Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Restu untuk Kader Melompat-lompat

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
30/10/2017 05:03
Restu untuk Kader Melompat-lompat
(Ilustrasi)

APAKAH tepat penghakiman terhadap seorang kader partai yang melompat-lompat, dari satu partai ke partai lain?

Hitam putih kader itu dihakimi sebagai orang yang tidak setia.

Jika model penghakiman itu yang dipakai, kiranya cukup signifikan jumlah elite dari Sabang sampai Merauke yang tergolong tidak setia.

Mereka disebut kutu loncat atau kader kos-kosan.

Semuanya bernada negatif karena memandangnya dari sisi sempit, partai yang ditinggalkan.

Padahal, melompat-lompat itu bagus bila dipandang dari kepentingan yang lebih besar.

Partai ialah salah satu pilar penting demokrasi.

Suatu partai tidak selamanya pas untuk ukuran 'badan' dan 'baju' seorang kader.

Dalam pilihan perseorangan itu, sepanjang ideologi partai sama, bahkan visi dan misi sama, padahal partai itu bersifat terbuka, menjadi 'pelompat indah' untuk tanggung jawab yang lebih besar perlu mendapat dukungan positif.

Sebutlah misalnya tanggung jawab yang lebih besar dari bupati atau wali kota menjadi gubernur.

Orang itu punya pandangan vertikal pengembangan diri untuk menjadi pemimpin yang lebih luas.

Orang macam itu sesungguhnya dan senyatanya tidak boleh lagi dipandang dan diperlakukan semata sebagai milik sebuah partai.

Orang itu anak bangsa, milik bangsa, dan karena itu, partai harus punya rasa hormat kepada kemampuan perseorangan.

Dalam perspektif tanggung jawab yang lebih besar itulah orang sekaliber Ridwan Kamil perlu dipandang dalam pencalonannya menjadi Gubernur Jawa Barat.

Mengutip sebuah pendapat, kepemimpinan ialah kemampuan membuat batas-batas baru dan melampauinya.

Batas-batas baru itu yang ingin ditembus Ridwan Kamil dengan memimpin salah satu provinsi terbesar di negeri ini.

Seorang Khofifah Indah Parawansa kiranya contoh lain yang juga berhasrat besar membuat batas-batas baru dan melampauinya dengan menjadi Gubernur Jawa Timur.

Ia berhasrat besar, bahkan tanpa mengenal kalah dan menyerah.

Ia terus memelihara gairahnya untuk memimpin Jawa Timur, sekalipun dua kali kalah dalam pilgub.

Yang menarik, Ridwan Kamil dan Khofifah, keduanya belum punya calon wakil gubernur.

Tampaknya partai pengusung mereka cenderung memberikan kebebasan kepada keduanya untuk memilih sang wagub.

Terbaca di permukaan, antara lain, kedua cagub itu bakal memilih bupati yang masih aktif sebagai cawagub.

Untuk Jawa Timur, disebut-sebutnya Bupati Trenggalek Emil Dardak untuk mendampingi Khofifah langsung diserang sebagai tidak etis.

Alasannya, jika itu terjadi, berarti sang bupati praktis berpindah partai serta meninggalkan jabatan bupati yang belum selesai diemban.

Serangan terakhir itu sebetulnya mengada-ada. Negeri ini punya contoh bagus.

Jokowi belum tuntas menyelesaikan masa jabatannya yang kedua sebagai Wali Kota Surakarta ketika dicalonkan menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Ia pun belum menyelesaikan masa jabatannya selaku Gubernur DKI Jakarta ketika menjadi capres.

Jokowi kiranya contoh seorang pemimpin yang membuat batas-batas baru, untuk tanggung jawab yang lebih besar.

Seorang Azwar Anas meninggalkan masa jabatan kedua selaku Bupati Banyuwangi, untuk menjadi cawagub mendampingi Saifullah Yusuf sebagai cagub Jawa Timur.

Kenapa perkara yang sama tidak boleh dilakukan Emil Dardak, Bupati Trenggalek, untuk menjadi cawagub Jawa Timur mendampingi Khofifah?

Anas dan Saiful kiranya juga dua contoh kader yang melompat-lompat.

Tidak ada yang menilai mereka tidak etis secara politik.

Kenapa Emil Dardak, 33, seorang muda cemerlang, dinilai tidak etis dan dihalangi untuk melakukan lompatan indah yang sama, berkeinginan membuat batas-batas baru menjadi pemimpin di Jawa Timur?

Sungguh tidak sehat bagi demokrasi menghalangi Khofifah memilih pasangannya yang dapat meningkatkan keterpilihannya.

Bangsa ini perlu lebih banyak pemimpin, dari Sabang hingga Merauke.

Partai sendiri harus pula membuat batas-batas baru, dalam pengertian yang mendalam, untuk menghasilkan pemimpin bangsa.

Kader partai demikian itu telah berkembang melampaui batas-batas lama, ke luar dari ukuran-ukuran sempit.

Hemat saya, keliru besar menghakimi mereka sebagai kader kos-kosan, kutu loncat, yang tidak setia, yang tidak etis secara politik.



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.