Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Taman Pelajar

Fachrurrazi Direktur Sekolah Sukma Bangsa Bireuen
08/1/2026 05:05
Taman Pelajar
(Dok. Sekolah Sukma Bangsa)

DI tengah Aceh yang kembali berduka, diguncang banjir bandang yang menyapu rumah dan menghanyutkan harapan, suara Sir Kenneth Robinson tentang dunia pendidikan global terasa lebih relevan dan mendesak daripada sekadar wacana.

Edukator ternama itu dengan pilah menyatakan keprihatinannya: sistem pendidikan kita hari ini tak ubahnya sebuah pabrik pelatihan pekerja, dirancang untuk memasok tenaga bagi mesin industri, bukan untuk membentuk manusia seutuhnya yang tangguh.

Sistem warisan era Revolusi Industri itu, yang mengagungkan keahlian teknis demi profit, terasa janggal dan usang ketika dihadapkan pada realitas di Aceh, ketika yang dibutuhkan bukan sekadar tenaga terampil, melainkan juga manusia-manusia yang resilien, empatik, kreatif, dan mampu bergotong royong membangun kembali kehidupan dari puing-puing bencana. Kurikulum yang hanya sejalan dengan misi industri jelas tak lagi memadai untuk menjawab tantangan eksistensial semacam itu.

 

TUJUAN PENDIDIKAN

United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) merumuskan tujuan utama pendidikan ialah membangun perdamaian, memberantas kemiskinan, dan mendorong pembangunan berkelanjutan. Secara umum tujuan pendidikan ialah mendidik para murid agar menjadi manusia seutuhnya yang berkontribusi untuk sesama. Manusia yang memiliki rasa, karsa, dan asa.

Sayangnya, tujuan luhur itu terdistorsi oleh asumsi-asumsi keliru. Salah satu asumsi keliru ialah hierarki mata pelajaran yang menempatkan matematika dan bahasa di puncak, sementara seni drama, tari, dan seni lainnya dianggap kurang berguna bagi industri. Stratifikasi itu menciptakan 'kasta' dalam kurikulum. Sekolah terindikasi amat fokus pada hal-hal yang terkait dengan sisi kognitif.

Kritikus menyatakan tujuan pendidikan publik hari ini ialah mencetak para profesor. Lihat saja masifnya kegiatan-kegiatan sekolah yang berpusat pada pengembangan otak, minoritas dari seluruh anugerah tubuh manusia, dengan mengabaikan 98% potensi jasmani. Kenapa kita tidak berhipotesis bahwa menari sama pentingnya dengan matematika? Tidak bolehkah siswa menari setiap hari di kelas sebagaimana mereka setiap hari belajar matematika?

Kegiatan seperti menari, berolahraga, mengeksplorasi alam, berkemah, memancing, dan melakukan kegiatan fisik harusnya mendapat porsi yang sama dengan kegiatan berpikir. Manusia sejatinya diciptakan bukan hanya untuk berpikir, melainkan juga bergerak dan berbuat.

Kedua, asumsi bahwa kecerdasan itu hanya bisa diukur secara akademik. Dalam hal itu, dunia kampus berkontribusi besar dengan mengasosiasikan kecerdasan hanya dengan perspektif akademik. Hasilnya, tujuan akhir keseluruhan proses pendidikan sekolah hari ini ialah meluluskan sebanyak mungkin siswa untuk masuk perguruan tinggi.

Menurut UNESCO, dalam 30 tahun mendatang, jumlah lulusan universitas dengan pola itu sangat fantastis sehingga angkanya akan mengalahkan total sarjana dalam sejarah umat manusia.

Fase inflasi akademik akan terjadi karena banyaknya lulusan kampus yang tidak mungkin diserap minimnya lapangan kerja. Inflasi gelar terjadi: sarjana kini tak cukup, magister jadi standar baru, bahkan doktor mulai dituntut. Fenomena itu memaksa kita mendefinisikan ulang kecerdasan. Gelar tinggi bukan jaminan kebijaksanaan, yang justru merupakan esensi kecerdasan sejati.

Kemampuan akademik acap dinobatkan menjadi satu-satunya ukuran bahwa seorang siswa telah terdidik. Bahwa tolok ukur kecerdasan itu ialah seperangkat kemampuan akademik tertentu yang berhasil dikuasai siswa. Bahwa hanya siswa yang punya kemampuan akademik tertentu yang dianggap cerdas dan terdidik.

Bagaimana dengan siswa lain yang tidak berminat dengan paket kemampuan yang diajarkan di sekolah? Apakah lantas mereka harus dipaksa untuk tetap mempelajari kemampuan-kemampuan tersebut? Bagaimana dengan anak yang secara alami terlahir dengan kemampuan khusus yang tidak terdata oleh sistem evaluasi sekolah? Apakah lantas ia akan dituduh tidak cerdas?

Manusia secara alami cerdas dan siap belajar. Masalahnya bukan pada individu, melainkan pada sistem pendidikan yang kaku, yang gagal menyediakan ruang bagi keberagaman kecerdasan yang majemuk, dinamis, dan personal (Gardner, 1999; Sternberg, 1985). Oleh karena itu, sekolah seharusnya menjadi taman yang menyuburkan kreativitas, sebuah tujuan yang setara pentingnya dengan literasi dan numerasi.

 

TAMAN PELAJAR

Sekolah ialah taman belajar milik para siswa, bukan milik guru atau administrator. Kita perlu mendorong para siswa untuk menikmati sekolah dengan cara mereka sendiri. Mereka leluasa berkegiatan sesuai dengan bakat minat yang sudah mengalir dari dalam darah mereka sebagai salah satu anugerah terbaik dari Tuhan.

Murid seyogianya dimotivasi untuk berusaha dan berjuang untuk hidup yang lebih baik dan berguna untuk sesama. Mereka difasilitasi untuk menjalani tujuan filosofis dari pendidikan, menjadi manusia seutuhnya sesuai dengan tujuan dan pilihan hidup mereka. Seterusnya, ia diharapkan untuk berkontribusi menjadi pemimpin di muka bumi dalam rangka memelihara kehidupan dan membawa perubahan dan perbaikan.

Ki Hadjar Dewantara (1977) telah menginisiasi sebuah gerakan menarik yang disebut metode among, dengan asumsi bahwa siswa bebas untuk belajar dan siswa belajar sesuai dengan keinginan dan kemampuan alamiah yang berkembang. Dukungan guru lebih banyak dilaksanakan melalui dukungan psikologis, yang meliputi penciptaan motivasi inspiratif bagi siswa dan penciptaan kondisi berpikir kritis mandiri dalam pembelajarannya (Elfa Susanti: 2024). Dalam sistem among, setiap guru sebagai fasilitator dalam proses pendidikan diwajibkan bersikap ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani (Muhammad Nur Wangid: 2009).

Guru merdeka memilih ragam metode pendidikan populer yang sudah teruji efektif. Namun, falsafah dan tujuan berbagai kegiatan tersebut harus bisa menyentuh pengasuhan jiwa dan raga murid. Jadi, kunci pendidikan ada pada tujuannya, strateginya bisa sangat bervariasi. Untuk itu, dibutuhkan guru-guru yang paham tujuan dari sebuah proses pendidikan.

Semoga, kita bisa lebih bijak dalam menjalankan arah pendidikan. Tugas kita para guru, warga, masyarakat, dalam mendidik ialah mengedukasi keseluruhan jiwa dan raga murid sehingga mereka bisa menghadapi masa depan dengan gemilang.

Kita tidak akan bisa mengantar mereka ke masa itu, tapi dengan bekal yang baik dan tepat mereka pasti akan sedia berada di masa tersebut. Tugas kita ialah membuat mereka bisa melakukan sesuatu untuk masa depan. “To help them make something of it,” tutup Sir Kenneth Robinson. Wallahu a’lam.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya