Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Tamu Dilarang Membawa Tas

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
02/10/2017 05:31
Tamu Dilarang Membawa Tas
(thinkstock)

WALI Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo memberlakukan ketentuan unik, yaitu melarang tamunya membawa tas ketika bertemu dengannya. Larangan itu berlaku di kantor ataupun di rumah. Di pintu masuk menuju ruang wali kota, di kompleks Balai Kota Surakarta, disediakan loker untuk tamu menyimpan tas.

Ketentuan tamu dilarang membawa tas itu semula hanya untuk wali kota, lalu diterapkan juga untuk wakil wali kota dan sekda. Wali Kota Rudy, demikian ia dipanggil, tak berhenti sampai di situ. Ia kemudian memperluas 'moral' itu hingga ke tingkat kelurahan. Kepada lurah dan camat, ia berpesan agar berhati-hati menerima tamu.

"Tasnya suruh ditinggal saja." Pemicu lahirnya larangan membawa tas itu ialah KPK menangkap tangan Wali Kota Batu Eddy Rumpoko. Wali Kota Surakarta mengatakan ia tidak takut karena tidak korupsi. Dalam bahasanya sendiri, "Tapi antisipasi diri dari jebakan orang lain itu perlu." Karena itu, ia tidak ambil pusing jika dinilai berlebihan.

Hemat saya, larangan tamu membawa tas itu justru pertanda Wali Kota Rudy rendah hati. Sebuah bentuk pengakuan bahwa manusia bukan malaikat yang suci selamanya. Karena itu, orang perlu mencegah diri dari godaan, perlu mengantisipasi diri dari jebakan orang lain. Apakah orang bersih bisa dijebak? Kiranya batu sandungan hanya untuk orang bersih.

Penjebak memanipulasi kalimat bijak, 'Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima'. Lagi pula, untuk apa menjebak orang kotor? Mereka tidak perlu dijebak. Koruptor merasa dirinya 'terlatih' menyiasati sandungan. Di situ ada tinggi hati, jemawanya kekuasaan. Lupa perihal 'sepandai-pandai tupai melompat...', akhirnya tersandung batu cadas OTT KPK.

Pertanyaannya, dari manakah kekuasaan dengan rendah hati datang? Saya mengira barangkali sumbernya pengertian yang mendalam bahwa orang tidak tahu apa yang terjadi 'besok'. Tidak terkecuali orang berkuasa seperti kepala daerah. Wali Kota Batu Eddy Rumpoko, misalnya, hari itu masih ber-WA ria dengan seorang teman, seniman terkenal, sebelum ia ditangkap KPK.

Karena orang tidak tahu apa yang terjadi 'besok', antara lain berupa tamu membawa setumpukan uang valas di dalam tasnya, Wali Kota Surakarta Rudy memutuskan tamunya dilarang membawa tas saat bertemu dengannya. Pertama, bukankah menyuap dengan uang tunai telah menjadi modus untuk menghindarkan diri dari tertangkapnya aliran dana oleh PPATK? Padahal, uang tunai itulah bukti keras bagi KPK dalam OTT.

Kedua, yang lebih substansial, saya pikir Wali Kota itu bukan saja menghindari diri dari jebakan, tetapi yang lebih dalam, selaku orang yang berkuasa ia tidak ingin menguji diri sendiri. Ia tidak ingin berkata kepada penyuap, "Ujilah aku, orang suci ini, wali kota yang berintegritas ini." Ia justru memproklamasikan kepada publik, "Aku manusia biasa, yang bisa dijebak. Jangan bawa tas ketemu aku, wali kota."

Secara sempit, Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo sedang menjaga dirinya sendiri. Secara luas, dapat dimaknai ia melaksanakan pencegahan korupsi, yang merupakan salah satu tugas pokok KPK. Sebuah tugas besar yang 'tenggelam' oleh operasi penindakan, di tengah kenyataan bahwa pencegahan korupsi belum menjadi kesadaran kolektif.

Korupsi ialah memperlakukan kepunyaan negara sebagai miliknya sendiri. Orang berusaha memaksimumkan kesejahteraannya sendiri. Kira-kira, orang boleh 'menyantapnya' tanpa memeriksa keberatan-keberatan hati nurani. Wali Kota Surakarta menunjukkan bahwa upaya memeriksa keberatan-keberatan hati nurani itu dapat diekspresikan dalam perkara 'kecil', yaitu melarang tamu ketemu dirinya membawa tas.

Tidak muluk-muluk. Anggaran negara untuk pencegahan korupsi itu cukup seharga membeli loker saja.



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.