Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Deglobalisasi

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
14/10/2017 05:31
Deglobalisasi
(FOTO ANTARA/Fanny Octavianus)

SUDAH lama mantan Menteri Koordinator Perekonomian Do­rodjatun Kuntjoro-jakti tidak tampil. Rabu (11/10) lalu Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia berbicara dalam seminar tentang iklim investasi di Indonesia.

Seperti biasa, Prof Dorodjatun memberikan per­spektif yang lebih luas tentang perekonomian dunia yang tengah terjadi. Ia mengingatkan, dunia sekarang sudah berubah. Semangat perdagangan bebas yang didengung-dengungkan sejak pertemuan para pemimpin Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik sudah dilupakan.

Organisasi Perdagangan Dunia pun hanya hadir untuk menyelesaikan sengketa-sengketa perdagangan yang terjadi. Paradigma tentang terjadinya globalisasi sudah harus kita tinggalkan.

Dunia justru sedang mengarah ke yang namanya deglobalisasi. Semangat yang muncul ialah nasionalisme, populisme, dan proteksionisme.
Apa indikator dari perubahan besar itu?

Menurut Prof Dorodjatun, itu bisa dilihat dari keluarnya Inggris Raya dari Uni Eropa. Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump pun cenderung melihat ke dalam. American First merupakan bukti nyata dari yang namanya nasionalisme, populisme, dan proteksionisme.

Perubahan itu tentu bukanlah sebuah malapetaka. Itu harus dilihat sebagai tantangan yang mewajibkan kita untuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Kita harus lebih cerdas dalam membaca keadaan dengan melihat apa yang menjadi kepentingan bangsa ini ke depan.

Apa tantangan Indonesia ke depan? Pertama ialah jumlah penduduk Indonesia yang akan mencapai 300 juta jiwa pada 2050 yang akan datang. Kedua, dengan jumlah penduduk kelima terbesar di dunia itu, akan banyak warga yang akan tua sebelum kaya.

Kondisi itu akan membawa persoalan ketiga, yaitu beban negara untuk memberi pelayanan kesehatan menjadi semakin berat. Untuk menjawab tantangan tersebut, negara harus lebih pintar melihat potensi yang dimiliki.

Semua potensi harus dioptimalkan untuk kepentingan negara karena tanggung jawab untuk melindungi segenap kehidupan warga ada di tangan negara.
Hal itu hanya akan bisa kita lakukan kalau kita selalu mendahulukan sikap rasional daripada emosional.

Terutama dalam bernegosiasi tidak bisa kita hanya menggunakan sikap ‘pokoknya’. Kita harus cerdas agar kita bisa menangkap ikannya tanpa membuat keruh air kolamnya. Di sinilah kita sering kali tidak memiliki kesabaran.

Apalagi ketika kepentingan politik pribadi lebih menonjol daripada kepentingan negara. Akibatnya kepentingan jangka panjang dikorbankan untuk kepentingan jangka pendek. Salah satu contohnya dalam penanganan persoalan PT Freeport Indonesia.

Kita harus mengakui, perusahaan itu merupakan pembayar pajak terbesar negeri ini. Freeport juga memiliki deposit mineral yang besar, yang nilainya diperkirakan mencapai US$100 miliar.

Potensi yang ada di Freeport tentu bisa kita manfaatkan untuk memikul beban pembiayaan kesehatan negara pada 2050 nanti. Namun, cara yang dilakukan untuk menjadikan Freeport sebagai aset jangka panjang tidak bisa dilakukan dengan cara emosional seperti sekarang.

Harus dipakai cara yang lebih elegan sehingga tidak muncul kesan hostile takeover. Mengapa? Karena kita tidak bisa hanya mengandalkan kepada Freeport saja. Kita membutuhkan ‘Freeport-Freeport’ yang lain karena beban jangka panjang kita sangat besar.

Kalau kita membuat ‘partner-partner’ tidak nyaman untuk berinvestasi di Indonesia, potensi lain yang kita miliki, tidak akan bisa kita optimalkan untuk kepentingan bangsa. Anggota Komisi VII DPR Fadel Muhammad melihat kepentingan politik jangka pendek itu bisa mengganggu minat berinvestasi di Indonesia.

Kita begitu ngotot untuk mengambil alih kepemilikan Freeport di Grasberg, tetapi tambang emas Wabu di sebelahnya, yang sudah diserahkan kembali oleh Freeport ke Indonesia, tidak segera kita eksploitasi.

Inilah yang seharusnya membuat kita segera berbenah diri. Waktu yang kita miliki untuk menjadi bangsa kuat dan mandiri tidak lama lagi. Sementara itu, kita belum selesai dengan persoalan diri sendiri, yakni membangun masyarakat yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga sarat dengan imajinasi untuk menghasilkan karya besar.

Dalam perubahan besar ini, kita jangan mencari musuh yang tidak perlu. Energi itu harus dipakai untuk tujuan yang produktif, bukan hanya untuk berkelahi. Kita harus malu kepada bangsa Korea yang nyaris tidak memiliki sumber daya apa pun, tetapi mereka memiliki pengetahuan dan imajinasi untuk menjadi bangsa besar.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.