaknya bintang di bahu presiden ya cuma empat. Namun, sebaiknya presiden, sebagai supremasi sipil, tidak usah mengenakannya, berapa pun banyaknya bintang yang disematkan. Lalu berapa pantasnya, patutnya, pasnya bintang di bahu menteri yang notabene pembantu presiden dan bukan pula jenderal beneran?

Logikanya, tentu di bawah empat, terbanyak tiga. Karena itulah, saya geli sendiri melihat ada menteri yang di bahunya bertengger empat bintang. Menteri itu ialah Menteri Perhubungan Ignasius Jonan. Jonan pemimpin korporasi yang sukses melakukan turnaround di PT KAI. Ia tegas terhadap kasus Air Asia yang jatuh akhir tahun lalu, yang saat itu terbang tanpa izin dari Surabaya.

Ia juga bertindak keras terhadap aparat di Bandara Pekanbaru yang kecolongan meloloskan penumpang gelap naik di roda pesawat sampai Bandara Soekarno-Hatta. Akan tetapi, memandang sang menteri di layar TV mengenakan seragam berbintang empat di bahu membuat saya terkadang geli sendiri, teringat jenderal-jenderalan atau orang-orangan di sawah.

Bahkan, terkadang meragukannya, tidakkah ia sedang berbenah identitas? Jangan-jangan ketegasan tindakannya hanyalah bagian proses beridentitas, setelah mengalami mobilitas vertikal kagetan, dari Dirut KAI menjadi menteri. Saya harap saya keliru besar. Semua bahasan sok pintar itu, sejuta maaf, sebenarnya hanya menuju satu saran agar Menteri Perhubungan mengurangi satu bintang di bahu. Jauh lebih baik tanggalkan saja seragam jenderal-jenderalan itu, yang juga tampak seperti orang-orangan di sawah.


Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.