Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
MOODY'S Investors Service menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, tetapi tetap mempertahankan peringkat kredit di level Baa2. Menanggapi keputusan tersebut, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan tidak ada alasan untuk khawatir, khususnya terkait kemampuan pembayaran utang negara.
Ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Kemampuan dan komitmen pemerintah dalam memenuhi kewajiban utang tetap terjaga.
Penilaian Moody's berfokus pada dua aspek utama, yakni kemampuan membayar utang (ability to pay) dan kemauan membayar utang (willingness to pay). Kemampuan membayar utang dinilai dari pertumbuhan ekonomi, penerimaan negara, defisit, dan rasio utang.
Sementara itu, kemauan membayar utang dilihat dari kebijakan pemerintah serta disiplin fiskal yang dijalankan. Oleh karena itu, Purbaya menilai hal tersebut tidak menjadi persoalan besar.
Berdasarkan laporan Juli 2025, utang pemerintah yang jatuh tempo pada 2026 diproyeksikan mencapai Rp833,96 triliun, meningkat dari sekitar Rp800 triliun pada 2025. Meski demikian, Purbaya menegaskan pemerintah tidak menghadapi kendala dalam memenuhi kewajiban tersebut.
"Enggak ada alasan ketakutan kita enggak bisa bayar atau kita enggak mau bayar utang," ujarnya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (6/2).
Menkeu mengeklaim kondisi ekonomi nasional menunjukkan perbaikan dan berbalik arah lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Ke depan, ia optimistis Moody's akan melihat perkembangan ekonomi Indonesia secara lebih objektif. Ini seiring kondisi ekonomi national yang akan terus membaik.
"Ya, biar saja seperti itu (penilaian Moody's). Yang penting ekonomi kita sudah berbalik arah, lebih cepat daripada sebelumnya," sesumbarnya.
"Ke depan akan membaik juga, lebih bagus lagi saya pikir, pertumbuhan ekonomi akan lebih cepat. Nanti saya pikir pelan-pelan Moody's akan melihat apa yang terjadi di sini dengan lebih fair," sambungnya.
Meski terdapat sejumlah program yang masih diragukan oleh penilaian Moody's, Menkeu meyakini perekonomian Indonesia tetap akan tumbuh lebih baik. Menurut menkeu, kekhawatiran berlebihan hanya muncul bagi pihak-pihak yang bersikap terlalu takut.
Sorotan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu bagian dari penilaian Moody's mengenai konsistensi kebijakan dalam setahun terakhir
Purbaya melanjutkan, selama fondasi ekonomi Indonesia terus membaik, arah perbaikan tersebut akan terlihat jelas. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Indonesia mencatat pertumbuhan sebesar 5,11% sepanjang 2025, lebih tinggi dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang hanya 5,03%. Dari sisi fiskal, defisit juga masih terkendali dan relatif lebih baik.
"Walaupun ada program yang mereka ragukan, ekonomi akan tumbuh lebih cepat. Pelan-pelan nanti keraguannya akan hilang lagi," katanya.
"Jadi, tidak perlu khawatir. Kalau orang yang penakut ya akan takut," tegasnya.
Ia menilai kondisi ekonomi Indonesia dibandingkan banyak negara lain masih relatif lebih baik, sehingga alasan penurunan outlook dinilai tidak terlalu kuat.
Bahkan, Menkeu menilai ke depan terdapat peluang peningkatan peringkat kredit, kemungkinan setelah akhir tahun, apabila pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 6% atau lebih. "Jadi, saya akan fokus memperbaiki fundamental ekonomi saja," tegas bendahara negara.
Ia juga memastikan pemerintah akan menjaga agar perekonomian bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Program MBG diharapkan akan berjalan tepat sasaran, efektif, dan efisien.
Menkeu juga menekankan pentingnya mencegah pemborosan anggaran yang tidak terkontrol, termasuk dalam belanja kementerian dan lembaga, sebagaimana menjadi perhatian DPR.
"Ya, pasti kita akan memastikan ekonomi berjalan lebih cepat dari sebelumnya. Program MBG kita pastikan berjalan tempat sasaran, efektif dan efisien. Jangan sampai ada pemborosan yang tidak terkontrol di sana. Itu mungkin mudah juga khawatir di situ," pungkasnya. (I-2)
Memasuki Juni 2025, rasio utang naik tipis menjadi 39,86 persen, dengan komposisi pinjaman Rp1.157,18 triliun dan SBN Rp7.980,87 triliun.
CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menegaskan pentingnya pembenahan kelembagaan dan konsistensi kebijakan pemerintah dalam melanjutkan agenda pembangunan nasional.
LEMBAGA pemeringkat Moody's mempertahankan sovereign credit rating Republik Indonesia pada Baa2 dan melakukan penyesuaian outlook menjadi negatif pada 5 Februari 2026.
OJK menilai ekonomi Indonesia tetap solid seiring keputusan Moody's yang mempertahankan Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada level Baa2 dengan penyesuaian outlook.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved