Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Ajudan

13/9/2017 05:31
Ajudan
(thinkstock)

PESAWAT Garuda Indonesia GA 206 Sabtu pagi pekan lalu sudah siap untuk terbang. Pukul 09.50 WIB, seluruh penumpang sudah masuk ke pesawat. Menurut jadwal pesawat akan lepas landas pukul 10.05.

Ternyata petugas darat menghitung ada kelebihan satu penumpang dan orang itu tidak masuk manifes. Orang yang duduk di kursi nomor 31A itu ternyata ajudan gubernur di Sumatra. Sang gubernur duduk di kursi nomor 1A di kelas bisnis.

Oleh karena tidak ada dalam manifes, sang ajudan diminta untuk turun. Akan tetapi, ia berkukuh untuk tetap ikut dalam pesawat karena merasa ada kursi kosong yang ia bisa duduki. Sekali ia maju ke depan untuk berbicara dengan staf gubernur, tetapi kemudian kembali ke tempat duduk semula.

Petugas darat kemudian datang lagi untuk berbicara dengan sang ajudan. Namun, komunikasi begitu alot dan sang ajudan tetap bergeming. Hampir 1 jam negosiasi berlangsung, sedangkan sang gubernur tidur nyenyak di kursinya. Sampai kemudian sang ajudan menyerah karena ia memang terdaftar dalam penerbangan GA 208.

Ilustrasi itu sengaja kita angkat karena seorang pengusaha senior Burhanuddin Maras melihat ada inefisiensi luar biasa dalam birokrasi kita. Semua pejabat merasa berhak untuk didampingi ajudan. Bahkan dalam kasus gubernur di atas, ajudannya bisa sampai dua dan sebagai pejabat negara merasa boleh berbuat apa saja di negeri ini.

Para pejabat kita sepertinya tidak bisa hidup tanpa ajudan. Sampai-sampai tidak ada pikiran untuk memerintahkan ajudannya agar turun dari pesawat dan naik pesawat berikutnya. Tidak ada kesadaran bahwa akibat sikap egoisnya, Garuda harus kehilangan waktu percuma sampai 1 jam.

Belum lagi ratusan penumpang yang harus menunggu sesuatu yang tidak penting. Pada awal reformasi, kita sempat berharap ada perubahan sikap pejabat kita agar tidak feodal. Kita menaruh hormat ketika Ketua Majelis Permusyarawatan Rakyat Hidayat Nur Wahid memulai tradisi baru dengan tidak dikawal ajudan.

Ia melakukan sendiri ketika bepergian ke luar kota. Ternyata hanya Hidayat yang melakukan hal seperti itu. Pejabat lain justru bangga didampingi ajudan. Bahkan semua pejabat sekarang harus dikawal motor polisi dan mobil pengawal di belakangnya.

Bur Maras mempertanyakan, berapa biaya ajudan dan pengawalan yang harus dibayar negara setiap tahunnya? Apalagi yang namanya ajudan sekarang ini harus mendampingi hingga tingkat direktur jenderal. Sementara itu, di daerah, gubernur, bupati, dan wali kota pun minta didampingi ajudan dan pengawalan.

Sikap feodal dari para pejabat membuat kita sering menjadi tontonan bangsa lain. Pernah satu saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan kunjungan kenegaraan ke Swedia. Saat menghadiri jamuan makan malam, rangkaian rombongan Presiden membuat macet Kota Stockholm.

Hal itu disebabkan hotel dengan tempat jamuan makan ternyata begitu dekat sehingga ketika mobil Presiden sudah tiba di kantor perdana menteri, mobil rangkaian di belakangnya masih tertahan di dekat hotel.

Bagi masyarakat Stockholm, kejadian tersebut aneh karena seorang perdana menteri di sana ke kantor pun hanya menggunakan kendaraan umum. Tidak perlu ia repot karena tidak ada juga ajudan yang harus mendampinginya sepanjang waktu.

Stockholm memang dikenal sebagai salah satu kota teraman di dunia. Pertanyaannya, apakah kita akan terus mempertahankan sikap feodal seperti ini? Haruskah pejabat sampai level dirjen didampingi ajudan?

Apakah polisi yang sudah kurang jumlahnya untuk menjaga keamanan dan ketertiban masih harus melakukan tugas pengawalan bagi para pejabat? Revolusi mental seharusnya dimulai dari sikap para pejabat.

Seorang pejabat negara itu bukanlah priayi seperti zaman Belanda. Ia seorang pelayan masyarakat. Bagaimana mereka akan bisa melakukan tugas pelayanan kalau sikap sehari-hari selalu minta dilayani?

Apalagi kalau kita ingat bagaimana sulitnya keuangan negara sekarang ini. Penerimaan pajak begitu rendahnya sampai semua hal sekarang harus dipajaki. Bahkan penulis yang jumlahnya sangat sedikit pun malas untuk berkarya lagi karena besaran pajak yang tidak masuk akal.

Seharusnya anggaran negara itu dipakai untuk sesuatu yang produktif dan melayani masyarakat, bukan sebaliknya keringat rakyat dipakai para pejabat untuk hidup dengan penuh pelayanan bahkan merepotkan rakyat yang sudah susah payah membiayai para pejabat.



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.