Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Anak

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
16/6/2015 00:00
Anak
(Grafis/SENO)
ANGELINE, sudah pasti tubuh mungilmu teramat rapuh menghadapi siksaan orang-orang dewasa. Orang-orang 'perkasa'. Kematianmu serupa itu menguras emosi. Soalnya bukan kita menolak takdir kematian itu, melainkan kenapa takdirmu 'harus' ditentukan para durjana. Sangat mungkin, kekejian itu dilakukan para penghuni rumah, tempat selama delapan tahun Angeline bertumbuh dan berlindung.

Banyak prasangka menuding, inisiatif kekejian itu ibu angkatnya, Margrieth Christina Megawe. Dari banyak berita, duka Angeline bermula setelah kematianayah angkatnya, Douglas Scarborough, ekspatriat asal Amerika, pada 2013. Bayi merah yang pada 2007 diadopsi dari keluarga tak berpunya di Banyuwangi, yang tumbuh jadi gadis kecil ceria di Bali, lalu jadi pemurung karena derita.

Ia akhirnya dibunuh dan mayatnya dikubur sembarang. Ada dugaan kebiadaban itu bermotif warisan dari sang ayah angkat. Publik pun marah. Kita tahu,kemarahan dan simpati seluas apa pun tak bisa menghidupkan yang mati. Namun, itu bukti orang ramai jauh lebih punya akal sehat daripada para penyiksa danpembunuh. Kemarahan dan simpati itu bukti kita mengutuk para tukang jagal.

Kita ingat kasus Ari Hanggara pada 1984, bocah delapan tahun yang disiksa hingga mati oleh ayahnya sendiri. Tragedi itu difi lmkan agar jadi pelajaran:kekejian pada anak tak terulang. Penonton membeludak. Namun, anak-anak tetaplah jadi 'mangsa' empuk para 'predator'. Angeline merupakan 'garis sambung' kasus Ari Hanggara. Ia hanya sedikit contoh dari begitu banyak kasus kekerasan.

Menurut Komisi Nasional Perlindungan Anak, sejak 2010 di negeri ini telah terjadi lebih dari 21.600 kasus kekerasan pada anak. Setiap tahun angkanyamelonjak. Dari angka itu, 50% lebih ialah kekerasan seksual, umumnya dilakukan orang-orang terdekat. Rumah dan sekolah yang selama ini menjadi surga bagi anakanak justru menjadi neraka.

Para orang terdekat yang mestinya jadi pelindung anak-anak justru menjadi predator. Tunastunas yang tengah bertumbuh yang mestinya disirami justru dihancurkan dengan keji. Angka-angka itu tentu yang tercatat. Di luar itu, di tempattempat yang tak terjangkau oleh akses informasi: di desadesa, tempat-tempat terpencil,daerah-daerah kumuh, permukiman yang tertutup, kaum difabel, mungkin angka dan kekejamannya lebih mencengangkan lagi.

Inilah negeri yang bertumpuk norma kebajikan dan adab kesantunan, tapi kejahatan pada anak justru merajalela. Wajar, tahun lalu Komnas Anak telah mengumumkankekerasan pada anak telah memasuki level darurat. Namun, maklumat itu seperti tak bermakna apa-apa. Tak ada gerakan perlin dungan pada anak. Ia hanya menjadisimpati post factum, yang tak memberi efek apa pun atas masalah utama. Ia hanya keriuh an setelah tragedi terjadi. Padahal, ini soal amat serius,yakni layu dan matinya para tunas muda.


Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.