Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Tanjung Priok

SURYOPRATOMO/Dewan Redaksi Media Group
20/6/2015 00:00
Tanjung Priok
(Antara)
SUDAH lama kita mendengar lelucon, "Kalau bisa dipersulit, mengapa harus dipermudah?" Rupanya satire itu tidak juga mengubah kita untuk mau memperbaiki diri. Sikap dan perilaku kita masih saja mencerminkan ketidakefisienan. Itulah yang membuat Presiden Joko Widodo tidak bisa menutupi kekesalannya.

Saat melakukan inspeksi ke Pelabuhan Tanjung Priok, Rabu (17/6), Presiden bertanya apa yang membuat proses bongkar dan muat barang begitu lama? Rata-rata waktu untuk bongkar dan muat barang dari atas kapal 5,5 hari. Paling lama bahkan bisa di atas 20 hari.

Padahal, kapasitas kapal kontainer yang masuk Tanjung Priok maksimal hanya 8.000 teu. Bagaimana kalau yang masuk kapal superkontainer yang sekarang ini kapasitasnya mencapai 18 ribu teu?

Hal yang membuat Presiden kesal tidak ada satu pun pejabat yang bisa memberikan jawaban pasti. Padahal, penyebab itulah yang akan membuat kita bisa mencari jalan keluarnya. Kalau tidak mampu mengidentifikasi masalah, bagaimana kita akan bisa memecahkannya?

Berpuluh-puluh tahun ketidakefisienan dibiarkan terjadi di Tanjung Priok. Setiap tahun ketidakefisienan itu membuat kita mengalami kerugian sekitar Rp750 triliun. Semua mencoba tutup mata, seakan-akan tidak ada persoalan.

Kalau kita mau dalami, begitu banyak masalah yang ada di Tanjung Priok. Bukan hanya soal dwelling time yang dipersoalkan Presiden, melainkan konektivitasnya ke luar pelabuhan. Bagaimana volume barang yang begitu besar hanya diangkut dengan menggunakan truk.

Sementara pelabuhan-pelabuhan besar dunia semakin lancar untuk keluar-masuk barang, Tanjung Priok malah semakin lambat. Jalur kereta api yang di zaman Belanda bisa sampai pinggir pelabuhan sekarang malah menghilang. Niat pemerintah untuk menembus 'blokade' itu tidak pernah bisa berhasil.

Tidak usah heran apabila Singapura semakin berjaya untuk memanfaatkan poros maritim. Singapura semakin memperluas pelabuhannya karena permintaannya terus meningkat. Semua puas untuk melakukan bongkar dan muat di sana karena pelayanan yang diberikan istimewa.

Direktur Utama PT Pelindo I Bambang Eka Cahyana saat berbicara pada Hari Pers Nasional secara gamblang pernah mengemukakan persoalan yang kita hadapi dalam penanganan maritim. Kita lemah dalam teknologi dan juga sumber daya manusia. Hal itu semakin diperlemah sistem komputer yang tidak compatible antara satu pelabuhan dan pelabuhan yang lain.

Masalah lain yang disoroti Bambang ialah konektivitas dan penunjang di daratan. Kita tidak pernah memikirkan pengembangan pelabuhan untuk 10 atau 20 tahun mendatang. Saat akan memperluas wilayah pelabuhan, pasti akan terkendala oleh lahan yang sudah ditempati penduduk.

Presiden Jokowi sudah mencanangkan poros maritim. Sekarang tidak perlu ragu-ragu menuntaskan semua hambatan. Jangan biarkan pelabuhan dikelola seperti kerajaan-kerajaan kecil. Kita harus membangun kerajaan laut yang besar karena kita negara kepulauan terbesar.

Di masa depan, tetap berlaku, negara yang menguasai dunia ialah negara yang menguasai lautan. Indonesia harus rule the waves, bukan sebaliknya wave the rules. Kita harus menjalankan prinsip kalau bisa dipermudah, ya dipermudah saja, tidak perlu dipersulit. Hanya dengan itu kita akan bisa mencapai efisiensi dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.

Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.