Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Skandal Gelar Doktor

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
07/9/2017 05:31
Skandal Gelar Doktor
(thinkstock)

GIGI palsu kiranya lebih terhormat dan berguna daripada gelar doktor asli tetapi palsu. Asli karena resmi meraih doktor dan diwisuda, palsu karena disertasinya plagiat. Harian The Jakarta Post (4/9) memberitakan ada empat perguruan tinggi ditengarai memproduksi gelar doktor yang bermasalah.

Akan tetapi, tim yang dibentuk Kemenristek-Dikti baru menyebut satu perguruan tinggi secara terbuka, yaitu Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Seorang rekan senior yang bergelar doktor asli dari Amerika Serikat mengungkapkan fakta yang terlalu buruk untuk dipercaya terjadi.

Selama 2004-2017, UNJ meluluskan dan mewisuda 2.104 mahasiswa doktoral, tetapi ijazah doktoral yang dikeluarkan 2.557. Ada 'kelebihan' ijazah 453. Tim Kemenristek-Dikti mengatakan ada lima disertasi di UNJ ditengarai plagiat.

Satu di antaranya disertasi Nur Alam, Gubernur Sulteng. Menurut rekan senior itu, disertasi itu diduga dibuat hanya beberapa hari dari 20 Juli 2016 pukul 19.21 hingga 29 Juli 2016 pukul 06.52. Nur Alam lulus cum laude.

Pihak UNJ membantah semua tuduhan itu. Sementara itu, pihak kementerian tidak terdengar mencabut gelar doktor Nur Alam yang karena korupsi menjadi tawanan KPK. Gelar doktor ialah gelar akademik tertinggi.

Karena itu, pengajar di universitas seyogianya berkeras hati untuk meraihnya, dengan bersakit-sakit dahulu, sekalipun tiada jaminan bersenang-senang kemudian. Dahulu dosen bisa menjadi guru besar tanpa doktor, bahkan tanpa gelar master/magister. Profesor jenis itu sudah tidak diproduksi lagi karena malu-maluin.

Dunia akademi mestinya berbeda dengan dunia penyelenggara negara yang dipilih rakyat melalui pemilu. Tidak ada bukti bahwa rakyat memilih anggota DPR/DPRD/kepala daerah/presiden karena yang bersangkutan bergelar doktor.

Akan tetapi, fakta menunjukkan gelar doktor menjadi kesempurnaan tersendiri bila mereka menyandangnya. Sebaliknya universitas, termasuk yang terpandang, memberi kemudahan tertentu untuk tokoh yang dinilai bereputasi di dunia kepublikan itu.

Studi doktoral dapat ditempuh kendati tidak linier dengan gelar kesarjanaan sebelumnya. Tanpa perlu mengambil S-2. Jam terbang yang tinggi dan pengalaman mumpuni dianggap bila dikonversikan, hasilnya bahkan jauh melampaui S-2.

Persoalan muncul ketika penyelenggara negara itu ingin bergelar doktor, tanpa perlu studi dan menguras isi kepalanya untuk riset dan menyusun disertasi. Terjadilah jalan pintas. Pertanyaannya, untuk apa gelar doktor-doktoran itu?

Tidakkah lebih mulia menjadi doktor (mondok di kantor), dalam arti menggunakan waktu sepenuhnya bekerja untuk rakyat? Jawabnya, tanpa gelar doktor sebagai keningratan baru, orang itu belum menjadi 'orang'. Masih orang-orangan. Ia perlu 'Dr' di depan namanya sekalipun doktor-doktoran.

Demikianlah orang kehilangan kesahajaan. Sebaliknya, mereka yang meraih doktor benaran, dan senyatanya 'berisi' sesuai gelarnya, malah enggan memakainya. Namanya tersurat polos tanpa gelar. Mereka telah selesai dengan semua embel-embel.

Mereka justru bersahaja, menjadi dirinya sendiri, bukan diri pajangan gelar. Terus terang semakin lama di kalangan elite negara kita bukan kekurangan orang-orang terdidik, tetapi kelebihan orang-orang palsu.

Celakanya publik tidak tahu mana yang palsu, mana yang benaran, bila yang palsu antara lain karena plagiat tidak dicabut gelarnya. Di atas segalanya saya tidak habis mengerti kenapa universitas menjadikan dirinya pabrik 'tong' untuk gelar akademik tertinggi. Bukan cuma 'tong kosong', melainkan juga kosong dan palsu.



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.