Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
JIKA anak Anda kadang-kadang sulit tidur, mungkin Anda berpikir itu hanya fase yang akan berlalu. Namun, sebuah penelitian baru mengungkapkan, gangguan tidur ini bisa berbahaya, karena dapat meningkatkan risiko anak mencoba bunuh diri ketika mereka dewasa.
Penelitian yang diterbitkan di jurnal JAMA Network Open, menemukan anak-anak berusia 10 tahun yang mengalami gangguan tidur parah, memiliki risiko 2,7 kali lebih tinggi untuk mencoba bunuh diri. Hampir 1 dari 3 peserta dengan gangguan tidur yang parah, melaporkan adanya perilaku bunuh diri di kemudian hari.
Dr Rebecca Bernert, penulis senior studi dan ahli bunuh diri yang juga pendiri Laboratorium Penelitian Pencegahan Bunuh Diri Stanford di California, menyampaikan “tidur merupakan faktor risiko yang jelas, tidak menimbulkan stigma, dan mudah diatasi. Oleh karena itu, ia merekomendasikan agar tidur dijadikan faktor risiko yang dipelajari lebih lanjut, serta sebagai target penting untuk intervensi dalam pencegahan bunuh diri pada remaja.”
Baca juga : Kasus Bunuh Diri Sekeluarga, Pengamat: Anak-anak Tak Bisa Bersepakat, Mereka Korban
Penelitian menunjukkan bunuh diri adalah salah satu penyebab utama kematian pada anak-anak usia 10-14 tahun, kelompok yang juga sering mengalami gangguan tidur. Gangguan tidur telah diakui sebagai faktor risiko perilaku bunuh diri pada orang dewasa, bahkan tanpa gejala depresi. Namun, penelitian jangka panjang yang fokus pada hubungan antara gangguan tidur dan perilaku bunuh diri, terutama selama masa transisi dari kanak-kanak ke remaja awal, masih jarang dilakukan.
Para penulis studi menganalisis data dari lebih dari 8.800 anak berusia 9 atau 10 tahun yang ikut serta dalam Adolescent Brain Cognitive Development Study di 21 lokasi di seluruh AS. Pada saat itu, para wali mengisi kuesioner tentang kesehatan tidur anak mereka, termasuk masalah seperti, kesulitan tertidur, sering terbangun, kantuk berlebihan, serta perilaku lain saat tidur.
Selain itu, mereka juga melaporkan gejala kecemasan atau depresi pada anak, riwayat depresi keluarga, konflik keluarga, dan sejauh mana orang tua memantau anak-anak mereka.
Baca juga : Menstruasi Bisa Sebabkan Gangguan Tidur
Sebanyak 91,3% peserta penelitian usia 11 dan 12 tahun, terbukti tidak pernah mengalami pikiran atau percobaan bunuh diri, Namun, di antara mereka yang melakukannya, gangguan tidur yang tinggi dan parah, dikaitkan dengan kemungkinan lebih besar untuk memiliki ide dan mencoba bunuh diri, remaja perempuan dianggap beresiko pada hal ini.
Menurut Dr Christopher Willard, seorang psikolog dari Massachusetts dan dosen di Harvard Medical School, hasil penelitian ini tidak mengejutkan. "Kita tahu betapa pentingnya tidur bagi bayi, tetapi sering lupa betapa pentingnya tidur bagi anak masa remaja dan pra-remaja," ujarnya melalui email.
Otak pada usia tersebut mengalami perubahan besar, mirip dengan tahun pertama kehidupan anak, sehingga remaja membutuhkan banyak tidur untuk mendukung perkembangan mereka, lanjut Willard melalui email.
Baca juga : Ayah Pembunuh 4 Anak di Jagakarsa belum Ditahan
"Penting untuk dicatat dalam penelitian seperti ini, tidak ada asumsi kurang tidur menyebabkan perilaku bunuh diri. Kami hanya melihat hubungan antara keduanya," kata Dr Neha Chaudhary, psikiater anak dan remaja di Rumah Sakit Umum Massachusetts dan Harvard Medical School di Boston. Chaudhary tidak terlibat dalam penelitian ini.
Ada kemungkinan gangguan tidur dapat menjadi tanda awal dari masalah kesehatan mental yang kemudian memburuk, kata Chaudhary, kepala petugas medis di Modern Health.
Bernert menjelaskan tidur adalah, indikator penting kesejahteraan dan memberikan gambaran tentang kesehatan fisik dan emosional seseorang. Ketika tidur terganggu, itu mungkin, menjadi penyebab tekanan emosional seseorang. Selain itu, kualitas atau jumlah tidur yang kurang juga dapat mempengaruhi cara kerja otak, menurut para ahli.
Baca juga : Ayah Terduga Pembunuh 4 Bocah di Jagakarsa Dipindahkan ke RS Polri
"Masalah dengan tidur, yang disebabkan oleh terlalu banyak stres, aktivitas, tugas sekolah, dan waktu di depan layar, semuanya berkontribusi. Mengganggu perkembangan otak di sejumlah tingkatan, terutama suasana hati, kecemasan, dan regulasi emosi," kata Willard.
Kurangnya regulasi dan kelelahan dapat mengganggu kemampuan kita dalam mengambil keputusan, mengurangi kemampuan mengatasi stres, dan meningkatkan perilaku impulsif. Selain itu, tidur juga penting untuk mengatur neurotransmitter, metabolisme, plastisitas otak, dan pembersihan protein limbah beracun dari otak, menurut Berry.
Mendukung kesehatan anak, dapat dilakukan dengan melakukan kegiatan malam yang baik, yang mendukung tidur yang sehat, kata Willard.
Hal ini dapat dilakukan dengan cara, menciptakan rutinitas untuk bersantai yang dimulai satu jam sebelum tidur, kata Berry. Rutinitas ini harus membatasi waktu menonton layar, pekerjaan rumah, dan aktivitas fisik sebanyak mungkin, serta menyertakan kegiatan santai seperti membaca ringan, membuat jurnal, atau mendengarkan musik yang menenangkan.
Berry juga berpendapat, “menjaga kebiasaan baik sepanjang hari seperti berolahraga, mendapatkan sinar matahari, mengelola stres, dan menghindari tidur siang penting untuk mendukung tidur yang berkualitas.” (CNN/Z-3)
Kualitas tidur yang buruk dapat memicu stres, gangguan kecemasan, hingga penurunan konsentrasi.
GANGGUAN tidur dan pernapasan semakin mendapat perhatian dalam dunia kesehatan.
Sebuah penelitian besar di Perancis menunjukkan bahwa prevalensi insomnia berbeda-beda antar kelompok usia dan jenis kelamin, serta dipengaruhi oleh faktor sosial.
Gangguan tidur seperti sleep apnea tak boleh diabaikan. Studi terbaru menunjukkan sleep apnea dapat memicu mikroperdarahan di otak.
Studi terbaru menunjukkan ibu yang melahirkan dengan operasi caesar berisiko lebih tinggi mengalami nyeri hebat dan gangguan tidur pascapersalinan.
Kurang tidur berdampak buruk bagi kesehatan. Dari gangguan konsentrasi hingga risiko jantung dan diabetes. Simak penjelasan lengkapnya di sini!
Kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan isu sektoral semata, melainkan persoalan kebangsaan yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Edukasi seksual tidak perlu menunggu anak dewasa. Sebaliknya, langkah perlindungan ini justru harus dimulai sejak usia dini untuk membentengi anak dari pelecehan seksual.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved