Headline

Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.

Tragedi Siswa SD Bunuh Diri di Ngada Jadi Atensi Presiden, Pemerintah Evaluasi Masalah Bansos dan Mental Anak

Basuki Eka Purnama
05/2/2026 04:59
Tragedi Siswa SD Bunuh Diri di Ngada Jadi Atensi Presiden, Pemerintah Evaluasi Masalah Bansos dan Mental Anak
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menjawab pertanyaan wartawan dalam sesi jumpa pers di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Rabu (4/2/2026).(ANTARA/Maria Cicilia Galuh.)

KABAR duka yang menyelimuti Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), atas meninggalnya seorang siswa sekolah dasar akibat bunuh diri, sampai ke telinga Presiden Prabowo Subianto. Tragedi yang menimpa bocah dari keluarga miskin ekstrem tersebut kini menjadi atensi serius pemerintah pusat.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) sekaligus Juru Bicara Presiden, Prasetyo Hadi, menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa ini. 

Menurutnya, hilangnya nyawa seorang anak di tengah tekanan hidup adalah alarm keras bagi semua pihak.

"Kami tentunya mewakili pemerintah menyampaikan keprihatinan yang mendalam, dan kami telah berkoordinasi dengan jajaran terkait, karena bagi kami, bagi kita semua, ini adalah kejadian yang seharusnya tidak boleh terjadi," ujar Prasetyo Hadi saat ditemui di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (4/2) malam.

Langkah Koordinasi Lintas Kementerian

Menindaklanjuti arahan Presiden, Prasetyo segera melakukan koordinasi dengan beberapa menteri terkait, di antaranya Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti.

Fokus utama pemerintah adalah memberikan perlindungan kepada keluarga korban yang diketahui berada dalam kategori kemiskinan ekstrem. 

Selain itu, pemerintah juga sedang menelusuri kebenaran informasi mengenai kendala administrasi yang menyebabkan keluarga tersebut dikabarkan tidak tersentuh bantuan sosial (bansos).

"Biarlah kita tunggu dari pihak berwajib, pihak kepolisian untuk melakukan pendalaman," tegas Prasetyo mengenai isu hambatan bansos tersebut.

Pesan Terakhir di Secarik Kertas

Korban yang merupakan anak dari seorang ibu tunggal, meninggalkan sebuah surat singkat sebelum mengakhiri hidupnya. 

Dalam surat yang telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia tersebut, korban menuliskan pesan perpisahan yang menyayat hati:

"Mama saya pergi dulu. Mama relakan saya pergi. Jangan menangis ya Mama. Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya. Selamat tinggal Mama."

Keluarga korban diketahui hidup dalam kondisi serba terbatas. Ibunda korban bekerja serabutan dan bertani demi menghidupi lima orang anak, sementara korban tinggal bersama neneknya.

Urgensi Kesehatan Mental di Sekolah

Prasetyo menekankan bahwa peristiwa ini harus menjadi pelajaran untuk meningkatkan kepedulian sosial di seluruh tingkatan masyarakat. Tidak hanya faktor ekonomi, faktor lingkungan dan sekolah juga memegang peranan vital dalam menjaga kesehatan mental anak.

"Bagaimana pun selain di faktor keluarga, faktor lingkungan, juga di sekolah menjadi sangat penting, edukasi, dan terutama berkenaan dengan masalah mental adik-adik kita supaya jika mengalami sebuah tekanan, atau mengalami sebuah permasalahan untuk dapat menyampaikan kepada guru-guru mereka di sekolah," pungkasnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik