Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Daya Saing

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
04/10/2017 05:31
Daya Saing
(Antara)

PERINGKAT daya saing Indonesia terus membaik. Pekan lalu World Economic Forum menempatkan Indonesia pada peringkat 36. Harapan Presiden Joko Widodo kita bisa menembus 10 besar sehingga makin banyak investor mau menanamkan modal mereka di Indonesia.

Perbaikan peringkat daya saing menunjukkan upaya berbenah diri yang kita lakukan dirasakan para investor. Pembangunan infrastruktur yang dilakukan memang masif sehingga terasa getarannya untuk memperbaiki iklim bisnis di Indonesia.

Hanya, kita harus sadar bahwa daya saing tidak ditentukan infrastruktur saja. Yang tidak kalah penting ialah pelayanan manusianya. Sejauh mana kita memang ingin investor ikut berperan dalam pembangunan negara ini.

Beberapa kali kita sampaikan, salah satu kelemahan yang masih ada pada kita ialah sikap xenofobia. Kita di satu sisi berharap para pengusaha masuk dan menanamkan modal di Indonesia, tetapi ketika mereka berhasil mengembangkan bisnis, muncul keinginan agar bisnis itu dikelola sendiri oleh negara.

Penghormatan kita terhadap yang namanya kontrak sering menjadi masalah. Kita tidak pernah saksama ketika awal melakukan negosiasi. Baru ketika bisnis sudah berjalan, kita melihat ada yang kurang menguntungkan untuk kita.

Lalu kemudian kita berkeinginan mengubah lagi isi kontrak yang sudah ditandatangani. Cara yang kita lakukan untuk mengubah kontrak sering kali juga tidak elegan. Akibatnya persoalan bukan selesai, melainkan justru melebar ke mana-mana.

Pendekatan zero sum game bukan hanya membuat kita akhirnya tidak mendapatkan apa-apa. Citra kita di mata investor pun menjadi tidak baik. Kasus terakhir yang terjadi adalah dalam negosiasi kontrak PT Freeport Indonesia.

Hasil pembicaraan antara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dan CEO Freeport McMoran Richard Ackerson ketika dituangkan menjadi surat resmi Sekretaris Jenderal Kemenkeu Hadiyanto membuat pihak Freeport meradang.

Freeport keberatan dengan detail surat Sekjen Kemenkeu karena berbeda dengan hasil pembicaraan dengan para menteri. Kita belum tahu jawaban Sekjen Kemenkeu atas keberatan yang disampaikan pihak Freeport.

Sering kali kita lamban juga dalam memberikan respons. Padahal, pihak Freeport sangat tanggap. Begitu surat Sekjen Kemenkeu diterima mereka langsung menyampaikan jawabannya.

Sikap-sikap seperti inilah yang membuat posisi peringkat daya saing berbanding terbalik dengan realisasi investasinya. Jangankan orang asing, pengusaha dalam negeri pun sering khawatir kalau mau memulai bisnis baru.

Berbisnis di Indonesia ibarat judul film Kejarlah Daku, Kau Kutangkap. Padahal, investasi bisnis itu tidaklah kecil. Sekali sudah masuk, tidak mungkin lalu pengusaha keluar lagi. Dengan segala persoalan yang kemudian dihadapi, mau tidak mau pengusaha harus melanjutkan agar bisnis yang dijalankannya menjadi feasible.

Bagi yang sudah bisa mengembalikan modal, mereka tidak ragu untuk kemudian memilih keluar dari Indonesia. Paling banyak di industri minyak dan gas tempat Exxon, Chevron, dan Total memilih untuk tidak melanjutkan operasi mereka di Indonesia.

Freeport McMoran kalau tidak telanjur sudah menginvestasikan US$16 miliar untuk persiapan tambang bawah tanah pasti juga sudah menyerah melanjutkan operasi mereka di Indonesia.

Tantangan kita sekarang ialah mendefinisi ulang investasi yang kita sebenarnya inginkan. Di mana kita sebenarnya menempatkan peran swasta itu? Bagaimana kemudian merumuskan mana bisnis yang boleh dimasuki swasta asing dan mana yang hanya boleh untuk swasta dalam negeri?

Kita tahu ada aturan yang sudah kita buat untuk itu. Bahkan kita sudah membuat daftar investasi mana yang tertutup untuk asing dan mana yang terbuka. Namun, kita perlu definisi yang lebih jelas agar dalam perjalanan ke depan tidak berubah-ubah lagi.

Ini juga penting untuk pejabat di daerah dalam menerima datangnya arus investasi karena investasi itu lebih banyak dilakukan daerah. Kita membutuhkan kepala daerah yang paham artinya memajukan wilayahnya dan menghormati pengusaha sebagai agen pembangunan.

Dalam bisnis itu yang dipegang itu adalah ucapan. ‘My word is my bond’, begitu perumpamaan yang sering diucapkan. Jangan sampai kita berbeda antara apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan. Kita bisa dilihat bangsa lain sebagai bangsa yang tidak tahu tata krama.



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.