Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Ketika Petani Terganggu

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
28/10/2017 05:31
Ketika Petani Terganggu
(ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha)

DALAM kolom ini sebelumnya kita mengangkat keluhan petani tebu tentang peraturan perdagangan yang mengimpit mereka. Para petani tebu ternyata segera mengambil tindakan dan tidak lagi memedulikan peraturan pemerintah.

Mereka memutuskan untuk tidak menjual gula produksi mereka ke Badan Urusan Logistik. Kita perlu mengingatkan pemerintah untuk tidak main-main dengan petani.

Mereka sepertinya selalu nrimo. Petani umumnya memang menerima saja segala macam peraturan meski itu merugikan mereka. Namun, ketika sudah mengena pada harga diri mereka, petani bisa bertindak di luar yang kita duga.

Sejarawan Sartono Kartodirdjo pernah menulis buku tentang pemberontakan petani di Banten pada 1888. Petani Banten tiba-tiba berani melawan penjajah Belanda karena tindakan pihak kolonial yang sudah di luar batas. Pajak yang dikenakan kepada petani sudah mencekik leher mereka.

Kita tidak bermaksud memanas-manasi keadaan. Namun, kondisi yang dihadapi petani tebu hampir sama. Mereka diwajibkan untuk menjual gula produk mereka kepada Bulog dengan harga yang sudah ditentukan pemerintah.

Kalau tidak menjual ke Bulog, petani harus mendapatkan sertifikat nasional Indonesia. Berbeda dengan produk pabrikan, mendapatkan SNI untuk produk pangan tidaklah mudah.

Mereka harus terlebih dahulu mendapatkan surat rekomendasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan. Dengan itulah mereka bisa mengurus SNI ke Badan Standardisasi Nasional.

Belum selesai dengan persoalan itu, petani tebu juga dihadapkan pada persoalan pajak. Pajak pertambahan nilai yang dikenakan terhadap penjualan tebu memang sudah dicabut Menteri Keuangan. Akan tetapi, pajak penjualan tetap ditarik Bulog dari petani.

Kalau petani tebu memiliki nomor pokok wajib pajak, besar PPn yang harus dibayarkan sebesar 1,5%. Namun jika tidak memiliki NPWP, mereka akan dikenai PPn sebesar 3%.

Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia sudah mengancam akan menyampaikan protes langsung ke Presiden. Mereka menuntut perhatian Presiden untuk mencarikan jalan keluar yang tidak mengimpit kehidupan petani tebu.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito menyampaikan bahwa pemerintah tidak pernah memaksa petani untuk menjual gula ke Bulog. Perintah pembelian gula petani oleh Bulog justru dimaksudkan untuk melindungi petani ketika harga di bawah biaya produksi.

Ketika pasar bisa membeli gula produksi petani lebih tinggi daripada harga Bulog, petani bebas untuk menjualnya. Tentang PPn yang dikeluhkan petani tebu, Enggartiasto mengatakan kewenangan itu ada pada Menteri Keuangan.

Pihaknya sudah menyurati Menkeu untuk menghapuskan PPn itu, tetapi sampai saat ini keputusan Menkeu belum juga keluar. Sekali lagi kita mengingatkan pemerintah untuk turun ke bawah mendengarkan persoalan yang dihadapi rakyat.

Tidak mungkin keputusan diambil sambil duduk di belakang meja. Pemerintah harus tahu bagaimana kondisi para petani tebu agar keputusan yang dikeluarkan sesuai dengan akar persoalan dan bisa menyelesaikan masalah.

Keberpihakan kepada petani harus dilebihkan karena mereka umumnya adalah kelompok warga yang tertinggal. Kemiskinan yang masih 11% terbanyak ada pada keluarga petani.

Nilai tukar petani pun cenderung terus menurun sehingga mereka semakin jauh tertinggal kesejahteraannya jika dibandingkan dengan kelompok masyarakat yang lain.

Pemerintah harus hadir untuk membela petani bukan hanya karena mereka harus dientaskan dari kemiskinan. Di sisi lain, mereka adalah pilar untuk menjaga ketahanan dan keamanan pangan nasional.

Pemihakan kepada petani dilakukan semua negara di dunia karena semua tahu bahwa tidak mungkin sebuah negara menggantungkan kebutuhan pangannya kepada negara lain, terutama untuk bahan pangan pokok harus bisa dipenuhi kemampuan sendiri.

Peningkatan produksi pangan tidak cukup dilakukan dengan menemukan bibit unggul dan cara penanaman yang benar, tetapi petani harus dijaga untuk mau tetap bekerja di sektor pertanian.

Di Uni Eropa, petani bahkan diberi insentif khusus agar mau mempertahankan lahan pertanian dan meningkatkan produksi mereka. Kalau kita terus membiarkan petani untuk menanggung bebannya sendiri dan tidak ada keberpihakan dari negara, kita siap-siap saja untuk ditinggalkan petani.

Kita harus sadar bahwa ada tiga persoalan yang menjadi ancaman ke depan, yaitu ketersediaan pangan, energi, dan air. Banyak pemerintahan goyah karena lupa memperhatikan petani dan ketersediaan pangan.



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.