Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Selamat,Owi/Butet

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
29/8/2017 05:31
Selamat,Owi/Butet
(TARA FOTO/Russell Cheyne)

SETELAH smes keras di bagian tengah bidang lawan tak bisa dikembalikan, Tontowi Ahmad menjatuhkan badan ke lapangan, menengadah dengan kedua kaki diangkat. Sementara Lilyana Natsir berjongkok lalu berdoa, Tontowi bangkit sekejap meluruskan kedua tangan ke depan seraya mengacungkan telunjuk dan ibu jari hingga membentuk 'V'. Sebentar kemudian mereka berlari memeluk pelatih mereka, Richard Mainaky, di pinggir lapangan.

Tontowi dan Lilyana kembali ke lapangan, berangkulan, seraya mencium Merah Putih yang tersemat di sisi kiri jersey mereka. Itulah selebrasi pasangan ganda campuran terbaik kita setelah mengempaskan lawan mereka, Zheng Siwei/Chen Qingchen dari Tiongkok, dalam tiga gim Senin (28/8) dini hari. Mereka memenuhi janji. Janji ingin menjadi kampiun dunia bulu tangkis di bulan kemerdekaan ini. Mereka mengulangi kesuksesan sebagai juara dunia pada 2013 di Tiongkok.

Waktu itu ganda putra Muhammad Ahsan dan Hendra Setiawan juga meraih prestasi yang sama. Ahsan yang kali ini berpasangan dengan Riang Agung Saputra di Glasgow menjadi juara dua. Owi dan Butet, demikian mereka akrab disapa, memang menjadi atlet bulu tangkis Indonesia yang paling sering meraih emas di ajang berkelas dunia sejak lima tahun terakhir. Tahun lalu, juara All England tiga kali (2012, 2013, 2014) mencatat sejarah menjadi ganda campuran Indonesia pertama yang meraih medali emas Olimpiade.

Bahkan, Indonesia Raya pun berkumandang di Pavilion 4 Riocentro, Brasil, tepat pada 17 Agustus 2016. Mereka mengempaskan pasangan Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying yang berambisi untuk pertama kalinya mempersembahkan emas dari bulu tangkis. Sebelum berpasangan dengan Tontowi Ahmad, Lilyana Natsir juga berkilau. Berpasangan dengan Nova Widianto, ia menjadi juara dunia pada 2005 dan 2007.

Artinya, Butet menjadi juara dunia terbanyak jika dibandingkan dengan atlet bulu tangkis yang lain. Tentu yang membuat Merah Putih berkibar paling tinggi hingga tiga kali ialah Kejuaraan Dunia pada 1993. Ketika itu tunggal putra Joko Suprianto, tunggal putri Susy Susanti, dan Ricky Subagja/Rudy Gunawan menunjukkan superioritas Indonesia dalam olahraga yang berasal dari Inggris itu. Prestasi tiga gelar juara dunia memang baru sekali terjadi di Kejuaraan Dunia.

Namun, secara umum bulu tangkis menjadi penyelamat prestasi, termasuk tradisi emas di Olimpiade, kecuali 2012. Sejak Susy Susanti dan Alan Budi Kusuma meraihnya pada 1992, Owi/Butet-lah penyambung tradisi emas setelah terputus pada 2012. Sebanyak 10 atlet bulu tangkis telah mengharumkan negeri ini di ajang Olimpiade. Tanpa bulu tangkis, lagu Indonesia Raya tak akan pernah bergema di perhelatan akbar olahraga seperti Olimpiade.

Terlebih di ajang pesta olahraga Asia Tenggara (SEA Games), sejak 1977 dengan 20 kali pertandingan bulu tangkis, tim beregu Indonesia merebut 16 kali juara. Raihan itu menunjukkan betapa superiornya bulu tangkis Indonesia di Asia Tenggara. Bulu tangkis, meskipun tim putri belum bisa menyamai prestasi Susy Susanti dan untuk tunggal putra belum bisa menyamai Taufik Hidayat, yang meraih emas Olimpiade 2004, bayangkanlah Indonesia tanpa bulu tangkis! Tanpa olahraga tepuk bulu ini, Indonesia kian miskin apresiasi dunia di bidang olahraga.

Mari kita lihat sepak bola dengan para penggemarnya yang sangat 'patriotik'. Untuk Asia Tenggara saja, kita belum siuman sejak menjadi juara terakhir kali pada SEA Games 1991. Berkali-kali ganti menteri, ganti Ketua Umum PSSI, yang ada keributan para pengurusnya. Namun, gelar juara justru kian menjauh. Sepak bola tak berubah jauh dari partai politik: banyak keributannya sedikit prestasinya.

Tengok pula SEA Games secara keseluruhan. Indonesia yang sejak 1977 hingga 1997 selalu menjadi yang terbaik, kecuali pada 1985 dan 1995 yang direbut Thailand. Kini kian sulit merebut posisi itu kembali, kecuali SEA Games 2011, itu pun karena kita tuan rumah. Pada SEA Games 2013 dan 2015 Indonesia berada di posisi ke-4 dan ke-5. Kini Indonesia dengan penduduk 40% penduduk ASEAN ini hanya berani menargetkan posisi ke-4 di SEA Games 2017 yang berlangsung 19-30 Agustus di Malaysia.

Namun, target itu pun rasanya sulit diraih. Dalam soal olahraga, Indonesia bisa diamsalkan seperti raksasa tidur siang: mendengkur. Entah kapan akan terbangun. Sementara itu, negeri-negeri lain tak hanya bergegas lalu berjalan cepat, tetapi bahkan berlari langkah seribu. Memang, prestasi olahraga berkaitan dengan ekonomi dan kesejahteraan. Tak salah jika olahraga menjadi ukuran paling nyata kemajuan sebuah bangsa.

Semakin meninggi prestasi olahraga sebuah negara, semakin sejahtera bangsa itu, demikian pula sebaliknya. Negara-negara yang maju prestasi olahraganya umumnya mencatat produk domestik bruto per kapita yang tinggi, yang menunjukkan tingkat kesejahteraan rakyatnya. Negara-negara peringkat teratas dalam ajang Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, misalnya Amerika Serikat dan Inggris, memiliki tingkat kesejahteraan masyarakat yang baik.

Bercita-cita menjadi atlet pun menjadi daya tarik karena negara memikirkan karier mereka. Kita justru terus melakukan kesalahan yang berulang. Selalu terlambat ketika membangun fasilitas olahraga ketika kita menghadapi perhelatan besar. Pelatnas yang tak layak, alat latihan dan tanding atlet yang datang terlambat, ketidakpastian atlet yang akan bertanding, masih juga menjadi persoalan. Yang paling keji pastilah korupsi.

Pembangunan Kompleks Olahraga Hambalang yang sarat korupsi dan mangkrak contoh yang paling telanjang. Begitulah gambaran olahraga kita yang kian terjun bebas. Karena itu, di tengah kondisi buruk olahraga kita, kemenangan Owi/Butet di Glasgow sungguh sebuah oasis. Bulu tangkis, meski tak sehebat masa Susy Susanti, setidaknya olahraga ini masih bisa mengukir prestasi, bahkan tradisi emas di Olimpiade sejak 1992.

Ini pasti cermin dari pembinaan dan pengembangan olahraga ini yang relatif baik. Seperti kata Taufik Hidayat, menjadi atlet hingga menjadi juara memang tak murah dan berat kalau hanya mengandalkan pemerintah. Terima kasih, Owi/Butet. ***



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.