Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
BULAN Ramadan yang penuh berkah ini sebentar lagi akan meninggalkan kita. Bulan Ramadan yang penuh rahmat dan ampunan, dimana semua umat Muslim berlomba-lomba mengerjakan kebaikan, merajut kebersamaan, dan memperkuat ikatan sosial. Bulan yang menjadi momentum suci umat Muslim ini, juga kerap menjadi periode yang rawan bagi stabilitas harga pangan.
Setiap tahun, kita menyaksikan pola yang hampir serupa: harga bahan pokok melambung, daya beli masyarakat tertekan, dan spekulan pangan beraksi di balik layar. Fenomena ini bukan sekadar isu ekonomi, melainkan juga masalah sosial yang mengancam ketahanan pangan nasional. Lantas, bagaimana spekulan pangan memanfaatkan momentum Ramadan, dan langkah antisipasi apa yang harus dan telah dilakukan untuk meredam aksi mereka?
Spekulasi pangan adalah praktik menimbun atau memanipulasi pasokan bahan pokok untuk menaikkan harga secara artifisial. Pelakunya bisa oknum pedagang, tengkulak, atau bahkan jaringan terorganisir yang memanfaatkan celah dalam sistem distribusi pangan. Bulan Ramadan, dengan tingginya permintaan bahan pokok seperti beras, gula, minyak goreng, dan daging, menjadi momen 'panen' bagi spekulan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, bahwa inflasi pada bulan Ramadan 2024 mencapai 0,52%, lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Kelompok volatile food pada Maret 2024 mencatatkan inflasi sebesar 2,16% (mtm), lebih tinggi dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 1,53% (mtm). Peningkatan inflasi volatile food tersebut disumbang terutama oleh inflasi komoditas telur ayam ras, daging ayam ras, dan beras.
Fenomena ini bukanlah hal baru. Pada Ramadan 2022, Kementerian Perdagangan mencatat adanya penimbunan 500 ton gula dan 200 ton minyak goreng di beberapa wilayah di Jawa. Praktik serupa juga terjadi pada komoditas beras, di mana oknum tertentu sengaja mengurangi pasokan ke pasar untuk menciptakan kelangkaan semu.
Dampak spekulasi pangan tidak hanya dirasakan oleh konsumen, tetapi juga oleh petani dan produsen kecil. Di satu sisi, petani sering kali tidak menikmati kenaikan harga karena tengkulak telah membeli hasil panen mereka dengan harga murah. Di sisi lain, konsumen, terutama masyarakat menengah ke bawah, harus mengeluarkan anggaran lebih besar untuk memenuhi kebutuhan pokok.
Bulan Ramadan ini seharusnya menjadi momen berbagi dan memperkuat solidaritas sosial. Namun, spekulasi pangan justru menciptakan ketimpangan dan memperburuk kondisi ekonomi kelompok rentan. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mengancam ketahanan pangan nasional, terutama di tengah tantangan global seperti perubahan iklim dan ketidakstabilan geopolitik.
Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi spekulasi pangan, termasuk operasi pasar, pengawasan distribusi, dan penegakan hukum terhadap pelaku penimbunan. Upaya-upaya ini bertujuan untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pangan, terutama selama periode permintaan tinggi seperti bulan Ramadan. Namun, tantangan spekulasi pangan masih memerlukan langkah-langkah strategis yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.
Langkah pertama yang dilakukan adalah terus mendukung pasar tradisional sebagai ujung tombak distribusi pangan. Upaya ini dilakukan dengan mengurangi ketergantungan pada tengkulak, sehingga harga bahan pokok dapat lebih stabil dan terjangkau bagi masyarakat.
Kedua, pemerintah melalui Koordinator Bidang Pangan juga memastikan bahwa cadangan pangan nasional mencukupi untuk mengantisipasi lonjakan permintaan, terutama selama bulan Ramadan ini. Cadangan pangan tersebut digunakan sebagai alat untuk menstabilkan harga jika terjadi kelangkaan di pasaran. Di sisi produksi, pemerintah akan terus memberikan dukungan kepada petani dan produsen lokal melalui program bantuan benih, pupuk, dan akses pasar. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada impor.
Ketiga, koordinasi antarlembaga juga menjadi fokus pemerintah dalam mengatasi spekulasi pangan. Kementerian Koordinator Bidang Pangan bersama dengan kementerian dan lembaga terkait telah bekerja sama untuk menyusun kebijakan yang terintegrasi dan efektif.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, upaya untuk memutus mata rantai spekulasi pangan terus diintensifkan. Kementerian Koordinator Bidang Pangan berkomitmen untuk menciptakan Ramadan yang lebih berkah dengan menjamin ketersediaan dan keterjangkauan pangan bagi seluruh masyarakat.
Keempat, pemerintah terus memperkuat cadangan pangan strategis untuk mengantisipasi berbagai situasi, termasuk bencana alam atau lonjakan permintaan selama hari-hari besar keagamaan.
Hal yang tidak kalah penting adalah, meningkatkan edukasi pada masyarakat untuk menghindari panic buying dan membeli bahan pokok secukupnya. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi peluang spekulan untuk memanipulasi harga.
Bulan Ramadan ini adalah waktu untuk refleksi dan pengendalian diri. Namun, bagi spekulan pangan, ini justru jadi momen untuk mengeruk keuntungan dengan mengorbankan kepentingan banyak orang. Melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, kita dapat memutus mata rantai spekulasi pangan dan menciptakan Ramadan yang lebih berkah bagi semua.
Mari jadikan Ramadan sebagai momentum untuk memperkuat ketahanan pangan, bukan hanya bagi bulan ini, tetapi juga untuk masa depan yang lebih berkelanjutan.
KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) memastikan ketersediaan aneka cabai di Provinsi Jawa Barat dalam kondisi sangat aman untuk kebutuhan menjelang Ramadan dan Idul fitri 2026.
Pemanfaatan kacang hijau untuk mengatasi stunting dinilai sangat relevan karena aksesnya yang mudah, harga terjangkau, serta kandungan gizi yang tinggi.
Salah satu media daring yang berfokus pada pemberitaan agribisnis, yakni Panen News merayakan hari jadinya yang ke-6 dengan menggelar Panen Fest 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.
Peneliti ungkap Suku Asli Amerika telah menyebarkan kentang liar melintasi wilayah Four Corners sejak 10.000 tahun silam, jauh sebelum era pertanian dimulai.
Pemprov DKI mengalokasikan Rp6,4 triliun untuk subsidi transportasi, air, dan pangan pada 2025 demi menjaga daya beli warga.
Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa, mengingatkan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertanian, untuk berhati-hati dalam menyusun tata kelola pangan 2026.
DALAM rangka menyambut bulan suci Ramadan, Hotel Santika Premiere Bintaro menghadirkan promo spesial bertajuk Sacred Flavors of Ramadhan mulai 18 Februari hingga 19 Maret 2026.
Menjelang Ramadan, kegiatan bersih-bersih masjid mulai marak dilakukan warga untuk menyiapkan tempat ibadah yang lebih higienis dan nyaman.
SEHARI menjelang Ramadan, Pemerintah Kota Tangerang menerbitkan aturan pembatasan jam operasional rumah makan dan tempat hiburan malam selama Ramadan 1447 H/2026.
JELANG bulan suci Ramadan, jajaran Polresta Cirebon menyita ratusan botol minuman keras (miras) melalui razia penyakit masyarakat (pekat) di sejumlah wilayah.
Novotel Suites Yogyakarta Malioboro merayakan Ramadan dengan promo Triple ALL Accor Reward Points hingga 22 Maret 2026.
Pemprov DKI Jakarta menegaskan tidak akan menoleransi aksi sweeping restoran selama Ramadan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved