Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Tiga Tahun

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
21/10/2017 05:31
Tiga Tahun
(ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)

Bagi sebuah bangsa, tiga tahun merupakan perjalanan yang sangat pendek. Apalagi kita tahu membangun bangsa dan negara seperti yang dicita-citakan para pendiri bangsa boleh jadi merupakan pekerjaan yang tidak pernah akan berakhir.

Terlalu berlebihan apabila kita berharap pada tiga tahun pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla seluruh persoalan bisa diselesaikan. Yang kita harapkan dari para pemimpin negara ialah meletakkan dasar yang kukuh bagi perjalanan panjang bangsa ini ke depan.

Dasar yang kukuh itu bukan sekadar ketersediaan infrastruktur, melainkan juga pendidikan yang berkualitas, kohesi sosial yang baik, sistem politik yang memperkukuh persatuan, dan sistem hukum yang menegakkan keadilan.

Inti dari semua itu, kita berharap hadirnya sosok pemimpin yang bisa menjaga values baik dari bangsa ini. Nilai-nilai tentang bagaimana mau peduli kepada sesama, nilai-nilai untuk bersikap jujur, nilai-nilai untuk mau berkorban bagi kepentingan bangsa dan negara.

Belum tercapainya kesejahteraan umum seperti yang tertulis dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 ialah karena melunturnya nilai-nilai kita sebagai bangsa. Sikap yang lebih kuat menonjol ialah sikap egois dan mementingkan diri sendiri.

Prinsip yang lebih mencuat ialah ‘me... me... me... more... more... more... saya... saya... saya... lagi... lagi... lagi...’. Tidak salah apabila tokoh pengusaha seperti Theodore Permadi Rachmat mengajak kita untuk membangun kembali nilai-nilai baik dari bangsa ini.

Paling tidak kita mulai dari tiap-tiap kita untuk mau menanamkan sikap less for self, more for others, enough for everybody. Kita ingin mengulangi pesan yang disampaikan Profesor Emeritus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Dorodjatun Kuntjoro-jakti tentang tantangan ke depan yang akan kita hadapi, yakni saat kita memasuki 2050 ketika jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 300 juta jiwa.

Tantangan dari bangsa ini ialah banyaknya warga yang akan tua sebelum kaya. Konsekuensinya mereka akan kesulitan untuk bisa menjalani hidup yang berkualitas. Ketika jatuh sakit, mereka tidak akan mampu membiayai pengobatan dirinya.

Sesuai dengan perintah konstitusi, negara harus hadir untuk menjamin dan melindungi kehidupan segenap warga. Pertanyaannya, dari mana negara mendapatkan modal untuk melindungi kehidupan seluruh warga itu?

Bagaimana negara mengompensasi longterm liabilities dengan longterm assets? Tugas pemerintah sekarang dan yang akan datang ialah membuat negara ini memiliki banyak aset produktif. Semua aset itu tidak harus dikuasai dan dikelola negara.

Swasta bisa dilibatkan untuk memanfaatkan sumber daya yang ada. Namun, aset-aset itu harus bermanfaat bagi bangsa dan negara. Kita harus jujur mengatakan, selama 72 tahun kita merdeka tidak banyak aset yang kita kembangkan sendiri dari nol.

Aset-aset besar yang dimiliki negara hampir semua berasal dari hasil nasionalisasi. Ladang minyak di Riau kita ambil alih dari Caltex Pacific. Inalum kita dapatkan dari Jepang. Blok gas Mahakam diambil alih dari Total.

Sekarang kita sedang berjuang mengambil tambang Grasberg dari Freeport McMoran. Pekerjaan yang tidak kalah penting dilakukan ialah bagaimana membuat putra-putra Indonesia bisa benar-benar hebat.

Jepang, Korea Selatan, Tiongkok memulai dengan cara ATM amati, tiru, modifikasi dan akhirnya mereka bisa membuat karya besar dan memproduksi karya itu sebagai produk dunia.

Mereka memiliki aset-aset yang memang dibangun dari awal oleh putra-putra bangsanya. Itulah yang juga harus kita bisa lakukan, seperti ketika Bung Karno membangun Semen Gresik dan Krakatau Steel.

Tiga tahun pemerintahan Jokowi-JK jangan hanya dipakai untuk melihat sebuah keberhasilan atau kegagalan. Kita harus melihatnya sebagai bagian dari proses untuk membuat kita menjadi bangsa dan negara yang hebat.

Kita tidak boleh cepat berpuas diri karena masih banyak pekerjaan besar yang harus kita selesaikan. Tingkat kepuasan dan kepercayaan masyarakat yang tinggi merupakan modal bagi kita untuk menapak lebih maju lagi.

Kita harus melihat dengan horizon yang lebih jauh ke depan karena tidak pernah ada yang berjalan linear. Perjalanan ke depan belum tentu lebih mudah karena banyak terjal yang harus dilewati.

Satu yang tidak boleh dilupakan ialah teruslah membangun komunikasi dengan seluruh pemangku kepentingan. Kesejahteraan yang ingin kita capai tidak boleh hanya dirasakan segelintir orang.

Seluruh rakyat harus merasakan kemajuan itu dalam kehidupan mereka. Presiden Amerika Serikat John F Kennedy pernah mengingatkan, usaha dan keberanian tidaklah cukup tanpa disertai penjelasan akan arah dan tujuan.

Pencapaian yang sudah bisa diraih dan perjalanan panjang yang akan kita sama-sama lalui harus selalu disampaikan kepada kepada seluruh rakyat. Itulah sebenarnya tugas dari pemimpin.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.