Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
MOTIF aksi dugaan bunuh diri seorang kepala sekolah (kepsek) berinisial W, di Cilincing, Jakarta Utara, yang ditemukan Senin (1/12) pagi, masih didalami pihak kepolisian. Asmara diduga menjadi pemicunya.
Pemilik warung yang tak jauh dari sekolah, Oong, menceritakan bagaimana saat ia mengetahui ada keramaian warga yang melihat jasad W tergantung di ruang guru SMP Syarif Hidayatullah (Syahid) 2, Cilincing, Jakarta Utara. Oong penasaran dan masuk ke dalam sekolah.
"Anak saya ngasih tahu di depan ramai, saya lihat dengar katanya ada orang bunuh diri, ternyata Pak kepala sekolah," kata Oong ditemui di lokasi, Senin (1/12).
Di tengah keramaian warga yang melihat korban W, Oong justru melihat ada sosok perempuan yang mengalami syok hingga pingsan. Perempuan itu diduga calon istri korban. Korban diketahui batal menikah dengan perempuan tersebut.
"Baru saya dengar pagi, waktu saya masuk, pintu yang ada mayatnya itu sudah dikunci. Saya lihat ke ruangan sebelahnya itu ada perempuan pingsan, terus saya tanya, 'siapa ini?', ada yang bilang itu calon istrinya. Lagi nangis terus pingsan. Nah, saya dengarlah ada omongan, calon istri tapi nikahnya juga enggak jadi katanya," kata Oong.
Oong tak menyangka, kepala sekolah yang kerap membeli rokok di warungnya justru tewas mengenaskan. Oong menyatakan korban terlihat terakhir pada hari Minggu (30/11) sore. Korban saat itu membeli rokok dan minuman di warungnya, lantas masuk kembali ke dalam sekolah.
"Ya (lihat terakhir) kemarin hari Minggu, dia datang beli kopi dua, rokok sebungkus, sama air satu. Terus dia masuk lagi (ke sekolah), kalau dia keluar saya enggak tahu," kata Oong.
"Dia kan orangnya tertutup, enggak kayak guru-guru yang lain. Dia paling suka bercandain cucu saya, katanya sih dia duda," sambungnya.
Sementara itu, polisi masih mendalami motif bunuh diri kepala sekolah berumur 48 tahun itu. Kanit Reskrim Polsek Cilincing AK Fauzan Yonnadi mengatakan pihaknya telah melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi.
"Untuk motif itu masih kita dalami, kami dari penyidik Unit Reskrim Polsek Cilincing masih melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi, di antaranya adalah keluarga korban, kemudian calon istri korban, rekan kerja korban sudah kita mintai keterangan. Untuk motif belum dapat disimpulkan karena pemeriksaan masih berlangsung," tandasnya. (MGN/P-2)
Sebelum peristiwa tragis tersebut terjadi, korban sering meminta ibunya untuk melakukan pencairan dana Program Indonesia Pintar (PIP) untuk memenuhi kebutuhan sekolah.
Kehadiran tim psikologi Polda NTT merupakan respons cepat dan terukur untuk memastikan keluarga korban mendapatkan penguatan mental yang memadai.
WHO menekankan mayoritas anak yang bunuh diri sebenarnya menunjukkan tanda peringatan sebelumnya, namun sering tidak terbaca atau diabaikan.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) sekaligus Juru Bicara Presiden, Prasetyo Hadi, menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa ini.
Kepala daerah memiliki kewajiban moral dan administratif untuk memastikan kehadiran negara di setiap pintu rumah warga yang kesulitan.
Kemendikdasmen memandang peristiwa siswa bunuh diri di NTT itu sebagai kejadian yang sangat serius, serta mengingatkan bahwa kesejahteraan psikososial anak merupakan isu yang kompleks.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved