Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
TOPIK hangat-hangat kuku di awal pekan ini ialah perihal Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Harian ini menurunkan kepala berita berjudul, 'Panglima Sebaiknya Pensiun Dini.' Koran Tempo membahasakannya dengan judul, 'Gatot Nurmantyo Dinilai Bermain Politik.' Harian The Jakarta Post menyebut perkara yang sama dengan judul, 'TNI Commander Ruffles Political Feathers'.
Dua judul terakhir berkaitan dengan judul pertama. Karena bermain politik, sebaiknya Panglima TNI Gatot Nurmantyo pensiun dini. 'Pensiun dini' setali tiga uang dengan pernyataan seorang pakar, 'lepas dulu atribut Panglima TNI'. Semua itu tepercik ke permukaan gara-gara sang jenderal melansir adanya pembelian 5.000 pucuk senjata secara ilegal atas nama Presiden Jokowi.
Pernyataannya itu menjadi pemantik terbukanya manuver politik perihal keinginannya menjadi presiden. Panglima TNI telah bersafari dari kampus ke kampus, dari pesantren ke pesantren. Dalam bahasa yang sopan ia bersosialisasi, dalam bahasa 'marketing politik' ia sedang menjual citra, menaikkan popularitas.
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dinilai telah melampaui 'batas-batas sakral' yang ditegakkan reformasi, yang gamblang diterjemahkan ke dalam UU TNI. Antara lain prajurit dilarang terlibat dalam kegiatan politik praktis. Panglima TNI memimpin TNI sebagai alat pertahanan negara, berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara.
Bukan alat kekuasaan politik, apalagi alat kekuasaan untuk keperluan politik pribadi panglima. Upaya membuat TNI steril dari politik praktis bahkan sampai-sampai anggota TNI tidak diperkenankan menggunakan haknya dalam pemilihan umum. Eh, panglimanya malah disebut menyiapkan tim menuju pemilihan presiden. Karena itu, Jenderal Gatot dikritik keras.
Sebagai warga negara, dia berhak untuk menjadi presiden. Akan tetapi, untuk dapat terlibat dalam kegiatan politik praktis, dia harus lebih dulu melepaskan atribut Panglima TNI, alias pensiun dini. Topik yang hangat-hangat kuku kiranya berubah menjadi hangat-hangat lucu karena sebetulnya bagi Jenderal Gatot, hari sudah tidak dini lagi.
Ia lahir 13 Maret 1960, telah lewat usia 57. Padahal, umur pensiun 58 tahun. Tak sampai 6 bulan lagi semua atribut Panglima TNI itu resmi lepas dengan sendirinya. Namun, ambisi pribadi itu rupanya terlalu besar untuk ditahan sedikit hari lagi berpanjang sabar dalam kedudukan tertinggi selaku prajurit.
Saban kali terjadi suasana psikologis seperti itu, mendorong perlunya pembelajaran yang spesifik perihal aslinya seorang pemimpin. Berakhirnya sebuah kedudukan puncak di dunianya tidak dinyana menunjukkan sisi 'lain' pemimpin. Bahwa ternyata tidak tiap pemimpin seorang gentleman.
Dalam usia menjelang purnatugas, sang jenderal mestinya tengah mempersiapkan 'pidato perpisahan' yang sangat mengesankan bagi semua prajurit. Kompletnya keteladanan seorang prajurit tidak semata bersiap mati dalam pertempuran, tetapi juga sampai mati mengawal politik tentara ialah politik negara.
Presiden merupakan pemimpin negara yang menggariskan politik negara itu. Dialah pula panglima tertinggi yang mengawal politik negara itu. Karena itu, orang yang menjadi presiden hendaknya pemimpin yang tahu benar dan menghormati benar 'batas-batas sakral' cabang-cabang kekuasaan negara.
Sudah tentu orang yang menjadi presiden telah berhasil melampaui batas-batas ambisi yang bersifat personal. Sang presiden, misalnya, tidak tergoda 'injury time', menjelang berakhirnya kedudukan tertinggi malah menjadi 'lain', lalu menabrak 'batas-batas sakral'. Sang pemimpin telah dikalahkan dirinya sendiri.
Terkadang 'alam' menyiapkan seleksi tersendiri yang tidak terduga dalam menyaring para pemimpin. Sepatutnya kita bersyukur. Namun, celakalah bangsa yang mengandalkan penyaringan sangat strategis itu kepada kemurahan alam untuk menjaga 'batas-batas sakral'.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved