Headline
RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.
RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.
Kumpulan Berita DPR RI
MAZMUR 34:19 menyatakan, “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”
Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa di tengah penderitaan, sakit, dan ketidakpastian, Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Pesan pengharapan inilah yang menjadi dasar refleksi kita dalam memperingati Hari Kanker Sedunia setiap tanggal 4 Februari.
Hari Kanker Sedunia yang diperingati setiap tanggal 4 Februari merupakan momentum global untuk meningkatkan kesadaran, kepedulian, serta aksi bersama dalam menghadapi salah satu tantangan kesehatan terbesar di dunia, termasuk di Indonesia.
Kanker bukan hanya persoalan medis, tetapi juga persoalan kemanusiaan yang menyentuh individu, keluarga, komunitas, dan bangsa secara luas. Di balik setiap diagnosis kanker, terdapat kisah perjuangan, ketakutan, harapan, dan keteguhan hati yang luar biasa.
Sebagai institusi pendidikan tinggi Kristen, Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) memandang kesehatan sebagai bagian dari panggilan pelayanan.
Ilmu pengetahuan, iman, dan kasih tidak dapat dipisahkan dalam upaya merawat kehidupan. Momentum Hari Kanker Sedunia mengajak kita untuk kembali merefleksikan peran kita sebagai insan akademik dan insan beriman dalam menghadapi tantangan kanker yang semakin kompleks.
Di Indonesia, kanker merupakan salah satu penyebab utama kematian dan terus menunjukkan peningkatan kasus setiap tahunnya. Tantangan yang dihadapi tidak hanya terbatas pada keterbatasan fasilitas dan biaya pengobatan, tetapi juga rendahnya kesadaran akan pencegahan dan deteksi dini, stigma sosial, serta beban psikologis yang dialami pasien dan keluarga.
Tidak jarang, penderitaan akibat kanker diperberat oleh rasa kesepian, ketakutan, dan keputusasaan.
Yesaya 41:10 berkata, “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau; jangan bimbang, sebab Aku ini Allahmu.” Firman ini menguatkan bahwa dalam proses panjang pengobatan kanker, harapan tidak boleh padam. Kehadiran orang-orang yang peduli, tenaga kesehatan, keluarga, sahabat, dan komunitas menjadi perpanjangan tangan kasih Tuhan bagi mereka yang sedang berjuang.
Secara global angka kejadian kanker terus meningkat seiring dengan perubahan gaya hidup, pola makan, paparan lingkungan, serta bertambahnya usia harapan hidup. Di Indonesia, kanker telah menjadi salah satu penyebab utama kematian. Tantangan yang dihadapi tidak hanya terbatas pada aspek klinis, tetapi juga keterbatasan akses layanan kesehatan, keterlambatan diagnosis, stigma, serta kurangnya literasi kesehatan di masyarakat.
Dalam konteks ini, peran institusi pendidikan tinggi, khususnya fakultas kedokteran dan ilmu kesehatan, menjadi sangat strategis. UKRIDA memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk berkontribusi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam upaya pengendalian kanker. Mahasiswa sebagai calon tenaga kesehatan masa depan perlu dibekali tidak hanya dengan kompetensi klinis, tetapi juga empati, komunikasi yang baik, serta pemahaman holistik tentang pasien kanker dan keluarganya.
Kanker sering kali dipersepsikan sebagai vonis yang menakutkan. Selain dampak fisik akibat penyakit dan terapi, pasien kanker juga menghadapi beban psikologis, sosial, dan spiritual.
Rasa cemas, depresi, perubahan citra diri, serta kekhawatiran akan masa depan merupakan realitas yang kerap menyertai perjalanan penyakit ini. Tidak jarang, pasien dan keluarga mengalami kelelahan emosional yang mendalam.
Kesadaran akan dimensi psikososial kanker mengajak kita untuk hadir dengan empati, mendengarkan tanpa menghakimi, dan memberikan dukungan yang bermakna. Pendekatan yang berpusat pada pasien (patient-centered care) menjadi kunci dalam pelayanan kanker yang bermutu.
Dalam hal ini, kolaborasi multidisiplin melibatkan dokter, perawat, psikolog, pekerja sosial, rohaniawan, serta komunitas pendukung sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien kanker.
Sebagai bagian dari FKIK UKRIDA, kita percaya bahwa pembentukan insan kesehatan tidak hanya berfokus pada keunggulan akademik, tetapi juga pada kepekaan hati dan tanggung jawab sosial. Mahasiswa didorong untuk belajar melihat pasien kanker sebagai pribadi yang utuh, yang membutuhkan sentuhan kemanusiaan, pendampingan, serta pengharapan.
Nilai-nilai inilah yang diharapkan tertanam kuat dan dibawa dalam pelayanan mereka kelak di tengah masyarakat.
Hari Kanker Sedunia bukan sekadar peringatan, tetapi panggilan untuk bertindak. Setiap langkah kecil mulai dari menerapkan gaya hidup sehat, melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, menyebarkan informasi yang benar, hingga memberikan dukungan kepada mereka yang sedang berjuang melawan kanker memiliki arti yang besar.
Harapan akan masa depan tanpa kanker mungkin masih panjang, namun harapan akan kualitas hidup yang lebih baik bagi pasien kanker dapat kita wujudkan bersama, mulai hari ini.
Mari kita jadikan momentum Hari Kanker Sedunia sebagai penguat komitmen untuk peduli, berempati, dan berkontribusi. Bersama dengan ilmu pengetahuan, kasih, dan kerja sama maka kita dapat melangkah lebih jauh dalam melawan kanker dan menghadirkan harapan bagi sesama.
PENYAKIT kanker masih menjadi tantangan besar bagi sistem kesehatan nasional, baik dari sisi kesehatan publik maupun beban ekonomi.
Setiap pasien kanker memiliki kondisi yang tidak seragam, sehingga pendekatan yang dilakukan pun harus menyesuaikan dengan kebutuhan spesifik tersebut.
Kanker leher rahim tercatat sebagai kanker kedua terbanyak pada perempuan di Indonesia, dengan kondisi mayoritas pasien baru terdeteksi pada stadium lanjut.
Seorang pria paruh baya mengalami pembesaran perut yang tidak wajar selama bertahun-tahun. Awalnya, ia mengira kondisi tersebut hanyalah akibat kenaikan berat badan atau obesitas biasa
Sekitar 30 persen kasus kanker diketahui dapat kambuh dalam lima tahun pertama setelah pasien dinyatakan remisi, terutama jika kontrol kesehatan tidak dilakukan secara rutin.
UKRIDA memperkenalkan Unit Layanan Disabilitas (ULD) sebagai komitmen membangun kampus yang inklusif, aksesibel, dan penuh empati.
Melalui rangkaian MIL Changemakers 2025, UKRIDA menegaskan komitmennya untuk memberikan ruang dan dukungan bagi Pers Mahasiswa dalam mengembangkan literasi media dan informasi.
Pada usia 47 tahun, Prof. Hery menjadi alumni pertama FEB UKRIDA yang meraih gelar Profesor sekaligus bergabung menjadi deretan profesor muda di UKRIDA.
Orang yang andal mempergunakan AI merupakan orang-orang yang akan menggantikan berbagai pekerjaan yang tidak menggunakan AI.
Komitmen UKRIDA terhadap inovasi dan pengembangan ini kemudian diimplementasikan melalui serangkaian forum kolaboratif lintas disiplin yang mempertemukan para pemangku kepentingan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved