Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
TEPAT tiga tahun Jokowi menjadi presiden (20/10), hari itu WA saya dibanjiri kiriman hasil survei kinerja sang pemimpin, disertai berbagai komentar.
Akan tetapi, ada satu komentar singkat, 'Salam 2 periode'.
Salam itu tidak disertai tanda seru.
Kiranya hanya orang yang percaya diri dengan bukti-bukti empiris yang meyakinkan, yang siap mengajak ke suatu sasaran atau tujuan tanpa perlu disertai tanda seru.
Semakin banyak tanda seru menunjukkan sebaliknya.
Di sebuah rumah dipasang 'Awas anjing galak'.
Tanpa tanda seru.
Rumah lain pakai satu tanda seru, 'Awas anjing galak!'.
Rumah lain lagi dua tanda seru. Bahkan, ada yang pakai tiga tanda seru.
Apakah lebih banyak tanda seru anjingnya lebih galak? Yang lebih galak mungkin orangnya.
Banyaknya tanda seru itu kiranya lebih mengekspresikan pemilik anjing itu kurang percaya diri bahwa pesan yang dikomunikasikan tersampaikan.
Kitab suci antara lain berisi seruan.
Dalam sebuah kitab suci yang saya baca, jarang ditemukan tanda seru.
Salah satunya, 'Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!'
Ada dua hal pokok hasil survei tiga tahun pemerintahan Jokowi yang rasanya berbunyi tanpa perlu tanda seru.
Pertama, kepuasan yang bahkan mencapai 70,8%.
Kedua, bila pada hari survei Litbang Kompas itu dilakukan (26 September-8 Oktober 2017) pemilu diselenggarakan, sebanyak 46,3% menyatakan bakal memilih Jokowi untuk melanjutkan memimpin Republik ini.
Masih ada 23,6% yang belum menjawab. Perkara lumrah.
Masih ada waktu dua tahun bagi Jokowi untuk bekerja keras dan bekerja cerdas memberi lebih banyak bukti.
Akan tetapi, sepuas-puasnya rakyat, tidak sehat bagi demokrasi jika 100% responden menyatakan memilih kembali Jokowi.
Banyak alasan kenapa kepuasan kepada Jokowi tinggi, antara lain ia memenuhi janji Indonesia sehat dan Indonesia pintar, dua kartu andalannya dalam debat publik capres.
Tiga tahun menjadi presiden, ia telah membagikan secara langsung 1.286.395 lembar kartu Indonesia sehat untuk warga 514 kabupaten dan kota.
KIS telah diterima 182 juta penduduk Indonesia.
Ia juga membagikan langsung dari tangannya sendiri 46.336 lembar kartu Indonesia pintar di 39 kota dan kabupaten.
Total lebih 8 juta KIP telah dibagikan kepada siswa-siswa sekolah.
Yang paling kelihatan oleh rakyat ialah kerja besar membangun infrastruktur yang hasilnya tidak perlu tanda seru untuk meyakinkan publik.
Total jalan yang sudah dibangun 2.623 kilometer.
Panjang jembatan yang telah dibangun 25.149 meter.
Tujuh bandara baru sudah dibangun dan 439 bandara lama telah pula dibenahi.
Presiden pun telah membagikan langsung 137.035 lembar sertifikat hak milik tanah untuk rakyat.
Tampaklah kata kuncinya ialah 'sudah' atau 'telah'. Karena 'telah' atau 'sudah' dikerjakan, rakyat tidak perlu banyak tanda seru untuk diyakinkan.
Rakyat dapat membuktikan di lapangan dan merasakan sendiri maslahatnya.
Akan tetapi, Republik ini besar dan luas serta banyak ketinggalan yang tidak dapat diselesaikan serentak dalam tiga tahun, bahkan dalam lima tahun.
Jokowi berpendirian tidak mengerjakan semuanya dan semuanya tidak selesai.
Hasilnya mangkrak. Jokowi berani mengambil prioritas dan fokus membangun infrastruktur.
Dalam bahasanya sendiri kepada harian ini dalam wawancara khusus, "Kalau saya kembali lagi ke satu-satulah. Artinya setelah infrastruktur, lalu pembangunan sumber daya manusia."
Otoritas Jokowi hasil pilihan rakyat dan otoritas itu dilaksanakan bukan tanpa gangguan. Terjadi kegaduhan bernapaskan agama yang bisa memukul mundur bangsa dan negara ini jauh ke belakang.
Kegaduhan diatasi berkat kepemimpinan yang kuat dan jujur.
Di era kebebasan berserikat, hanya pemimpin yang kuat dan jujur tegar menerbitkan perppu mengenai ormas.
'Salam 2 jari' hendak diteruskan dengan 'Salam 2 periode', tanpa tanda seru.
Tentu saja Jokowi dan para pembantunya dan pendukungnya harus menjawab macam-macam tanda tanya seperti daya beli dan lapangan kerja yang disuarakan kalangan oposisi.
Bukan oposisi namanya kalau tidak bersuara 'lain' dengan banyak sekali tanda seru.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved