Headline
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Kumpulan Berita DPR RI
Mazmur 139:14 berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib.” Ayat ini menjadi fondasi bagi kita di Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) untuk memandang setiap mahasiswa bukan hanya sebagai peserta didik, tetapi sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki martabat, potensi, dan keunikan. Setiap pribadi hadir dengan cerita dan karunia yang luar biasa. Keberagaman kemampuan bukanlah kekurangan, melainkan bagian dari desain ilahi yang patut dirangkul dengan kasih.
Sebagai universitas Kristen, UKRIDA tidak hanya dipanggil untuk mengajar dan membentuk intelektualitas, tetapi juga menumbuhkan nilai penerimaan, kepedulian, serta keberpihakan kepada mereka yang membutuhkan dukungan khusus. Momentum World Disability Day pada 3 Desember kembali mengingatkan kita inklusi adalah wujud nyata kasih Allah, tindakan kasih yang melihat lebih dalam, lebih lembut, dan lebih penuh empati.
Tahun ini memiliki makna tersendiri bagi UKRIDA, karena untuk pertama kalinya kita memperkenalkan Unit Layanan Disabilitas (ULD) UKRIDA. Kehadiran ULD merupakan langkah besar dan penuh harapan dalam menjadikan kampus ini tempat belajar yang aman, ramah, dan aksesibel bagi seluruh mahasiswa. Walau unit ini dibentuk untuk menindaklanjuti amanat PP No. 13 Tahun 2020 dan Permendikbudristek No. 48 Tahun 2023, sesungguhnya ULD adalah wujud nyata aplikasi dari nilai LEAD (Loving, Enlightening, Advanced, Determined) yang telah menjadi DNA UKRIDA sejak awal.
Ketika kita mendengar kata “disabilitas,” mungkin yang terbayang adalah kursi roda, tongkat, atau alat bantu dengar. Namun dalam kehidupan kampus, banyak mahasiswa menghadapi tantangan yang tidak terlihat mata, yaitu invisible disabilities.
Disleksia, ADHD, autism spectrum ringan, kecemasan berat, depresi klinis, PTSD, sensitivitas sensorik, hingga kondisi medis kronis adalah pergumulan nyata, meski tidak tampak secara fisik. Karena tidak terlihat, kondisi ini sering disalahpahami. Ada yang dianggap kurang berusaha, kurang disiplin, atau tidak fokus. Padahal mereka sedang berjuang dengan kekuatan yang mungkin tidak kita sadari.
Kesadaran akan invisible disabilities mengajak kita untuk tidak cepat menilai atau menghakimi, melainkan mendengar dan hadir dengan empati. ULD berkomitmen menjadi ruang yang memandang setiap mahasiswa dari lensa kemanusiaan, tantangan yang tidak terlihat tetap layak didengar, dipahami, dan difasilitasi. Di UKRIDA, kita dipanggil untuk melihat lebih dalam daripada yang tampak, menciptakan lingkungan yang tidak menghakimi, tetapi menerima dan memampukan.
Untuk menumbuhkan budaya inklusi, ULD mendorong pengembangan peer support sebagai gerakan komunitas. Peer support bukan sekadar program teknis, tetapi undangan bagi setiap civitas akademika UKRIDA untuk hadir bagi sesamanya. Ketika setiap civitas saling mendengar, menemani, dan berusaha memahami kondisi rekan-rekannya, mereka sedang mempraktikkan kasih Kristus dalam bentuk yang paling sederhana namun paling berdampak.
Peer support menegaskan inklusi adalah tanggung jawab bersama, bukan tugas satu unit. Melalui relasi yang saling menguatkan, mahasiswa dapat bertumbuh menjadi pribadi yang lebih empatik, toleran, rendah hati, dan siap menjadi pemimpin yang peduli di masa depan.
Sejak berdiri, ULD UKRIDA telah memulai beberapa langkah penting sebagai fondasi layanan ke depan. ULD kini memiliki kantor layanan disabilitas yang aksesibel di Gedung E Lantai Dasar Kampus 1 UKRIDA dan Gedung B Lantai 5 Kampus 2 UKRIDA, menyediakan kanal komunikasi resmi melalui email [email protected].
Di samping itu, UKRIDA melakukan benchmarking ke University of Auckland, New Zealand, untuk mempelajari praktik terbaik layanan disabilitas global. UKRIDA juga menyelenggarakan Logo Design Competition dalam rangka World Disability Day yang terbuka bagi sivitas akademika dan alumni.
Ke depan, ULD UKRIDA sedang menyusun pedoman layanan, peta aksesibilitas kampus, program kampanye inklusi, pelatihan relawan, serta kolaborasi lintas unit dan mitra eksternal untuk memperkuat ekosistem kampus yang lebih inklusif.
Melalui rangkaian MIL Changemakers 2025, UKRIDA menegaskan komitmennya untuk memberikan ruang dan dukungan bagi Pers Mahasiswa dalam mengembangkan literasi media dan informasi.
Pada usia 47 tahun, Prof. Hery menjadi alumni pertama FEB UKRIDA yang meraih gelar Profesor sekaligus bergabung menjadi deretan profesor muda di UKRIDA.
Orang yang andal mempergunakan AI merupakan orang-orang yang akan menggantikan berbagai pekerjaan yang tidak menggunakan AI.
Komitmen UKRIDA terhadap inovasi dan pengembangan ini kemudian diimplementasikan melalui serangkaian forum kolaboratif lintas disiplin yang mempertemukan para pemangku kepentingan.
Tema seminar di Festival FTIK kali ini bertujuan untuk memperkuat sinergi antara tiga elemen utama, yaitu pemerintah, industri, dan dunia pendidikan tinggi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved