Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Manuver Jenderal Gatot

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
29/9/2017 05:31
Manuver Jenderal Gatot
(ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

DALAM sebuah pertemuan singkat di sebuah lift gedung tinggi di Jakarta, seorang profesor bertanya 'manuver politik' Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. "Kenapa Panglima TNI berkali-kali membuat pernyataan yang membingungkan rakyat? Yang memperkeruh situasi? Menurut saya, itu insubordinasi terhadap pemerintahan Presiden Jokowi. Kenapa dibiarkan, ya?"

"Apakah di kalangan perguruan tinggi pernyataan-pernyataan Jenderal Gatot meresahkan?" Saya ganti bertanya. Sang profesor yang juga mantan rektor sebuah perguruan tinggi di Jakarta menjawab cepat. "Membingungkan dan berbahaya bagi tata tertib bernegara," katanya seraya menambahkan pers bebas tak boleh takut mengkritik Jenderal Gatot.

"Ini soal amat penting," katanya dengan mimik serius. Sepanjang reformasi, katanya, baru kini ada seorang Panglima TNI yang berani melawan kebijakan pemerintah. Seraya mengutip seorang pengamat pertahanan, alih-alih Jenderal Gatot bicara soal sistem pertahanan, ia justru berkali-kali memainkan drama politik.

Kalau Fahri Hamzah dan Fadli Zon sengit mengkritik pemerintah, katanya lagi, itu memang sudah tugasnya sebagai partai di luar pemerintah. "Akan tetapi, Jenderal Gatot dipilih sebagai Panglima TNI oleh Presiden Jokowi, untuk menjadi bagian pemerintahannya." Di bulan September, Gatot setidaknya membuat dua pernyataan yang ramai ditanggapi publik.

Pertama, mewajibkan para anggota TNI untuk menonton film G-30-S/PKI dan adanya institusi di luar TNI yang mengimpor 5.000 pucuk senjata secara ilegal. Pihaknya juga akan menyerbu polisi kalau ingin membeli senjata antitank. Soal film memang bisa diperdebatkan. Ada yang setuju ada yang sebaliknya.

Yang setuju karena film itu dibuat dengan riset dan komunis memang pernah melakukan kekerasan yang mengerikan. Menko Polhukam Wiranto juga meminta ajakan pemutaran film itu tak usah dipersoalkan. Sementara yang menolak, menyatakan film itu merupakan propoganda Orde Baru.

Selama reformasi, film itu tak diwajibkan ditonton karena bisa membuka luka lama yang kini berupaya disembuhkan. Menko Polhukam Wiranto dan Menteri Pertahanan Riyamizard Ryacudu telah pula meluruskan informasi Jenderal Gatot tentang impor senjata ilegal.
Bahwa itu tidak benar.

Yang benar ialah pembelian senjata itu untuk kepentingan Badan Intelijen Negara (BIN) dan bukan standar militer. Presiden telah memanggil Gatot dan Presiden mengatakan penjelasan Wiranto cukup jelas. Gatot mengatakan Menko Polhukam dan Menhan bukan atasannya.

Sebelumnya Gatot juga pernah berbeda dengan Menteri Pertahanan Ryamizard soal pembelian helikopter Agusta Westland 101. Ia merasa kewenangannya telah dipangkas. Dalam Pasal 3 UU 34 Tahun 2004 tentang TNI: (1) Dalam pengerahan dan penggunaan kekuatan militer, TNI berkedudukan di bawah presiden. (2) Dalam kebijakan dan strategi pertahanan serta dukungan administrasi, TNI di bawah koordinasi Departemen Pertahanan.

Dalam Rapimnas Golkar di Balikpapan, Kalimantan Timur, Mei silam, Jenderal Gatot membacakan sajak Denny JA yang berjudul Tapi Bukan Kami Punya, yang berisi kritik sosial yang yang kental. Oleh PDI Perjuangan, pembacaan sajak itu dinilai salah alamat karena Presiden Jokowi justru tengah serius mengatasi kesenjangan.

Yang juga dinilai publik tak pada tempatnya ialah ketika Aksi 212, Jenderal Gatot memakai peci putih yang umumnya dikenakan para peserta aksi. Ia mengenakan peci berbeda dengan peci yang dikenakan Presiden Jokowi, Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan Menko Polhukam Wiranto, yang mengenakan peci hitam.

Dalam soal peci ia menjelaskan, itu justru bagian dari strategi komunikasi dengan massa aksi. Ketika polisi menetapkan beberapa nama tersangka makar, Panglima TNI membantah dan tidak percaya umat Islam terlibat makar sebab andil para ulama terhadap berdirinya Republik Indonesia sangat besar.

Menurut Gatot, ulama telah berjuang jauh sebelum TNI ada. Tentang peran ulama dalam mendirikan Republik Indonesia tentu tak terbantahkan. Namun, membantah Polri secara terbuka, tentu ini menjadi pertanyaan. Sejarawan memang tak boleh berandai-andai, tapi bolehlah saya yang

bukan sejarawan berandai-andai. Andai saja Presiden Jokowi tak melanggar tradisi perputaran matra di pucuk pimpinan TNI, cerita mungkin akan berbeda. Panglima TNI sejak reformasi era Presiden BJ Habibie berturut-turut ialah Wiranto (Angkatan Darat), Widodo AS (Angkatan Laut), Endriartono Sutarto (Angkatan Darat), Djoko Suyanto (Angkatan Udara), Agus Suhartono (Angkatan Laut), dan Moeldoko (Angkatan Darat).

Jenderal Moeldoko menjelang akhir jabatannya telah menyebut calon penggantinya dari Angkatan Udara, Marsekal Agus Supriatna. Tidak saja karena 'giliran' Angkatan Udara, tetapi karier Agus juga kinclong. Selain itu, pilihan Agus sesuai dengan keinginan Jokowi untuk memordernisasi alutsista TNI, terutama di Angkatan Udara.

Itu sebabnya, Agus menjadi pilihan yang tepat. Ada penilaian, dengan memilih Gatot Nurmantyo, Angkatan Darat kembali dianakemaskan. Kini di bawah Panglima TNI Gatot Nurmantyo, publik menilai ia serupa 'oposisi' dari dalam sendiri. Malah dalam beberapa hal, pernyataan-pernyataan Panglima TNI lebih 'oposisi' ketimbang partai oposisi sendiri.

Itulah yang ditangkap oleh publik. Bisa jadi di kalangan elite, itu bagian dari strategi menghadapi 2019. Nyatanya justru dengan cara seperti itu Jenderal Gatot mulai ramai digadang-gadang untuk maju dalam pemilihan presiden. Sementara publik berkubang dalam kepenatan untuk menafsirkan.

Saya menebak kalaupun manuver-manuvernya ditanyakan kepada Jenderal Gatot, paling ia menjawab enteng, "Emang gue pikirin." Ah, politik! Tapi kita tetap menunggu.*



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.