Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Kemungkinan 2019

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
17/10/2017 05:31
Kemungkinan 2019
(ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

TUNAI sudah satu periode kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta yang dijabat tiga nama. Inilah satu Pilkada DKI Jakarta 2012 yang melahirkan tiga gubernur, yakni Joko Widodo (Jokowi), Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dan Djarot Syaiful Hidayat.

Tentu saja masing-masing menduduki kursi Jakarta 1 hanya sepenggal periode. Jokowi dua tahun, Ahok dua setengah tahun, Djarot hanya empat bulan. Jokowi menjadi presiden, Ahok terpidana kasus penodaan agama, Djarot mungkin akan tetap berpolitik sesuai tugas partai (PDIP).

Ketiganya punya gaya kepemimpinan berbeda. Namun, mereka satu napas satu jiwa memimpin Jakarta. Tak ada hal prinsip yang menjadi penyebab konflik terbuka seperti pendahulunya, pasangan Fauzi Bowo-Prijanto, misalnya.

Prijanto bahkan mengundurkan diri setahun sebelum masa jabatannya habis. Namun, inilah pilkada DKI yang paling punya dinamika tinggi dalam sejarah pemilihan gubernur Ibu Kota. Ini pula pilkada dengan rakyat

Indonesia bisa menilai seperti apa kualitas kepemimpinan Jokowi, Ahok, dan Djarot di panggung Ibu Kota. Gubernur Jakarta inilah yang menjadi tiket buat Jokowi maju sebagai calon presiden pada Pemilu 2014.

Tentu nanti ini bisa pula berlaku bagi Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Ahok menjadi fenomenal, bukan saja ia Tionghoa dan ini baik bagi Indonesia tapi berani melawan 'siapa saja'.

Ahok, yang juga anggota DPR, seperti tengah menguji konstitusi yang memberi kesederajatan bagi seluruh warga negara. Ia kerap mengungkapkan dirinya mempunyai triple minority; Tionghoa, Kristen, dan bukan Jawa.

Mungkin karena itu pula, ia harus melipatgandakan kerja, keberanian, dan tentu kecakapan. Secara terbuka pula ia beberapa kali mengungkapkan ingin menjadi presiden. Karena itu, ia menjadi ‘penguji’ keindonesiaan yang baik.

Mungkin Ahok serius. Mungkin sebagai ‘test the water’ saja. Namun, saya melihatnya Ahok serius. Faktanya, di mana pun Ahok pergi selalu dipenuhi masyarakat yang ingin berdekatan dengannya.

Bahkan, di sebuah perhelatan di saat banyak pejabat tinggi hadir, Ahok tetap menjadi magnet. Kehadirannya selalu menimbulkan ‘kehebohan’, sekurangya para perempuan ingin berswafoto dengannya; kecuali ketika kampanye pada Pilkada 2017, ada warga yang menolaknya.

Dengan Ahok menjadi gubernur, terlebih lagi memang berkinerja baik, Indonesia kian menjadi harapan dalam mengelola kebinekaan. Bolehlah kita bangga dan bisa pamer bahwa di Jakarta, Indonesia, ada gubernur nonmuslim dan Tionghoa pula.

Ini sama seperti para wali kota muslim di Eropa, seperti Wali Kota London Sadiq Khan, Wali Kota Monte Argentario (Italia) Mohamed Arturo Cerulli, Wali Kota Rotterdam Ahmed Aboutaleb.

Banyak rakyat di beberapa daerah memimpikan punya model pemimpin seperti Ahok. Ia pun menjadi kandidat gubernur DKI Jakarta terkuat. Namun, malapetaka itu datang, kasus Al-Maidah 51. Ini menjadi amunisi ampuh untuk ‘menyelesaikan’ langkahnya.

Seluruh musuh Ahok bersukacita, sebaliknya para pendukungnya amat berduka. Lepas dari keputusan penjara dua tahun atas tekanan massa, tapi betapa penting ‘manajemen mulut’ bagi para pemimpin.

Meski berada dalam bui, survei Indikator Politik Indonesia di bulan September menempatkan Ahok dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo sebagai calon paling kuat untuk mendampingi Jokowi dalam Pilpres 2019.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menilai tingginya elektabilitas Ahok itu tidak lepas dari pengalaman Jokowi dan Ahok sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta pada 2012-2014.

Kata Burhan, masih banyak masyarakat yang ingin melihat duet itu terjadi di skala nasional meskipun Ahok menjadi terpidana. Namun, politikus Fahri Hamzah meminta publik jangan lagi membincangkan Ahok sebab dia telah menjadi narapidana.

"Jadi, yang sudah jadi beban (Ahok), sudahlah. Jadi, kita maju ke depan tanpa beban. Kita maju dengan sayap yang ringan dan tidak basah sehingga mudah dikepakkan, maka garuda kita terbang tinggi ke angkasa tanpa beban.

Sebaiknya seperti itu," kata Fahri beramsal. Maksudnya, Ahok sosok yang penuh beban. Dalam konteks politik saat ini bisa jadi Fahri benar sebab Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022 ialah Anies Baswedan dan Sandiaga Uno (Anies-Sandi).

Keduanya telah dilantik Presiden Jokowi pada Senin (16/10), dan Ahok telah menjadi bagian dari cerita pilkada Jakarta. Bisa jadi selama diterungku, Ahok belajar banyak hal, termasuk bagaimana seharusnya mengendalikan diri dan berkomunikasi tanpa harus melukai.

Namun, bagaimana bisa menghentikan kehendak publik? Apa pun cerita tentang Ahok, faktanya dengan Pilkada Jakarta 2012 yang memenangkan Jokowi Ahok dan kemudian Jokowi menjadi presiden pilkada Jakarta menjadi naik kelas beberapa tataran.

Ia akan menjadi titik memulai mengembangkan karier politik lebih tinggi; maju sebagai calon presiden atau wakil calon presiden. Tak salah menjadikan Gubernur Jakarta modal penting untuk maju sebagai calon presiden-wakil presiden.

Jokowi telah memulainya, bisa jadi Anies mengikuti jejaknya. Bisa jadi akan menimbulkan kegaduhan bagi partai pengusung? Namun, bukankah ini bisa dibicarakan?
Jika apa yang dilakukan Jokowi diikuti Anies pada Pilpres 2019, ini akan menarik.

Artinya, dua pilkada Jakarta telah melahirkan dua calon presiden yang berhadapan. Politik selalu berisi muatan kemungkinan. Bisa jadi, banyak yang menunggu kemungkinan itu.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.