Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

MIL Changemakers 2025 di Kampus UKRIDA Beri Penguatan Literasi Media dan Informasi bagi Mahasiswa

Syarief Oebaidillah
17/11/2025 20:42
MIL Changemakers 2025 di Kampus UKRIDA Beri Penguatan Literasi Media dan Informasi bagi Mahasiswa
Ilustrasi(Dok ist)

DI tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi digital yang begitu cepat, kemampuan untuk memahami, menilai, dan memanfaatkan informasi secara kritis menjadi kebutuhan yang sangat penting. 
Literasi media dan informasi bukan hanya keterampilan, melainkan juga tanggung jawab bersama untuk menciptakan ruang digital yang aman, inklusif, dan demokratis.  

Sebagai wujud nyata dari komitmen tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UKRIDA melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers Mahasiswa berkolaborasi dengan Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) dan Forum Alumni Aktivis Pers Mahasiswa Indonesia (FAA PPMI), bersama UNESCO dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, menyelenggarakan Seminar dan Pameran Media and Information Literacy (MIL) Changemakers 2025 pada 10–12 November di Kampus UKRIDA, Jakarta. Turut hadir kalangan Pers Mahasiswa dari berbagai daerah seperti, Aceh, Madura, dan Makassar.

Kegiatan ini dihadiri Kepala Biro Umum, Humas, dan PBD Kemendiktisaintek, Manifest Zubair yang mewakili Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Dr. Fauzan. Totok Suryanto ,Wakil Ketua Dewan Pers, Ana Lomtadze ,Kepala Unit Komunikasi dan Informasi UNESCO Jakarta, Nany Afrida Ketua Umum AJI Indonesia, serta wartawan senior, Eka Budianta.

Melalui keterangan resmi,dr. Theresia Citraningtyas, MWH., Ph.D,Wakil Rektor UKRIDA Bidang Mahasiswa, Alumni, Kerjasama dan Kewirausahaan mengutarakan pentingnya peran mahasiswa sebagai pembawa perubahan. Ia mengingatkan tiga prinsip utama untuk mempertimbangkan apa yang dikomunikasikan yakni  menyampaikan hal yang benar, baik, dan perlu. 

"Hal ini juga sejalan dengan moto UKRIDA Lead to Impact, yang menegaskan bahwa setiap tindakan, liputan, dan kata-kata harus membawa dampak positif bagi masyarakat dan kemanusiaan," kata Theresia Citraningtyas.

Merujuk laporan International Telecommunication Union (ITU), pada tahun 2024, sebanyak 5,5 miliar orang terhubung ke internet, yaitu 68% dari populasi dunia. Laporan United Nations Office of Information and Communication Technology (OICT) dan UNESCO berjudul “The AI Generation: Youth in the Artificial Intelligence Era” menggambarkan bagaimana teknologi AI sudah menjadi bagian sehari-hari bagi generasi muda kini.  Ini merupakan peluang besar sekaligus tantangan serius mulai dari misinformasi, ujaran kebencian, hingga ancaman privasi digital.

Karena itu, literasi media menjadi kompetensi kunci untuk memahami cara kerja algoritma, memverifikasi fakta, serta menjaga etika dan keselamatan digital.

Menjawab tantangan tersebut, rangkaian kegiatan MIL Changemakers 2025 menghadirkan Pameran Karya Fellowship MIL yang menampilkan kreativitas dan inovasi mahasiswa dalam mengolah isu-isu media dan informasi.

Contohnya, Virda Maulidatin Ni’mah mengatakan, “Bersama tim, saya berkesempatan membuat film dokumenter Headspace: Bijak dalam Bermedia Sosial yang mengangkat isu ujaran kebencian di dunia maya. Dari proses ini, saya belajar bahwa menjadi jurnalis muda berarti menyuarakan hal-hal relevan dengan cara yang bisa dipahami semua orang. Sesederhana apapun bentuknya, yang penting pesannya sampai."

Virda Maulidatin Ni’mah, peserta MIL Fellowship UNESCO dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus, Jawa Tengah ini juga mengungkapkan kebanggaannya menjadi bagian dari program tersebut melalui karyanya bersama LPM Paradigma. “Saya belajar bahwa literasi media bukan sekadar teori juga  tentang bagaimana kita bisa mengubah wawasan menjadi karya nyata yang berdampak bagi masyarakat,” ungkap Virda.

Etika Jurnalistik

Rangkaian acara berikutnya Talkshow Inspiratif FAA PPMI, LPM UKRIDA, dan FPMJ bertema “Memahami Literasi Media dan Informasi di Ruang Redaksi: Tantangan dan Praktik Pers Mahasiswa.” Diskusi ini menghadirkan beragam pandangan mengenai peran strategis pers mahasiswa dalam menjaga kualitas informasi dan mengedepankan etika jurnalistik di tengah derasnya arus media digital.

Selanjutnya, seminar nasional bertema “Pers Mahasiswa dan Literasi Media: Menguatkan Nalar Publik di Era Disrupsi Digital” secara hybrid sebagai ruang refleksi serta seruan bersama untuk memperkuat peran pers mahasiswa sebagai garda terdepan dalam membangun nalar kritis publik, sekaligus menciptakan ekosistem media yang sehat, inklusif, dan berintegritas.

Dalam kesempatan tersebut, Anna Lomtadze menekankan bahwa kegiatan MIL Changemakers merupakan bagian penting dari upaya global UNESCO untuk memperkuat literasi media dan informasi di kalangan generasi muda. Sementara itu, Nany Afrida, menyebut pers mahasiswa sebagai “laboratorium demokrasi tempat jurnalis muda belajar mempraktikkan nilai-nilai jurnalistik seperti verifikasi, keberimbangan, dan keberanian menyuarakan kebenaran.

Dalam menghadapi sensor, disinformasi, dan kekerasan digital, jurnalis mahasiswa menjadi garda depan demokrasi kampus sekaligus pilar transparansi dan keadilan,” ujar Nany.

Dalam sesi  tanya jawab, mahasiswa dari berbagai daerah mengangkat isu ketegangan yang kerap terjadi di berbagai kampus antara pihak universitas dan lembaga pers mahasiswa. Para pembicara menekankan pentingnya membangun sinergi yang sehat dan konstruktif antara keduanya. Praktik kolaboratif semacam ini telah terwujud secara nyata di UKRIDA.

Stevard Christicoh Glenn Kuhu, Ketua UKM Pers periode 2023–2024, mengutarakan di UKRIDA pihaknya sebagai mahasiswa merasakan dukungan yang nyata dari pihak universitas terhadap kegiatan pers mahasiswa.

"Kami diberi ruang dan kesempatan untuk berekspresi, menyuarakan isu-isu penting, serta mengasah kemampuan jurnalistik tanpa harus khawatir dibatasi. Justru, pihak kampus kerap mendorong kami untuk menghasilkan karya yang kritis namun tetap berimbang. Melalui kolaborasi ini, kami belajar bahwa kebebasan pers dan tanggung jawab akademik dapat berjalan seiring,” tukasnya.

Melalui rangkaian MIL Changemakers 2025, UKRIDA menegaskan komitmennya untuk memberikan ruang dan dukungan bagi Pers Mahasiswa dalam mengembangkan literasi media dan informasi. Diharapkan mahasiswa mengalami peningkatan kemampuan berpikir kritis, kepekaan terhadap isu publik, serta keterampilan dalam memproduksi dan mengelola informasi secara bertanggung jawab. Pada akhirnya, pers mahasiswa juga terdorong untuk menjadi agen perubahan, yang mampu memanfaatkan media sebagai sarana edukasi, advokasi, dan kolaborasi lintas disiplin di era digital. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya