Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Menjadi Kepala Sekolah Aceh di Era AI

Sarlivanti Kepala SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe, penerima Beasiswa LPDP Non-gelar bidang Kepemimpinan dan AI dalam Pendidikan bersama Peking University
24/11/2025 05:00
Menjadi Kepala Sekolah Aceh di Era AI
(MI/Duta)

PERKEMBANGAN kecerdasan buatan (AI) sedang mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Di Aceh, perubahan ini terasa sebagai tantangan sekaligus peluang. Tantangannya ialah memastikan AI tidak hanya menjadi tren, tetapi juga benar-benar meningkatkan mutu belajar. Kesempatannya ialah menghadirkan pembelajaran yang lebih personal, relevan, dan adaptif terhadap tuntutan zaman.

Namun, perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya. Ia bergantung pada satu hal penting: kepemimpinan sekolah. Di wilayah yang masih menghadapi kesenjangan kualitas antara kota dan daerah terpencil, peran kepala sekolah menjadi jauh lebih menentukan.

 

MEMPERKUAT FONDASI KEPEMIMPINAN

Pelatihan LPDP Non-gelar tentang Kepemimpinan dan AI memberikan pengalaman belajar yang luas dan bermakna. Materi yang dibahas tidak hanya berfokus pada aspek teknis teknologi, tetapi juga menguatkan keterampilan berpikir kritis, refleksi etis, dan kemampuan mengelola perubahan di sekolah.

Salah satu konsep penting yang diperkenalkan ialah Leadership for Learning (LFL), yakni cara memimpin yang memastikan setiap keputusan sekolah benar-benar mendukung proses belajar. Dalam konteks Aceh, pendekatan ini berarti bahwa teknologi harus memperkuat nilai Islam, keacehan, dan kemanusiaan—bukan menggantikannya.

Pemahaman tentang AI-Generated Content (AIGC) serta etika penggunaannya juga membuka wawasan baru. Pelatihan menghadirkan praktisi dan akademisi dari berbagai negara yang menunjukkan bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan tanpa mengorbankan karakter budaya. Dari sinilah peserta semakin memahami bahwa AI hanyalah alat, bukan tujuan pendidikan itu sendiri. Prinsip ‘AI memfasilitasi, guru dan siswa memverifikasi’ menjadi panduan penting agar teknologi tetap berada di bawah kontrol manusia dan tidak menggeser peran guru maupun proses berpikir siswa

 

IMPLEMENTASI AI DI SEKOLAH

Implementasi AI di sekolah membawa arah positif sekaligus membuka ruang baru untuk memperbarui praktik pembelajaran. Guru mulai memanfaatkan AI untuk menyusun RPP, menganalisis hasil belajar, dan membuat media ajar kreatif melalui fitur seperti Canva Code. Teknologi ini membantu menghemat waktu, memperkaya metode mengajar, dan menyesuaikan materi dengan kebutuhan siswa secara lebih cepat.

Siswa pun merasakan manfaat langsung. Mereka menggunakan AI untuk membuat cerita digital, mencari inspirasi, hingga meningkatkan kualitas presentasi. Pembelajaran menjadi lebih personal dan adaptif karena umpan balik AI membantu mereka mengenali kekuatan dan kelemahan diri dengan lebih jelas, membuka peluang belajar yang lebih mandiri dan kreatif.

Di SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe, AI juga memperkuat inovasi seperti Jurnal Kelas Damai dan Sukma Care. Kedua program ini menggunakan teknologi untuk membaca pola interaksi, memetakan dinamika emosional, dan mempercepat proses konseling. Dengan dukungan AI, guru dapat merespons situasi kelas lebih cepat sehingga konflik kecil bisa dicegah dan komunikasi dengan siswa semakin terbuka. Teknologi akhirnya tidak hanya meningkatkan efektivitas pengelolaan kelas, tetapi juga memperkuat budaya damai dan kesejahteraan sosial-emosional di sekolah.

Namun, di balik kemajuan itu, ada risiko yang tidak boleh diabaikan. Peralihan digital yang cepat menyimpan tantangan besar, dan di Aceh urgensinya terasa semakin kuat. Ketergantungan guru pada alat digital bisa menumpulkan kreativitas mengajar jika tidak diimbangi refleksi dan peningkatan kompetensi.

Siswa pun dapat menjadikan AI sekadar mesin jawaban tanpa memahami logika berpikir di baliknya. Situasi ini kian pelik bagi sekolah di wilayah 3T yang memiliki jaringan dan perangkat terbatas sehingga kesenjangan digital berpotensi melebar. Karena itu, dalam penerapan AI perlu kebijakan internal yang jelas, pemahaman etika yang kuat, dan pengawasan kepala sekolah agar teknologi tetap sejalan dengan nilai yang harus dijaga.

Pengetahuan dari pelatihan LPDP tidak akan berhenti di satu sekolah, tetapi akan disebarkan lebih luas melalui forum kepala sekolah, komunitas belajar, dan MKKS di Aceh. Pelatihan internal tentang etika dan penggunaan AI yang aman, penyusunan modul singkat literasi AI untuk kepala sekolah, serta pendampingan guru dalam merancang pembelajaran berbasis teknologi menjadi bagian dari tindak lanjutnya. Langkah-langkah ini diharapkan dapat membangun ekosistem belajar yang kolaboratif dan berakar pada nilai lokal. Dengan demikian, lebih banyak sekolah di Aceh dapat memanfaatkan AI secara tepat, bijak, dan selaras dengan budaya damai.

 

BUDAYA MENUNTUN TEKNOLOGI

Pembelajaran lintas budaya melalui kelas Mandarin menjadi salah satu pengalaman paling berharga selama pelatihan LPDP. Para peserta tidak hanya mengenal budaya kerja Tiongkok yang tekun dan disiplin, tetapi juga melihat bagaimana nilai-nilai itu beririsan dengan adab, kerja keras, dan penghormatan kepada guru dalam budaya Aceh.

Tradisi seperti minum teh, peumulia jamee, dan peusijuek sama-sama menekankan ketenangan, ketelitian, dan penghormatan sebagai dasar harmoni sosial. Melihat bagaimana sekolah-sekolah di Tiongkok mengelola teknologi dengan disiplin dan etika, semakin tampak bahwa Aceh juga memiliki fondasi budaya yang kuat untuk mengadopsi AI secara bijak tanpa meninggalkan nilai lokal. Dari sini, menjadi jelas bahwa teknologi hanya dapat berkembang dengan baik bila dituntun oleh moral, serta berpijak pada nilai Islam dan tradisi Aceh.

ARAH TRANSFORMASI PENDIDIKAN ACEH KE DEPAN

Masa depan pendidikan Aceh akan ditentukan oleh bagaimana sekolah dapat memanfaatkan AI secara bijak, beretika, dan sesuai norma. Sekolah di Aceh memiliki potensi untuk menjadi pusat pembelajaran yang lebih adaptif dalam sepuluh tahun ke depan jika guru memiliki kemampuan digital yang kuat, kepala sekolah bertindak sebagai pemimpin pembelajaran yang visioner, dan siswa memiliki kemampuan untuk menggunakan teknologi untuk berpikir kritis serta kreatif.

Indikator keberhasilan integrasi AI tidak hanya diukur dari kecanggihan aplikasi yang digunakan, tetapi juga seberapa efektif AI mampu meningkatkan karakter, kemandirian siswa, budaya damai, dan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat Aceh. AI berfungsi sebagai alat penggerak, bukan penentu arah.

Pada akhirnya, masa depan pendidikan Aceh hanya dapat dibangun melalui kepemimpinan sekolah yang visioner, pemanfaatan AI yang bijak dan beretika, serta komitmen untuk meneguhkan nilai Islam, keacehan, dan kemanusiaan sebagai fondasi setiap inovasi.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya