Headline
Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.
Kumpulan Berita DPR RI
SEORANG anak yang baru menginjak 10 tahun di Nusa Tenggara Timur (NTT) memilih mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku dan pena untuk perlengkapan sekolah.
Psikiater, dr Lahargo Kembaren, mengatakan terdapat perubahan perilaku sebagai tanda peringatan dini ketika anak mengalami masalah pada kesehatan mentalnya hingga mencoba mengakhiri hidup.
Perubahan perilaku adalah alarm paling penting, sehingga tidak dapat dianggap sepele. Tanda-tanda yang perlu diwaspadai antara lain menarik diri, menjadi sangat pendiam, perubahan drastis emosi seperi murung; mudah menangis; atau cepat marah, ucapan bernada putus asa, gangguan tidur, mimpi buruk berulang, hingga penurunan prestasi atau kehilangan minat bermain.
“Perilaku anak berubah bukan tanpa sebab, itu cara jiwa meminta tolong," kata Lahargo, Kamis (5/2).
WHO menekankan mayoritas anak yang bunuh diri sebenarnya menunjukkan tanda peringatan sebelumnya, namun sering tidak terbaca atau diabaikan.
Berdasarkan kajian WHO dan laporan tren nasional Kemenkes, faktor risiko utama bunuh diri pada anak usia sekolah dasar meliputi depresi, kecemasan berat, kesulitan regulasi emosi, perasaan bersalah berlebihan, merasa beban, tekanan ekonomi kronis, konflik keluarga, kekerasan verbal/fisik, dan orangtua mengalami stres berat atau gangguan mental.
Adapun faktor lingkungan seperti perundungan (bullying), isolasi sosial, atau paparan konten bunuh diri di media/digital tanpa pendampingan.
"Kemenkes menunjukkan tren peningkatan kasus percobaan bunuh diri pada anak dan remaja dalam beberapa tahun terakhir, seiring meningkatnya tekanan sosial-ekonomi dan digital," ucapnya.
“Bunuh diri pada anak hampir selalu lahir dari akumulasi, bukan satu kejadian," pungkasnya. (Z-1)
Peringatan: Tulisan ini bukan dimaksudkan menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Jika Anda merasa depresi, berpikir untuk bunuh diri, segera konsultasikan segala masalah Anda ke tenaga profesional seperti psikolog, klinik kesehatan mental, psikiater, dan pihak lain yang bisa membantu.
Kehadiran tim psikologi Polda NTT merupakan respons cepat dan terukur untuk memastikan keluarga korban mendapatkan penguatan mental yang memadai.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) sekaligus Juru Bicara Presiden, Prasetyo Hadi, menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa ini.
Kepala daerah memiliki kewajiban moral dan administratif untuk memastikan kehadiran negara di setiap pintu rumah warga yang kesulitan.
Kemendikdasmen memandang peristiwa siswa bunuh diri di NTT itu sebagai kejadian yang sangat serius, serta mengingatkan bahwa kesejahteraan psikososial anak merupakan isu yang kompleks.
SEORANG murid Sekolah Dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT) berinisial YBS yang bunuh diri karena diduga tak mampu membeli buku tulis dan pena dinilai sebagai bukti nyata kegagalan negara.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved