Sabtu 14 Mei 2022, 05:00 WIB

Zakat dan Upaya Mengatasi Rentenir

Ariza Fuadi Dosen Ekonomi Islam Universitas Diponegoro, Mahasiswa S-3 Universitas Nagoya, Jepang, Sekretaris Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jepang | Opini
Zakat dan Upaya Mengatasi Rentenir

Dok. Pribadi

 

KETIKA saya ada di kampung, hampir tiap hari saya melihat beberapa orang asing berpenampilan rapi, silih berganti mendatangi suatu tempat dan dihampiri sekumpulan ibu rumah tangga.

Kejadian seperti ini, rutin pada hari dan jam kerja. Mereka ini adalah para rentenir, yang beraktivitas mencari dan menemui nasabah untuk menagih utang yang sudah jatuh tempo, sekaligus memberi penawaran utang yang baru. Sasarannya jelas, mayoritas adalah ibu rumah tangga di perdesaan yang pada jam-jam tersebut, suami mereka tidak sedang berada di rumah karena bekerja. Meskipun praktik rente sudah merambah dunia digital, kegiatan semacam ini masih tumbuh subur di lingkungan perdesaan hingga saat ini.

Beberapa kali saya mencoba mengulik praktik rente yang terjadi di kampung saya ini. Umumnya, mereka memang memilih jalan ini karena, di samping masalah ekonomi, kemudahan dalam transaksi yang nyaris tanpa syarat membuat mereka tergiur untuk berutang. Artinya, lembaga keuangan, baik syariah maupun konvensional, yang tersedia tidak dapat menjangkau atau tidak diminati oleh masyarakat di perdesaan. Kemungkinan lain adalah prosedur transaksi yang terlalu ribet, menyebabkan mereka tidak tertarik untuk bertransaksi di lembaga keuangan.

Memang bukan perkara mudah bagi sebuah lembaga keuangan untuk terjun di masyarakat lapisan paling bawah, dan memberikan kemudahan dalam bertransaksi. Mengingat, lembaga keuangan bukanlah pemilik modal. Namun, lebih kepada sebagai perantara modal antara pemilik modal dengan nasabah. Saya bahkan pernah melakukan pendampingan dengan menggandeng kelompok usaha bersama (KUB) di desa saya ini, untuk mengatasi rentenir. Namun, hal tersebut masih belum terlalu membuahkan hasil.

Praktik rente ini, bisa dibilang sangat agresif. Ditambah pula, dengan literasi terhadap lembaga keuangan yang memang masih sangat rendah di perdesaan. Selain itu, pada umumnya masyarakat perdesaan mengalami miopia ekonomi, yakni suatu kondisi yang tidak bisa melihat risiko jangka panjang dalam sebuah kegiatan ekonomi, dan lebih terfokus pada dampak jangka pendek sehingga bertransaksi dengan rentenir lebih dipilih karena bisa mendapatkan manfaat langsung secara tunai saat itu juga daripada bertransaksi dengan lembaga keuangan lainnya.

 

 

Optimasi peran lembaga zakat

Zakat merupakan kewajiban bagi umat Islam yang mampu menurut syariat. Selain untuk menyucikan harta benda yang dimiliki, zakat juga berfungsi untuk meningkatkan keadilan dan kesejahteraan di masyarakat agar dapat terlepas dari kemiskinan. Setiap tahun masyarakat muslim di Indonesia membayarkan zakat fitrah dan maal. Pada umumnya, mereka membayar melalui lembaga zakat, baik di tingkat masjid maupun di lembaga zakat profesional meskipun tidak sedikit pula yang membayarkannya secara langsung kepada mustahik.

Secara umum, pemanfaatan zakat masih terbatas pada kepentingan konsumtif, yakni untuk mencukupi kebutuhan harian sandang dan pangan. Namun, sifat pemenuhan kebutuhan ini hanyalah jangka pendek, yang mana tidak akan memberikan dampak signifi kan dalam pengentasan kemiskinan bagi mustahik. Oleh karena itu, banyak lembaga zakat yang berfokus pada pemanfaatan zakat dalam jangka panjang, seperti untuk pemberdayaan ekonomi kecil dan mikro bagi masyarakat kurang mampu atau gagasan-gagasan kreatif lainnya yang memiliki tujuan hampir sama sehingga tidak diragukan lagi jika lembaga-lembaga zakat profesional pada umumnya berkomitmen dalam memberikan manfaat kepada masyarakat pra sejahtera dengan berbagai programnya.

Akan tetapi, program-program tersebut bisa dibilang belum bisa maksimal dalam mengatasi jerat rentenir di masyarakat, terutama di lingkungan masyarakat perdesaan. Gerakan rentenir yang masif dan persuasif, salah satunya, menyebabkan masyarakat terus digempur dengan berbagai kesempatan memperoleh pinjaman yang mudah dan cepat meskipun berisiko tinggi. Di samping itu, program-program pemberdayaan yang digulirkan oleh lembaga zakat, cenderung tidak begitu dilirik oleh masyarakat. Hal ini disebabkan umumnya program tersebut tidak berimbas kepada masyarakat secara langsung yang dapat dikonsumsi pada hari itu juga.

Oleh karena itu, perlu adanya program kemandirian atau pendampingan yang sifatnya selain konsumtif, tetapi juga produktif edukatif untuk mengoptimalkan peran dan fungsi lembaga zakat di masyarakat perdesaan, terutama dalam mengatasi rentenir. Suatu program yang dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat, tanpa proses rumit dan juga berjangka panjang. Di satu sisi, lembaga zakat harus terus melakukan pendampingan yang dapat menyadarkan akan bahayanya rentenir sehingga jebakan rentenir di masyarakat dapat dihindarkan.

Bahkan, untuk mengimbangi masif dan persuasifnya gerak an rentenir, lembaga zakat harus mampu mengikuti pola yang dilakukan rentenir. Pola kerja rentenir perlu diadaptasi, seperti dengan memberikan kemudahan transaksi dan administrasi yang diberikan. Lembaga zakat harus berperan sebagai lembaga keuangan formal, dengan memberikan pinjaman lunak kepada masyarakat dari dana zakat. Pemberian pinjaman ini tentu hanyalah strategi untuk menyalurkan zakat dengan tujuan untuk kemandirian umat. Artinya, penawaran pinjaman yang dilakukan merupakan dana tabarru’ atau kebajikan untuk menolong sehingga tidak menggunakan sistem bunga atau digantikan dengan membayar biaya jasa administrasi yang ringan sebagai bentuk tanggung jawab peminjam.

Selain itu, kelompok mustahik perlu dibentuk, sebagai sarana untuk saling menjamin, mengontrol, dan mengevaluasi antaranggota dalam meminimalisasi risiko kredit macet. Jika dana tersebut tidak kembali pun, tidak jadi soal karena sebenarnya memang tujuannya adalah untuk disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan. Akan tetapi, tujuan untuk memperoleh kemandirian umat tidak akan tercapai jika masyarakat tidak diberi tanggung jawab dalam mengelola utang mereka karena tujuan dari pola dan program itu adalah untuk dapat meningkatkan kemandirian umat agar masyarakat berpenghasilan rendah tidak selamanya menjadi mustahik atau penerima zakat.

Ketika program seperti ini dilakukan secara masif dan persuasif di lingkungan masyarakat perdesaan, tentu akan menjadi daya tarik bagi masyarakat. Dengan sendirinya, eksistensi rentenir akan terpinggirkan karena masyarakat akan memilih mengajukan kredit dari lembaga keuangan yang dikelola oleh lembaga zakat. Karena itu, rentenir tidak akan punya pasar yang menerima keberadaan mereka. Mengingat, posisi mereka tergeser oleh eksistensi lembaga zakat yang melayani masyarakat dengan mudah dan ringan.

Dengan sistem ini, mindset masyarakat di perdesaan, bahwa meminjam uang di lembaga keuangan formal tentu tidak akan mengarah pada sulitnya mengajukan pinjaman untuk kepentingan modal maupun konsumtif. Pada saat mindset masyarakat terbangun untuk menerima program ini, tentu merupakan kesempatan yang sangat berharga untuk kemudian mendampingi mereka agar lebih mandiri dengan program k emandirian lainnya sehingga masyarakat dapat dilepaskan dari jeratan rentenir secara menyeluruh ketika perekonomian mereka meningkat. Selain itu, ajaran agama tentang haramnya bertransaksi dengan sistem rente ini juga haruslah menjadi perhatian tersendiri agar masyarakat juga terbentengi dengan keyakinan pemahaman agama yang benar. Kolaborasi dan koordinasi

Tentunya, strategi yang ditawarkan dalam menanggulangi rentenir ini tidak akan dengan mudah tercapai, jika tidak ada kolaborasi yang menyeluruh antara pemerintah, lembaga zakat, dan tokoh agama dan masyarakat setempat sehingga perlu diawali dengan pendekatan yang persuasif kepada semua pihak terkait. Karena, para pelaku rente tidak akan tinggal diam jika lahan bisnisnya diganggu.

Dalam pandangan Thomas Hobbes, secara naluriah manusia merupakan makhluk yang berpotensi berperilaku barbar dan saling memakan sesamanya, jika apa yang menjadi hak atau wilayah kekuasaannya terganggu oleh pihak luar. Oleh karena itu, dukungan aparatur pemerintah, dalam hal ini pejabat di tingkat desa, atau bahkan dari unsur kepolisian juga turut berperan aktif untuk mencegah tindakan yang membahayakan bagi masyarakat, terutama para amil yang bergerak dalam program ini.

Di samping itu, lembaga zakat juga harus peka terhadap para korban yang sudah terlanjur terjerat jebakan rentenir. Perlu penyelamatan secepatnya untuk menghindari risiko yang jauh lebih berbahaya, seperti semakin meningkatnya jumlah utang atau bahkan risiko kriminal lainnya. Tidak sedikit berita mengenai kasus penganiayaan, bunuh diri atau pembunuhan karena terlilit utang rentenir. Oleh karena itu, lembaga zakat harus berkoordinasi dengan masyarakat bawah, untuk memastikan para korban rentenir ini terselamatkan dari risiko yang tidak diharapkan.

Beberapa tahun silam, saya pernah membaca postingan sebuah lembaga sosial yang memberikan shock therapy kepada pelaku rente untuk menyelamatkan salah seorang korbannya. Mereka mendatangi rentenir ini dengan membawa mobil jenazah, dan melunasi utang korban rentenir. Hal ini, cukup berhasil di samping utang si korban lunas, para rentenir tersebut tidak berani mengulangi praktiknya, setidaknya terhadap korban sehingga kolaborasi dan koordinasi menjadi modal utama dalam upaya menyelamatkan para korban dari jeratan rentenir.

Dengan demikian, upaya dalam pemberantasan rentenir harus terus digaungkan oleh lembaga zakat, dengan menggandeng berbagai pihak. Pendampingan terhadap literasi keuangan, dan kesadaran teologis tentang keharaman praktik rentenir harus terus dilakukan. Diharapkan, praktik rente seperti ini tidak terjadi lagi di masa depan, dengan konsistensinya lembaga zakat, dan pihak terkait, dalam mengatasi rentenir terutama di masyarakat di perdesaan.

Baca Juga

MI/RAMDANI

Demokrasi dan Pendidikan Politik

👤IGK Manila Gubernur Akademi Bela Negara (ABN) Partai NasDem 🕔Selasa 24 Mei 2022, 05:05 WIB
PESTA politik 2024 masih kurang lebih dua tahun lagi. Namun, ingar bingar di baik lingkungan partai politik maupun masyarakat luas sudah...
MI/Seno

Mewaspadai Tekanan Stagflasi Global

👤Ryan Kiryanto Ekonom dan Staf Ahli Otoritas Jasa Keuangan 🕔Selasa 24 Mei 2022, 05:00 WIB
Pandemi covid-19 dan perang Rusia-Ukraina menambah masalah, menyebabkan inflasi lebih tinggi, dan memperlambat pertumbuhan...
Dok pribadi

Wacana Normalisasi Kebangsaan

👤Wahyu Harjanto, Peneliti di Mindset Institute, Yogyakarta 🕔Senin 23 Mei 2022, 14:35 WIB
sikap para pengguna pesawat di YIA (Yogya International Airport) yang tidak responsif saat lagu kebangsaan Indonesia Raya...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya