Headline
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Kumpulan Berita DPR RI
“ALANGKAH tercengangnya Haji Saleh, karena di neraka itu banyak teman-temannya di dunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan ia tambah tak mengerti lagi dengan keadaan dirinya, karena semua orang-orang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadahnya dari dia sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke Mekkah dan bergelar syekh pula.”
(Robohnya Surau Kami, AA Navis)
Bisa jadi kata cemooh berasal dari kata ini; atau setidaknya memiliki nalar dan rasa yang sebangun. Sebagaimana cemooh, cemeeh kerap dirasa berkonotasi negatif. Namun, jika ditelusuri secara epistemologis, kita akan menemukan sebuah filosofi menakjubkan dari tradisi yang berkembang di ranah Minangkabau ini.
CEMEEH SEBAGAI NALAR KRITIS
Dalam adat Minang, cemeeh sesungguhnya bukanlah ungkapan untuk merendahkan. Alih-alih demikian, cemeeh adalah sebuah teguran tanpa bermaksud mempermalukan atau merendahkan pihak yang ditegur. Ia justru kritik tanpa amarah. Ia sebuah mekanisme untuk mengingatkan orang lain tanpa membangun rasa dendam pada diri yang menerimanya. Lebih dari itu, cemeeh adalah ungkapan satire sekaligus teguran sosial tapi mengandung ungkapan dan rasa humor. Secara tidak langsung, ia adalah mekanisme social regulation through humor.
Seorang budayawan pernah berkata, “Jika kata-katamu ingin sampai di sanubari orang lain maka bukalah dulu hatinya dengan cerita yang mengundang tawa.” Saat seseorang tertawa, pori-pori jiwanya akan terbuka; dan saat itulah pesan yang disampaikan akan diterima oleh hatinya.
Cemeeh memiliki ‘teknologi’ semacam itu karena nada-nada guyon di dalamnya. Hal ini karena bagurau (bergurau, bercanda) adalah arena yang aman ketika seseorang ingin mengkritisi sesuatu. Ia laksana ‘ritual’ egaliter di dalam ruang publik. Tidak ada pangkat dan kedudukan bagi sebuah cemeeh. Berkat ‘wasilah’ bagurau itu, siapa pun bisa menjadi sasaran. Di titik ini, cemeeh menjadi semacam mekanisme demokratis untuk menegur atau ditegur oleh siapa pun.
Kiranya, hal tersebut tidaklah berlebihan karena cemeeh adalah praktik yang melatih kecerdasan verbal dan logika seseorang. Bagaimana mungkin konstruksi logis cemeeh tidak terbangun sementara ia adalah gugatan yang berisi premis-premis pemikiran. Cemeeh bukanlah ungkapan emosional yang hanya berisi kekesalan apalagi kebencian semata. Cemeeh adalah sebentuk pengajaran bagi masyarakat Minang untuk mampu melihat diri sendiri dari perspektif orang lain.
Orang Minang percaya bahwa siapa yang bisa menertawakan diri sendiri akan selamat dari kerusakan. Cemeeh adalah teknik untuk menjaga diri dari kesombongan, menjaga komunitas dari stagnasi, merawat nalar kritis agar tidak menjadi ‘orang yang tidak bisa dinasihati’. Orang Minang punya pepatah, “Pai tampek batanyo, pulang tampek babarito. Nan salah elok dibao ranah, nan bana elok dibao lauik.” Spiritnya: kritik itu harus disampaikan dengan tepat, bukan menyinggung; dan cemeeh menyediakan jalur itu. Pendek kata, ada empati di dalam praktik cemeeh ini.
FUNGSI CEMEEH
Bisa dibilang, cemeeh adalah semacam mekanisme kultural bagi social early warning system. Jika seseorang dinilai mulai lalai, sombong, takabur, barlebihan, komunitas sosial akan menegurnya lewat cemeeh. Sebagai contoh, ada ungkapan seperti ini di kalangan orang Minang: Alah tinggi juok rumah ang, jo angkek dunsanak ndak nampak (Sudah tinggi benar rumahmu, tapi sanak saudara sendiri tidak terlihat). Maknanya, untuk apa rumah besar-besar tapi tidak menjadi tempat yang bisa menerima banyak orang. Hiduplah dalam proporsionalitas dan bersosialisasilah dengan orang-orang di sekitar.
Karena tradisi Minang kental dan menghargai perilaku musyawarah, cemeeh membantu mencegah terjadinya ketegangan. Lewat bagurau, ego dikendurkan, konflik dimoderasi, kritik pun menjadi tidak menyakitkan. Di sini, cemeeh berfungsi dalam menjaga keseimbangan sebuah komunitas sosial.
Cemeeh juga berfungsi sebagai sarana literasi dan logika. Lewat cemeeh, orang Minang dilatih untuk menjawab dengan cerdas, memahami konteks, berpikir cepat, tidak mudah tersinggung, serta mampu mengolah bahasa jadi alat analisis. Ini menjadikan cemeeh bukan sekadar lelucon, tetapi sekaligus sekolah retorika bagi para komunikatornya.
Kebanyakan cemeeh hadir dalam bentuk retorika yang halus. Memang ada cemeeh yang kasar yang disebut orang Minang sebagai saik randang. Sementara yang halus disebut saik dendeng. Rendang berbentuk bongkahan, sementara dendeng tipis-tipis halus. Salah satu bentuk cemeeh yang halus hadir dalam bentuk cerpen atau esai.
Ali Akbar Navis atau akrab disapa AA Navis adalah salah seorang yang kerap menulis dengan gaya cemeeh. Dia dikenal sebagai sastrawan, kritikus budaya, sekaligus Kepala Sekolah INS Kayu Tanam: sebuah sekolah kenamaan di Sumatra Barat. Dia banyak menjadikan cemeeh sebagai landasan kritik sosial dalam cerpen dan esainya.
Tulisan-tulisannya kerap berisi kritik atas perilaku yang munafik, takut akan perubahan, serta atas sikap pasrah yang keliru. Penggalan paragraf pembuka di atas adalah tukilan dari salah satu cerpennya, Robohnya Surau Kami. Dalam tradisi Minang, cerita ini mirip cemeeh pada kaum tua yang tak mau beradaptasi terhadap perubahan.
Cerpen lain Navis ialah Andai Aku Seekor Burung. Cerpen ini adalah alegori tentang perjalanan spiritual yang dialami seorang anak laki-laki yang haus. Untuk mendapatkan air, si anak harus menjawab serangkaian pertanyaan dari seekor burung raksasa, yang kemudian terungkap sebagai nenek moyangnya. Di dalam kisah ini, terkandung cemeeh berupa humor getir dan satire. Di sini Navis mengolok-olok pola pikir yang statis dan tidak logis dari kebanyakan masyarakat Minangkabau.
CEMEEH DALAM DEMOKRASI
Kebebasan berekspresi dan berpendapat adalah manifestasi demokrasi. Berbeda dengan kultur kebebasan Barat yang vulgar, ada keluhuran adab di dalam cemeeh. Kita bisa ambil praktik roasting yang kerap dibawakan oleh para komika, sebagai misal. Di dalam roasting, kita benar-benar ‘menggoreng’ seseorang apa adanya. Memang ada unsur guyon di dalamnya, tapi keindahan rasa bahasanya nir. Maka, tak ayal jika sebagian pihak merasa tidak berkenan dengan semodel roasting itu. Seperti diulas di atas, cemeeh berangkat dari penghargaan atas harkat dan martabat seseorang. Ia digunakan dalam bahasa yang sastrawi. Pesannya tidak hanya diharapkan sampai ke pikiran, tapi juga ke hati.
Cemeeh juga menjadi fondasi bagi nalar kritis manusia Minang dalam kehidupan sosial. Karena cemeeh membangun logika maka ia akan mampu menjadi perikehidupan antihoaks. Dengan cemeeh, orang menjadi terbiasa menyaring kata, menimbang makna, tidak menerima informasi mentah-mentah, dan juga mengajari kecerdasan membaca konteks sebagai fondasi literasi digital.
Dalam demokrasi, cemeeh bisa berfungsi sebagai vaksin terhadap otoritarianisme. Seperti disebut di atas, cemeeh adalah sebangun humor kritis dalam interaksi sosial Minangkabau. Dengan humor kritis, terjadi mekanisme kultural dalam rangka menolak kekuasaan absolut.
Kelebihan cemeeh ialah ia tidak menggunakan bahasa yang vulgar dalam menggugat. Ia membangun ruang bagi warga negara untuk berani menegur elite dengan cara yang ‘mikul duwur mendem jero’ – kalau kata orang Jawa. Ia sebentuk soft power ala Minangkabau yang justru powerfull. Di dalam cemeeh ada seni mengkritik dengan bijak. Ada juga seni menertawakan kekuasaan tanpa menghinanya. Cemeeh merupakan seni dalam menjaga demokrasi tanpa kehilangan identitas.
Mahasiswa diimbau untuk tetap menyampaikan aspirasi secara damai dan konstitusional, khususnya di bulan suci Ramadan.
Pengamat ESA Unggul Jamiluddin Ritonga kritik usulan koalisi permanen Golkar untuk Prabowo, dinilai berisiko lemahkan DPR dan checks and balances.
Demokrasi, bisa bertumbuh dari akar ilmu (pengetahuan) yang terintegrasi dengan amal perbuatan
IPK Indonesia 2025 turun ke skor 34. Peneliti Pukat UGM Zaenur Rohman menilai perbaikan penegakan hukum jadi kunci pemberantasan korupsi.
Pakar FH UI Titi Anggraini menyoroti lemahnya transparansi keuangan partai politik Indonesia, menekankan audit eksternal dan pengawasan tegas dibutuhkan.
Kegiatan ini menandai dimulainya Safari Ramadan Partai NasDem sekaligus memperkuat konsolidasi organisasi dan silaturahmi kader dengan masyarakat.
Acara Buka Puasa Bersama di Kantor DPP NasDem di Jakarta dihadiri Surya Paloh, Puan Maharani, Sufmi Dasco, Jusuf Kalla, dan Anies Baswedan.
Wakil Ketua DPR RI sekaligus Ketua Harian DPP Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, menghadiri acara buka puasa bersama DPP NasDem
Surya Paloh menekankan pentingnya menjaga dan memperkuat silaturahmi bagu seluruh elemen bangsa. Hal tersebut disampaikannya dalam acara Buka Puasa Bersama Partai NasDem
WAKIL Ketua Umum Partai NasDem Saan Mustopa mengungkapkan alasan Ahmad Sahroni kembali menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR RI.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved