Kamis 29 Desember 2022, 05:00 WIB

Masa Depan Ekonomi Indonesia di Tengah Ketidakpastian

Teguh Dartanto Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia | Opini
Masa Depan Ekonomi Indonesia di Tengah Ketidakpastian

MI/Seno
Ilustrasi MI

 

ANGKA 2022 tidak lama lagi akan berganti menjadi 2023. Tambahan satu angka yang memiliki banyak makna bagi perekonomian Indonesia, di tengah ketidakpastian perekonomian dan kondisi geopolitik dunia. Dunia masih terus bergejolak dan belum ada titik terang dari pertikaian Rusia dan Ukraina. Konflik ini telah membawa tekanan pada rantai pasok dunia sehingga mendorong kenaikan harga energi dan pangan dunia yang berimbas ke seluruh dunia.

Laporan Bank Dunia tahun 2022 menunjukkan bahwa indek harga dunia naik menjadi 152 (energi), 144 (makanan), dan 220 (pupuk) (2010=100). Ketegangan antara US-Tiongkok serta peningkatan kasus covid-19 di Tiongkok semakin menambah ketidakpastian masa depan perekonomian dunia.

 

Ulasan perekonomian 2022

Dunia juga dihantui dengan adanya ancaman stagflasi, yakni terjadi inflasi tinggi dan pelambatan ekonomi. Overstimulus di masa pandemik merupakan salah satu penyebab inflasi yang tinggi di beberapa negara maju seperti Amerika, Inggris, Negara Eropa dan beberapa emerging markets. Stimulus untuk mendorong konsumsi yang tidak dibarengi dengan peningkatkan aktivitas produksi sebagai akibat disrupsi rantai pasok akibat pandemi menyebabkan excess demand dalam pasar yang menyebabkan inflasi (demand full inflation). Ketika dunia usaha merespons peningkatan permintaan, dengan merekrut karyawan baru pasca pandemi dan peningkatkan permintaan bahan baku semakin mendorong kenaikan harga dalam perekonomian (cost push inflation).

Respons negara-negara maju, seperti Amerika Serikat dengan inflasi 2022 (yoy) pada Juni sebesar 9,1%, Juli sebesar 8,5%, Agustus sebesar 8,3%, September sebesar 8,2%, Oktober sebesar 7,7% dan November sebesar 7,1% hampir seragam dalam merespons inflasi yang tinggi ini, dengan menaikkan suku bunga untuk mengurangi uang beredar sehingga inflasi dapat dikendalikan. Bank Sentral Amerika Serikat sangat agresif menaikkan suku bunga di tahun 2022 dari 0,25% ke 0,50% di Maret 2022, dari 1,5% ke 1,75% di Juni 2022, dari 3% ke 3,25% di September 2022. Dan terakhir dari 4,25% ke 4,5% di Desember 2022.

Agresivitas US Federal Reserve dalam menaikkan suku bunga sangat berpengaruh terhadap pasar keuangan dunia sehingga mendorong negara lain mau tidak mau harus melakukan penyesuaian suku bunga acuan dalam negeri merespons kenaikan suku bunga di US agar tidak terjadi capital outflow yang akan mendepresiasi mata uang mereka. Bank Indonesia tidak tinggal diam merespons kebijakan kenaikan suku bunga di Amerika Serikat, tetapi kebijakan kenaikan suku bunga acuan dalam negeri dilakukan secara bertahap, hati-hati, dan terukur sehingga dapat meminimalkan gejolak yang ada.

Bank Indonesia baru merespons kenaikan suku bunga US dengan menaikkan BI-7-day reverse repo rate (BI7DRR) sebesar 1,25% (atau 125 basis poin) dari 3,5% di bulan Juli 2022 menjadi 4,75% pada Oktober dan kemudian naik menjadi 5,25% di November 2022. Kombinasi kebijakan BI dan juga kenaikan ekspor sebagai hasil dari program hilirisasi produk pertambangan, dapat menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS meskipun terjadi depresiasi rupiah.

Kita patut bersyukur, bahwa tahun 2022 dengan kondisi ketidakpastian global dan juga gejolak di pasar keuangan, perekonomian Indonesia dapat tegak berdiri dan mampu menghadapi gejolak yang ada. Kekukuhan perekonomian Indonesia ialah buah dari good policies bauran kebijakan sektor moneter, fiskal, keuangan, kesehatan (penanganan covid-19), dan sektor riil.

Salah satu contoh good policy ialah kebijakan stabilisasi harga melalui koordinasi otoritas moneter, otoritas fiskal, kebijakan bantuan sosial, dan TPID (tim pengendali inflasi daerah) sehingga dapat mengendalikan inflasi Indonesia pada level moderat jika dibandingkan dengan inflasi negara-negara lain, yakni inflasi tertinggi di bulan September 2022 (5,95%) setelah adanya kenaikan harga BBM dan berangsur-angsur menurun, yakni inflasi di bulan November 2022 sebesar 5,42% (BPS, 2022).

Selain good policies, resiliensi perekonomian Indonesia karena adanya good luck, yaitu windfall profit, yang mengakibatkan kenaikan penerimaan negara serta rendahnya keterkaitan perekonomian Indonesia dengan global value chain. Rendahnya posisi Indonesia di global value chain, sebenarnya tidak diharapkan di masa normal, tetapi ternyata kondisi ini menolong Indonesia menjadi lebih resilien di tengah gejolak perekonomian global karena Indonesia tidak tergantung ekspor dan impor sebagai mesin pertumbuhan ekonomi. Windfall profit menyebabkan penerimaan negara sampai dengan 31 Oktober 2022 sudah mencapai 96,6% atau naik sekitar 44,5% jika dibandingkan periode yang sama di tahun 2021 (BKF, 2022).

Pada periode yang sama, pengeluaran negara baru mencapai 76% sehingga defisit anggaran baru mencapai 0,91% jauh dari target 6%. Kondisi ini memberikan fondasi yang kuat bagi pemerintah untuk menurunkan defisit anggaran sebesar maksimal 3% di tahun 2023. Windfall profit kelihatannya akan berakhir di tahun 2023 sehingga pemerintah perlu mencari sumber-sumber baru pembiyaan pembangunan di tahun 2023.

Berbagai Indikator ekonomi tahun 2022 juga menumbuhkan kepercayaan dan harapan bahwa Indonesia. Perekonomian Indonesia tumbuh 5% di TW (Triwulan) I, 5,2% di TW II, dan 5,7% di TW II dengan kontribusi utama dari konsumsi rumah tangga sebesar 4,3% di TW I, 5,5% di TW II dan 5,4% di TW III.

Pertumbuhan investasi juga cukup menggembirakan. Di tengah gejolak perekonomian global, Indonesia mampu meningkatkan realisasi investasi sebesar 42% (yoy) di TW III di mana total realisasi investasi TW III adalah sebesar Rp308 triliun, yang terdiri atas Rp169 triliun investasi asing dan sisanya Rp139 triliun investasi domestik. Komposisi investasi juga menunjukkan keseimbangan antara domestik dan asing, serta distribusi investasi juga merata di Jawa dan Luar Jawa, dan sebagian besar investasi di sektor manufaktur.

Peningkatan mobilitas penduduk sebagai akibat menurunnya angka covid-19, mendorong pertumbuhan sektor transportasi dan akomodasi, yaitu masing-masing 25,8% dan 17,8% di TW III. Kredit perbankan mengalami peningkatan di atas 5% selama tahun 2022 dan bahkan selama bulan Juni, Juli, dan Agustus 2022 mengalami pertumbuhan di atas 10%. Hal ini mengisyaratkan bahwa tidak perlu khawatir berlebihan menghadapi masa depan 2023.

 

Meneropong perekonomian 2023

Apakah nasib perekonomian Indonesia di tahun 2023 akan sebaik di tahun 2022? Masa depan penuh ketidakpastian, tetapi kita tidak perlu takut berlebihan dengan berita resesi dunia. Di sisi lain, kita juga tidak boleh jumawa dengan capaian di tahun 2022 bahwa good luck akan terus menyertai bangsa Indonesia.

Dengan melihat kondisi di tahun 2022, perekonomian Indonesia akan cukup resilien meskipun perekonomian Indonesia akan mengalami penurunan di tahun 2023. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2023 ialah 5,1% (Bank Dunia), 5,0% (ADB), 5,0% (IMF) dan 4,8% (OECD), sedangkan ramalan LPEM FEB UI menunjukkan perekonomian Indonesia akan tetap tumbuh sebesar 5-5,1%.

Apa kira-kira yang bisa mendorong perekonomian Indonesia tetap tumbuh di tahun 2023? Pertama, kekuatan konsumsi domestik, dengan jumlah penduduk sekitar 275 juta dan sebagian besar ialah kelas menengah, maka konsumsi domestik bisa menjadi mesin pertumbuhan ekonomi nasional di tengah lesunya perekonomian global. Kedua, mulai beroperasinya aktivitas produksi kegiatan-kegiatan investasi di masa pandemi.

Ketiga, kebijakan bantuan sosial untuk masyarakat miskin dan rentan, bisa mendorong aktivitas konsumsi domestik. Keempat, dana desa menjadi faktor penting penggerak ekonomi lokal (Nurlatifah dkk, 2022). Kelima, pemilu serentak di tahun 2024 akan mendorong pertumbuhan ekonomi 2023. Pemilihan Umum yang akan diselenggarakan pada Februari 2024 membutuhkan persiapan sejak tahun 2023 sehingga akan banyak sumber daya keuangan yang dikerahkan baik oleh pemerintah, kandidat presiden, calon legislatif pusat dan daerah, serta calon anggota DPD. Dartanto (2014) menunjukkan bahwa aktivitas Pemilu 2009 berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan pekerjaan.

Di tengah ketidakpastian masih ada harapan dan harapan yang akan menjadi suluh kita menjalani masa depan. Tahun 2023 sudah di depan, saatnya kita kerja keras mewujudkan harapan dan mimpi masa depan.

Baca Juga

MI/Seno

Kekerasan di Timur Tengah dan Pembakaran Al-Qur’an

👤Smith Alhadar Penasihat The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES) 🕔Selasa 31 Januari 2023, 05:15 WIB
Bagaiman pun, sikap keras Erdogan tampak bertujuan meningkatkan kartu tawar Turki terhadap...
MI/Seno

Anies dalam Relasi Kesadaran Diponegoro-Dwitunggal

👤Willy Aditya Politisi Partai NasDem 🕔Selasa 31 Januari 2023, 05:00 WIB
KATANYA, dia sengaja menata letak gambar Pangeran Diponegoro di sisi timur ruang tengah joglonya dan Soekarno-Hatta di sisi...
Dok. Pribadi

Memahami Substansi Berkesinambungan

👤Fuad Fachruddin Dewan Pengawas Yayasan Sukma, Dosen Pascasarjana FITK UIN Jakarta 🕔Senin 30 Januari 2023, 05:15 WIB
Proses perubahan tidak selamanya berjalan dengan mulus sampai akhir masa yang direncanakan sebagaimana ditegaskan Fullan (2007:...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya