Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
ISTRI saya tertawa sinis setelah menyimak sabdatama atau perintah tertinggi Sultan Hamengku Buwono X. Bukan karena putri sulung Sultan, Gusti Kanjeng Ratu Pembayun, berganti nama menjadi GKR Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawono Langgeng ing Mataram, tanda ia akan menggantikan takhta. Bukan!
NEGARA ini tak kelebihan pemimpin. Partai pun tak kekurangan pemimpin. Bahkan banyak yang berhasrat menjadi ketua umum. Kabar gembira lain, animo itu tak berkaitan dengan kekuasaan di pemerintahan.
LAPORAN Badan Pusat Statistik berkaitan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2015 mengejutkan semua orang. Kontraksi ekonomi yang terjadi ternyata begitu dalam
KINI alangkah susah membaca aneka 'tanda'. Betapa 'tanda-tanda' dan 'lambang' hampir semuanya bergerak, saling bersiasat, mengelabui, menyerang, dan menyakiti.
ORANG berkuasa sebaiknya mengikuti nasihat berhentilah makan sebelum kenyang.
SATU komoditas yang bisa menimbulkan gejolak politik, bahkan bisa menjatuhkan seseorang dari kekuasaan, ialah beras. Tidak usah heran apabila mantan Presiden Soeharto pernah mengatakan pertahanan politik terakhirnya ialah beras. Begitu seriusnya Pak Harto mengurusi beras.
RASANYA kian perlu mengingat kembali alasan kelahiran (raison d'etre) sejumlah lembaga. Sebab semakin kuat tanda-tanda hendak melupakannya. Contohnya, mengapa lahir mahkamah partai? Apa alasan kelahiran KPK? Tak kalah penting mengapa lahir Badan Kehormatan DPR yang kini menjadi Mahkamah Kehormatan Dewan?
DUA pekan lalu saya mendapat undangan menghadiri World Journalist Forum di Seoul, Korea Selatan. Ada 100 wartawan dari 60 negara di seluruh dunia diundang hadir pada acara yang ketiga kalinya diselenggarakan di Korsel.
MENGAGETKAN, seorang pekerja seks komersial (PSK) mati dicekik pelanggannya di rumah indekos di Tebet Utara, Jakarta Selatan. Terbukalah fakta sosial bahwa prostitusi diam-diam berlangsung di tengah kehidupan warga di permukiman penduduk. Pembunuhan itu terjadi Sabtu (11/4).
PRESIDEN Joko Widodo akhirnya hadir dalam silaturahim pers dalam rangka Hari Pers Nasional 2015.
PESTA mengembalikan 'Semangat Bandung' usai sudah. Yang tersisa mungkin rasa lelah, mungkin sedikit kecewa karena merasa tak sempurna.
BANGSA ini memerlukan model hubungan presiden dan mantan presiden yang berbeda dengan yang terjadi selama ini. Hubungan terburuk dalam sejarah Republik dialami Bung Karno dan Pak Harto.
PIDATO Presiden Joko Widodo pada peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika menyerukan ketidakadilan yang masih terjadi. Di bidang ekonomi masih kuat anggapan, dewa penyelamatan dunia hanyalah Bank Dunia, Dana Moneter Internasional, dan Bank Pembangunan Asia. Perlu ada tatanan dunia yang baru agar ketidak-adilan, ketimpangan, dan kemiskinan bisa dihapuskan.
KATAKAN dengan nostalgia. Kita beruntung punya nostalgia itu. Inilah nostalgia yang diberi makna sesuai dengan konteks zamannya, ia terasa menjadi ada, menjadi hidup kembali. Peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika, (KAA) pada 18-24 April, saya kira, nostalgia serupa itu.
BOLEHKAH mantan kepala negara/kepala pemerintahan menjadi oposisi? Lebih tajam lagi, bolehkah ia mengecam keras pemimpin negara yang sedang berkuasa dan menilainya tak layak lagi menjadi kepala pemerintahan? Kata 'boleh' kayaknya terlalu longgar. Terbuka jawaban 'boleh-boleh saja'. Bahkan, 'kenapa tidak?'.
LUAR biasa acara World Economic Forum yang berlangsung awal pekan ini di Jakarta. Para peserta berdatangan dari dalam dan luar negeri. Mereka antusias mengikui sesi acara seminar yang diselenggarakan. Pada sesi Senin (20/4) pagi, banyak yang tidak bisa masuk ruangan diskusi karena penuh. Seorang eksekutif yang menjadi sponsor acara pun harus gigit jari karena tidak bisa masuk ke tempat acara.
BERBINCANG sepak bola Indonesia ialah berbicara tentang kekuatan di masa silam, baru setelah itu kisruh yang tak kunjung padam.
DI awal tulisan ini, sebaiknya saya berterus terang bahwa saya terusik kerinduan tampilnya Wakil Presiden Jusuf Kalla kurang lebih seperti yang dulu.
BAGI kalangan bisnis, istilah itu sangatlah mereka pahami. Pesannya tidak ada jalan mudah meraih keberhasilan. Kita harus mau menerima rasa sakit apabila ingin menikmati keuntungan. Hal itulah yang ingin kita sampaikan kepada pemimpin negeri ini dalam memenuhi kebutuhan energi.
Media Indonesia berusaha menghadirkan foto-foto eksclusive sehingga pembaca dapat melihat kejadian aktual dengan lebih baik
LOAD MORECopyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved