Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Politik Harapan

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
03/10/2017 05:31
Politik Harapan
(thinkstock)

KITA (mungkin) bangsa besar, tapi bukan bangsa ‘sempurna’. Kita punya banyak kearifan, tetapi kita juga punya banyak kedengkian. Kita berkali-kali dilanda kekerasan dan membuang jauh persaudaraan. Wajah kita penuh darah. Darah para patriot, darah para ulama, darah syuhada, darah orang biasa, darah para ningrat, darah rakyat, darah para lanum, darah para pendosa.

Darah mereka yang membela negara dan yang dianggap musuh negara! Kita meyakini ‘penyelesaian berdarah’ akan mengalirkan darah juga; menyuburkan syakwasangka dan menumbuhkan luka. Padahal, kita kerap mendegar sabda para aulia, “Mereka yang tak bisa menyelesaikan masa silam akan suram menjemput masa depan.”

Mereka yang mendengar serentak menganggukkan kepala tanda setuju, bukan? Bukankah seperti kata Yudi Latif, Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila, bahwa warisan terbaik bangsa ini bukan politik ketakutan, melainkan politik harapan. “Kita merdeka di atas tiang-tiang harapan," katanya.

Faktanya ‘politik kecemasan’, isu bangkitnya PKI, terus diembuskan. Ia dipelihara sejak Pilpres 2014. Jika saja ada data yang valid bahwa komunisme tengah ‘bangkit dari kubur’ seraya menabuh genderang perang, niscaya para ‘pecinta Ibu Pertiwi’ bergegas melawannya. Saya juga.

Sayangnya isu komunisme jadi menu politik menuju Pilpres 2019. Ia 'dagangan lama’ yang dijajakan kembali. Bertautlah isu komunisne dengan hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting yang diumumkan pekan silam bahwa isu kebangkitan PKI hasil penggalangan opini, terutama dari pendukung Prabowo Subianto, mesin politik PKS, dan Gerinda (Media Indonesia, 29/9).

Survei digelar 3-10 September 2017 dengan 1.220 responden yang dipilih acak dari seluruh Indonesia. Hasilnya, mereka yang percaya komunisme bangkit hanyalah 12,6%, yang tidak percaya 86,8%, dan yang tidak tahu 0,6%. Saya bersepakat dengan Buya Syafii Maarif bahwa bangkitnya PKI ialah isu murahan.

PKI itu, katanya, antikemanusiaan dan siapa pun yang antikemanusiaan di era demokrasi akan segera dienyahkan. Menurut mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini, masih banyak hal lain yang mendesak dipikirkan bangsa ini, seperti kemiskinan, ketimpangan sosial, korupsi, dan narkoba ketimbang isu PKI.

Ia berbeda secara diametral dengan Amien Rais, koleganya di Muhammadiyah. Amien mengkritik era Jokowi justru memberi angin segar bagi kebangkitan PKI. Buya Syafii benar bahwa keturunan para tokoh PKI dan jenderal yang dibunuh pun sudah berdamai. Pada 2004 mereka mendirikan Forum Silaturahmi Anak Bangsa, tak hanya melibatkan anak jenderal dan anak PKI, tapi juga anak-anak tokoh DI/TII dan PRRI/Permesta.

Mereka memberi contoh dendam dipinggirkan dan persaudaraan direkatkan. Tragedi 1965 mestinya menjadi pelajaran berharga bahwa dalam merebut kekuasaan PKI selalu menggunakan cara brutal. Namun, pembalasannya tak kalah mengerikan. Jutaan orang kabarnya dijagal dengan penuh dendam.

Lihatlah film The Act of Killing karya sutradara Amerika Joshua Oppenheimer, yang dibuat selama tujuh tahun. Ia menceritakan seorang durjana yang membunuh ratusan orang PKI dengan cara amat sadis. Secara keseluruhan ada banyak versi korban tewas: 1 juta orang, 2 juta orang, hingga 3 juta orang.

Tidak saja jumlah yang simpang siur, peristiwa yang dulu disebut Pemberontakan G-30-S/PKI itu kemudian memunculkan konrtroversi. Jika keluarga DI/TII, PRRI/Pemesta, Gerakan Aceh Merdeka GAM) bisa dengan mudah masuk pelukan Ibu Pertiwi, anak-cucu PKI tentu ingin perlakuan yang sama.

Mantan anggota GAM bahkan menjadi bagian pemerintahan Republik Indonesia, khususnya di Aceh. Bahkan, Belanda yang menjajah Indonesia beratus tahun dan Jepang, meski 3,5 tahun tapi amat bengis, menjadi sahabat Indonesia. Namun, PKI, sesama saudara, diposisikan sebagai musuh abadi.

Padahal, PKI telah lama dibubarkan melalui Tap MPRS No 25 Tahun 1966. Bahkan, kini diperkuat dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang Nomor 2/2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Jelas dan tegas digariskan bahwa ormas yang bertentangan dengan Pancasila, berpaham ateisme, komunisme/marxisme-leninisme, atau paham lain yang bertujuan mengganti/mengubah Pancasila dan UUD 1945 dilarang.

Tugas pemerintah tidak hanya bekerja, tapi menyelesaikan ‘segala sesuatu’. Tragedi ’65 adalah segala sesuatu. Pemerintah terlebih dahulu mesti membentuk tim independen untuk melakukan penelitian tragedi ’65'. Termasuk, bagaimana sesungguhnya hubungan Jenderal Soeharto dengan Kolonel Untung, sang pemberontak?

Semua pihak harus ikhlas menerima hasilnya. Dari sinilah rekonsiliasi dimulai. Jika pemerintah bisa membangun perdamaian Aceh, tentu tak sulit menyelesaikan tragedi ’65. Tinggal, adakah nyali dan kehendak untuk mengeksekusinya? Inilah bagian dari merawat ‘politik harapan’ untuk menjemput masa depan. Bukan terus berkubang dengan masa silam yang basi. Kita tidak mau lagi setiap September sekujur tubuh kita menggigil karena ‘demam PKI’.***



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.