Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

AidData Ungkap Dominasi Finansial Tiongkok Berikan Utang di Negara-Negara Maju

Ferdian Ananda Majni
20/11/2025 11:35
AidData Ungkap Dominasi Finansial Tiongkok Berikan Utang di Negara-Negara Maju
Presiden Tiongkok Xi Jinping(Pedro PARDO / AFP)

TIONGKOK mengalihkan fokus pendanaan globalnya, dengan lebih dari tiga perempat kredit atau utang ke negara-negara barat berpendapatan menengah atas dan tinggi misalnya Amerika Serikat. Amerika Serikat tercatat sebagai penerima pinjaman terbesar, memperoleh lebih dari US$200 miliar atau Rp3,3 triliun untuk hampir 2.500 proyek, mulai dari jaringan pipa dan infrastruktur logistik hingga pusat data serta fasilitas kredit bagi korporasi besar. Hampir seluruh wilayah AS kini memiliki jejak pembiayaan resmi dari Beijing.

Sejumlah negara Eropa turut menjadi sasaran utama pembiayaan Tiongkok. Uni Eropa menerima US$161 miliar untuk hampir 1.800 proyek, sementara Inggris mendapatkan US$60 miliar. Jerman memperoleh US$33,4 miliar, Prancis US$21,3 miliar, Italia US$17,4 miliar, Portugal $11,7 miliar dan Belanda US$11,6 miliar. 

Temuan tersebut memperlihatkan betapa dalamnya keterlibatan keuangan Beijing di ekonomi negara-negara Barat. Pinjaman Tiongkok jauh lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya

Temuan ini dirilis oleh laboratorium riset AidData William & Mary pada 18 November. Laporan setebal lebih dari 300 halaman yang disusun selama tiga tahun itu mencatat bahwa Tiongkok menyalurkan bantuan dan kredit senilai US$2,2 triliun ke 200 negara sejak tahun 2000 hingga 2023. 

Diirektur eksekutif AidData sekaligus penulis utama laporan Mengejar Tiongkok, Belajar Bermain dengan Aturan Pinjaman Global Beijing, Brad Parks, menyebut portofolio tersebut dua hingga empat kali lebih besar dari perkiraan publik sebelumnya. 

Untuk pertama kalinya, AidData memetakan secara rinci pinjaman Beijing di negara-negara maju seperti AS, Inggris, kawasan Eropa, Jepang, dan Australia. Dari penyedia bantuan menjadi pemain kekuatan geopolitik

Laporan itu mengungkap pergeseran signifikan dari pola lama bantuan pembangunan menuju strategi pembiayaan yang lebih selaras dengan kepentingan nasional Tiongkok. Pendanaan lintas batas kini diarahkan untuk mendukung prioritas inti negara, seperti

1. Keamanan nasional
2. Strategi ekonomi negara
3. Penguatan posisi dalam rantai pasokan global
4. Dominasi industri teknologi tinggi

Pinjaman ke negara-negara maju sebagian besar tertuju pada infrastruktur kritis, mineral strategis, serta aset teknologi tinggi, termasuk perusahaan semikonduktor.

AidData memperingatkan bahwa operasi keuangan Tiongkok semakin sulit dilacak karena banyak transaksi disalurkan melalui perusahaan cangkang di negara dengan regulasi kerahasiaan ketat. Situasi ini menimbulkan berbagai risiko strategis, seperti :

1. Kerentanan cadangan dan sumber daya penting
2. Keamanan jaringan energi dan listrik
3. Pengendalian jalur maritim utama
4. Stabilitas rantai pasokan global
5. Persaingan dalam industri teknologi tinggi

Laporan tersebut menegaskan bahwa rivalitas negara adidaya kini merambah sektor pembiayaan pembangunan.

Entitas Barat berbisnis dengan Tiongkok

Meski ketegangan geopolitik meningkat, bank, perusahaan besar, dan lembaga keuangan Barat tetap menjalin hubungan bisnis dengan pemberi pinjaman milik negara Tiongkok. Banyak korporasi ternama di Barat yang masih mengandalkan pendanaan dari institusi keuangan yang didukung Beijing. (Livemint/H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya