Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Kasus Novel dan Posisi Polri

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
06/11/2017 05:31
Kasus Novel dan Posisi Polri
(MI/ROMMY PUJIANTO)

PRESIDEN Jokowi bakal memanggil Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk menanyakan sejauh mana penanganan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan. "Yang jelas, semua masalah harus gamblang, harus jelas, harus tuntas," katanya. 'Hukum kejanggalan' kiranya tidak terhindarkan untuk ditudingkan dalam kasus Novel.

Peristiwa terjadi 11 April 2017, tetapi lebih setengah tahun, hingga kini Polri belum berhasil mengungkap siapa pelakunya. Yang bikin bertambah janggal ialah Polri seperti memilih tiarap di ruang publik, berbeda dengan gairah Polri tampil di ruang publik, memosisikan kinerja mereka, dalam mengungkap kasus kematian Mirna setelah menyeruput kopi di sebuah restoran.

Sepertinya bukan perbandingan apel dengan apel menyandingkan dimensi kepublikan kasus Mirna dan kasus Novel. Padahal, kasus Mirna, kasus Novel, dan kasus-kasus kejahatan lainnya punya substansi kepublikan yang sama, yaitu perihal kekuasaan Polri dan pertanggungjawaban Polri dalam pengawasan kejahatan dan membongkar kejahatan.

Sesungguhnya dan senyatanya telah lebih banyak kekuasaan diberikan kepada Polri dalam peran penegakan hukum serta peran penegakan ketertiban umum dan penyelenggara keamanan. Polri tidak lagi di bawah 'ketiak' TNI, khususnya Angkatan Darat. Sekadar mengingatkan, sejak 1 Juli 2000 Polri memasuki sejarah baru langsung di bawah presiden.

Kekuasaan harus disertai dengan pertanggungjawaban. Semakin besar kekuasaan semakin besar pula pertanggungjawaban kepublikan. Postulat itu kiranya harus disadari benar oleh Polri, apa pun kasusnya. Posisi Polri tidak lagi kabur. Posisinya juga tidak buram. Posisinya tegas, jelas, tuntas.

Karena itu, bukan perkara aneh bila Presiden menagih kemampuan Polri agar kasus Novel harus gamblang, jelas, tuntas. Dalam pandangan saya sekurang-kurangnya, lebih besar kekuasaan Polri lebih banyak perintang untuk orang melakukan kejahatan dan lebih banyak kasus dibongkar.

Akan tetapi, kiranya 'musuh dan rival' Polri bersemayam di dalam tubuhnya sendiri. Harus dikatakan dengan jujur kayaknya Polri, dalam superioritas kekuasaan di bawah Presiden itu, tidak mengembangkan kultur dan mekanisme psikologi 'shadow boxing’. Melius non tangere, clamo, kata peribahasa Latin. Kamu kuperingatkan, lebih baik jangan menyentuh aku.

Peringatan itu mungkin tidak benar, tapi fakta bahwa Novel mantan perwira menengah Polri yang dalam jabatannya di KPK telah 'menyentuh' seorang jenderal polisi. Itu fakta yang luar biasa bagi institusi Polri yang berkuasa, yang pula punya rasa hormat yang tinggi kepada senior.

Namun, buanglah jauh-jauh pendapat miring itu. Katakanlah sejujurnya bahwa Polri tidak seperti pepatah Latin itu. Polri bersungguh-sungguh membongkar kejahatan terhadap Novel. Polri punya kesulitan sehingga berada di jalan buntu. Baiklah diterima pernyataan kepada publik, bahwa Polri kembali memulai dari awal. Karena itu, publik diminta bersabar dalam kejujuran itu.

Kesabaran publik itu berkaitan dengan ekspektasi yang disandangkan kepada Presiden. Tiga tahun memimpin negara ini, tinggi kepuasan publik kepada Jokowi. Termasuk bersemi kepercayaan publik bahwa di masa Jokowi tidak ada perkara yang berkepanjangan menjadi misteri seperti kasus Munir. Karena itu, wajib hukumnya Presiden menagih Kapolri.

Kasus Novel bermakna simbolis bagi publik. Bukan semata dalam pemberantasan korupsi yang diemban KPK, melainkan hemat saya, juga mencerminkan kuatnya harapan bahwa Polri yang berkedudukan langsung di bawah presiden itu memang sudah tepat dan benar berada di situ.

Sebaliknya, bisa kembali tumbuh pemikiran untuk meninjaunya ulang bila ternyata bahwa kedudukan kekuasaan itu bukan satu-satunya jalan utama untuk tegaknya supremasi hukum serta tegaknya ketertiban dan terpeliharanya keamanan. Pikiran dibentuknya tim gabungan pencari fakta kasus Novel, sedikit atau banyak, mengekspresikan keraguan kepada Polri.

Polri lalu disorot, entah di bawah Kementerian Dalam Negeri atau Kementerian Hukum dan HAM. Sebuah pemikiran ulang yang berlebihan muncul, tetapi sepatutnya menjadi pikiran serius bagi Polri.



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.